alexametrics
25.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Tiga “Makhluk Halus” Diambil dari Bawang Merah, Tahi Sapi, dan Ayam

Ada banyak mikroba di dunia ini. Termasuk mikroba yang ada di Bali. Dari sekian banyak mikroba, I Nengah Muliarta mengambil tiga mikroba yang menurutnya sebagai komposisi yang baik dala dekomposer jerami.

 

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Denpasar

 

TIDAK sulit menemukan mikroba di Bali. Ada banyak mikroba di lingkungan kita. I Nengah Muliarta dalam pembuatan dekomposer jerami, memilih tiga mikroba sebagai kombinasi yang menurutnya untuk saat ini paling yahud.  

 

Dekomposer itu adalah Pseudomonas flourescens diisolasi (diambil, Red) dari rhizosphere bawang merah yang ditanam di Bali, Trichoderma hazianum diisolasi dari kotoran atau tahi sapi Bali dan Aspergilus niger diisolasi dari kotoran ayam Bali.

 

Dalam penelitiannya untuk membuat komposisi dekomposer ini, Muliarta mengawali dengan melakukan seleksi terhadap enam komposisi dekomposer lokal. Seleksi dilakukan dengan mengimplementasikan kombinasi dekomposer pada 100 gram jerami padi yang dicacah dengan ukuran 2-5 cm dan dikomposkan dengan waktu 3 minggu. 

Baca Juga:  Waspada, Diguyur Hujan Lebat, Penyengker Balai Lingkungan Ambrol

 

Komposisi dekomposer lokal yang memiliki laju pengomposan paling tinggi dipilih untuk digunakan sebagai bahan penelitian dan untuk dibandingkan kemampuan dekomposisinya dengan dekomposer komersial. Pada akhirnya komposisi Pseudomonas flourescens, Tricodema hazianum dan Aspergilus niger menjadi salah satu mikroba perombak dengan laju pengomposan tertinggi.

 

“Hasil uji eksperimen komposisi dekomposer lokal Bali pada jerami padi menghasilkan kompos jerami padi dengan kualitas sesuai standar SNI. Komposisi mikroba ini memberikan kematangan kompos dengan rasio C/N mencapai 14,80,” jelas pria yang mantan wartawan VoA Suara Amerika tersebut. 

 

Muliarta berharap kombinasi mikroba lokal Bali ini dapat menjadi salah satu solusi dalam penanganan limbah Jerami padi di Bali. Jerami padi masih dipandang sebagai sisa tanaman yang mengganggu proses pengolahan tanah pada sistem usaha tani yang intensif.

 

Dampaknya petani cenderung membakar jerami padi setelah proses panen. Pembakaran jerami akan berdampak pada matinya  mikroba yang berguna dalam proses biologis, seperti perombak bahan organik, pengikat nitrogen, dan mikroba yang memiliki fungsi biologis lain.

Baca Juga:  Konflik Mereda, Bupati Mahayastra Ajak Gabung Jadi Desa Adat Pakudui

 

Jerami padi merupakan potensi bahan baku lokal yang dapat diperoleh dengan mudah. Pemanfaatan jerami dalam kaitannya untuk menyediakan hara dan bahan organik tanah dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi kompos.

 

Proses pengomposan sangat tergantung kepada aktivitas mikroorganisme dekomposer. Jerami padi merupakan salah satu bahan lignoselulosa yang tersedia melimpah di dunia.

 

Ia menambahkan kombinasi mikroba yang ditemukan diharapkan juga dapat membantu mewujudkan pertanian organik di Bali. Dengan adanya dekompeoser lokal yang dapat mempercepat pengomposan maka produksi kompos juga menjadi semakin cepat. Sehingga kebutuhan kompos untuk mewujudkan pertanian organic di Bali dapat terpenuhi.

