alexametrics
30.4 C
Denpasar
Monday, May 23, 2022

Vaksinasi Anak, Cegah Anak Jadi Sumber Penularan

JAKARTA, radarbali.idProgram vaksinasi bagi anak usia 6-11 tahun berjalan secara bertahap. Selain melindungi anak itu sendiri, vaksinasi anak juga turut mencegah penularan kepada anggota keluarga. Namun, lebih dari itu, cakupan vaksinasi anak akan mendorong terciptanya herd immunity yang diharapkan bisa membentengi masyarakat dari transmisi virus dan akibat yang lebih buruk.

 

Dokter spesialis anak sekaligus anggota Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia KOMDA KIPI, Mei Neni Sitaresmi mengatakan, anak-anak perlu mendapatkan vaksinasi karena sampai saat ini tercatat 10-12 persen populasi yang terkena Covid-19 di rentang usia ini. Angka tersebut artinya, lebih dari setengah juta anak terinfeksi. “Dan kalau kita lihat jumlah kematiannya, sampai saat ini mencapai lebih dari 1.000. Itu bukan jumlah yang sedikit,” tegas Mei dalam Siaran Pers dari Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) – KPCPEN, Jumat (24/12/2021).

 

Masuknya varian Omicron yang sangat mudah menular di Indonesia, kata Mei, menjadikan semua pihak harus lebih berhati-hati. “Kita sangat khawatir karena anak-anak lebih rentan terhadap varian ini,” imbuhnya.

 

Mei juga mengingatkan, perlunya orang tua selalu mendampingi, karena hal ini bukan hanya masalah kesehatan fisik, namun juga dapat menimbulkan trauma bagi anak. Anak dikatakan Mei harus mendapatkan perlindungan, karena mereka memiliki hak untuk hidup dan bertumbuh kembang. 

- Advertisement -

 

Selain melindungi anak, vaksin tersebut juga memberikan perlindungan bagi orang-orang di sekitarnya. “Gejala pada anak memang ringan, tapi harus diingat bahwa mereka bisa menjadi sumber penularan bagi sekitarnya, terutama ya karena suatu sebab belum bisa divaksinasi,” tutur Mei.

Baca Juga:  PPKM Level 3 Dibatalkan, Satgas Percepat Vaksinasi Anak-anak

 

Sebagai contoh, katanya, balita dan lansia dengan komorbid tidak stabil. Karena anak-anak lebih mudah dijangkau, ujarnya, diharapkan cakupan vaksinasinya dapat mendorong segera tercapainya herd immunity dan pencegahan penularan lebih optimal. “Cakupan vaksin yang tinggi juga akan menunda terjadinya mutasi pada virus,” tambah Mei.

 

Terkait dimulainya PTM, Mei mengingatkan, bila diselenggarakan tanpa vaksinasi, dikhawatirkan akan terjadi klaster di sekolah dan hal ini harus dicegah. Berbeda dengan imunitas yang didapatkan dari infeksi alami, Mei menjelaskan bahwa vaksinasi lebih terukur dosisnya, jadwal pemberian dan sasarannya juga telah ditentukan.

 

Sedangkan pada infeksi alami, ia katakan, virus tidak terkontrol dan tidak memilih target. “Gejala juga lebih bervariasi dan cukup banyak yang menyebabkan kematian.” Vaksin Covid-19 yang digunakan untuk anak 6-11 tahun saat ini yakni Sinovac, dia tegaskan aman dan terbukti bisa mencegah sakit berat. 

 

Vaksin ini sudah melalui uji klinis, direkomendasikan oleh BPOM, ITAGI, IDAI, serta dinyatakan halal oleh MUI. Vaksin Sinovac untuk anak 6-11 tahun bisa diberikan di sekolah atau di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes). 

 

Karena sejumlah daerah sedang melakukan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), kata Mei, perlu diperhatikan untuk berikan jarak minimal 14 hari antara pemberian vaksin Covid-19 dan vaksin lain. Terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Mei menyebutkan bahwa yang akan dirasakan cenderung ringan seperti halnya imunisasi anak yang lain, seperti bengkak di lokasi suntikan, nyeri otot, anak mungkin juga merasa lemah.