 

“Kombinasi ini kan baru prototipe sehingga masih perlu proses panjang lagi agar dapat dimanfaatkan oleh petani. Perlu pengujian panjang hingga pengemasan menjadi sebuah produk,” tegas lelaki yang juga ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI Bali) ini. (habis)


Ada banyak mikroba di dunia ini. Termasuk mikroba yang ada di Bali. Dari sekian banyak mikroba, I Nengah Muliarta mengambil tiga mikroba yang menurutnya sebagai komposisi yang baik dala dekomposer jerami.

 

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Denpasar

 

TIDAK sulit menemukan mikroba di Bali. Ada banyak mikroba di lingkungan kita. I Nengah Muliarta dalam pembuatan dekomposer jerami, memilih tiga mikroba sebagai kombinasi yang menurutnya untuk saat ini paling yahud.  

 

Dekomposer itu adalah Pseudomonas flourescens diisolasi (diambil, Red) dari rhizosphere bawang merah yang ditanam di Bali, Trichoderma hazianum diisolasi dari kotoran atau tahi sapi Bali dan Aspergilus niger diisolasi dari kotoran ayam Bali.

 

Dalam penelitiannya untuk membuat komposisi dekomposer ini, Muliarta mengawali dengan melakukan seleksi terhadap enam komposisi dekomposer lokal. Seleksi dilakukan dengan mengimplementasikan kombinasi dekomposer pada 100 gram jerami padi yang dicacah dengan ukuran 2-5 cm dan dikomposkan dengan waktu 3 minggu. 

Baca Juga:  Minim Permintaan, PD Pasar Mangu Giri Sedana Tak Pasok Bawang & Cabai

 

Komposisi dekomposer lokal yang memiliki laju pengomposan paling tinggi dipilih untuk digunakan sebagai bahan penelitian dan untuk dibandingkan kemampuan dekomposisinya dengan dekomposer komersial. Pada akhirnya komposisi Pseudomonas flourescens, Tricodema hazianum dan Aspergilus niger menjadi salah satu mikroba perombak dengan laju pengomposan tertinggi.

 

“Hasil uji eksperimen komposisi dekomposer lokal Bali pada jerami padi menghasilkan kompos jerami padi dengan kualitas sesuai standar SNI. Komposisi mikroba ini memberikan kematangan kompos dengan rasio C/N mencapai 14,80,” jelas pria yang mantan wartawan VoA Suara Amerika tersebut. 

 

Muliarta berharap kombinasi mikroba lokal Bali ini dapat menjadi salah satu solusi dalam penanganan limbah Jerami padi di Bali. Jerami padi masih dipandang sebagai sisa tanaman yang mengganggu proses pengolahan tanah pada sistem usaha tani yang intensif.

 

Dampaknya petani cenderung membakar jerami padi setelah proses panen. Pembakaran jerami akan berdampak pada matinya  mikroba yang berguna dalam proses biologis, seperti perombak bahan organik, pengikat nitrogen, dan mikroba yang memiliki fungsi biologis lain.

Baca Juga:  Waspada, Diguyur Hujan Lebat, Penyengker Balai Lingkungan Ambrol

 

Jerami padi merupakan potensi bahan baku lokal yang dapat diperoleh dengan mudah. Pemanfaatan jerami dalam kaitannya untuk menyediakan hara dan bahan organik tanah dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi kompos.

 

Proses pengomposan sangat tergantung kepada aktivitas mikroorganisme dekomposer. Jerami padi merupakan salah satu bahan lignoselulosa yang tersedia melimpah di dunia.

 

Ia menambahkan kombinasi mikroba yang ditemukan diharapkan juga dapat membantu mewujudkan pertanian organik di Bali. Dengan adanya dekompeoser lokal yang dapat mempercepat pengomposan maka produksi kompos juga menjadi semakin cepat. Sehingga kebutuhan kompos untuk mewujudkan pertanian organic di Bali dapat terpenuhi.

 

“Kombinasi ini kan baru prototipe sehingga masih perlu proses panjang lagi agar dapat dimanfaatkan oleh petani. Perlu pengujian panjang hingga pengemasan menjadi sebuah produk,” tegas lelaki yang juga ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI Bali) ini. (habis)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/