Baca Juga:  Ngebut! Vaksinasi Anak di Badung Tembus 91,4 Persen

 

Ia menyarankan anak untuk istirahat dan minum yang cukup, serta diberikan paracetamol bila diperlukan. Namun ia mengingatkan untuk tidak memberikan obat sebelum penyuntikan vaksinasi, hal ini karena tidak semua anak menjadi demam, serta ada kemungkinan obat mengurangi efikasi vaksin. 

 

Mei juga menjelaskan, tidak semua KIPI adalah reaksi vaksin. Terdapat kemungkinan muncul reaksi karena anak ketakutan atau stres karena disuntik. “Jadi penting sekali orang tua untuk mempersiapkan. Jangan ditakut-takuti,” tuturnya.

 

Kepada orang tua, Mei juga meminta untuk menjawab jujur pada saat skrining kesehatan anak. “Kalau ragu-ragu, konsul dulu kepada dokter. Anak dengan kondisi khusus justru risiko lebih tinggi saat terinfeksi,” ujarnya. 

 

Memastikan anak dalam kondisi sehat sebelum divaksin juga penting. “Bila anak habis kontak erat (dengan kasus Covid-19), isolasi dulu 14 hari,” tegas Mei seraya menambahkan untuk memberikan waktu tunggu 15 menit setelah disuntik vaksin, untuk memantau kondisi anak.

 

Tak lupa, dokter spesialis anak ini mengingatkan agar masyarakat mencari sumber informasi terpercaya atau dari organisasi resmi. “Bapak Ibu yang punya anak-anak, jangan hanya vaksinasi Covid-19, tapi vaksinasi dasar lengkap perlu diberikan untuk anak, apalagi saat ini ada wabah difteri. Mari kita dukung pemberian vaksinasi pada anak yang sudah memenuhi syarat,” pungkasnya. (rba)

- Advertisement -

JAKARTA, radarbali.idProgram vaksinasi bagi anak usia 6-11 tahun berjalan secara bertahap. Selain melindungi anak itu sendiri, vaksinasi anak juga turut mencegah penularan kepada anggota keluarga. Namun, lebih dari itu, cakupan vaksinasi anak akan mendorong terciptanya herd immunity yang diharapkan bisa membentengi masyarakat dari transmisi virus dan akibat yang lebih buruk.

 

Dokter spesialis anak sekaligus anggota Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia KOMDA KIPI, Mei Neni Sitaresmi mengatakan, anak-anak perlu mendapatkan vaksinasi karena sampai saat ini tercatat 10-12 persen populasi yang terkena Covid-19 di rentang usia ini. Angka tersebut artinya, lebih dari setengah juta anak terinfeksi. “Dan kalau kita lihat jumlah kematiannya, sampai saat ini mencapai lebih dari 1.000. Itu bukan jumlah yang sedikit,” tegas Mei dalam Siaran Pers dari Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) – KPCPEN, Jumat (24/12/2021).

 

Masuknya varian Omicron yang sangat mudah menular di Indonesia, kata Mei, menjadikan semua pihak harus lebih berhati-hati. “Kita sangat khawatir karena anak-anak lebih rentan terhadap varian ini,” imbuhnya.

 

Mei juga mengingatkan, perlunya orang tua selalu mendampingi, karena hal ini bukan hanya masalah kesehatan fisik, namun juga dapat menimbulkan trauma bagi anak. Anak dikatakan Mei harus mendapatkan perlindungan, karena mereka memiliki hak untuk hidup dan bertumbuh kembang. 

 

Selain melindungi anak, vaksin tersebut juga memberikan perlindungan bagi orang-orang di sekitarnya. “Gejala pada anak memang ringan, tapi harus diingat bahwa mereka bisa menjadi sumber penularan bagi sekitarnya, terutama ya karena suatu sebab belum bisa divaksinasi,” tutur Mei.

Baca Juga:  Masih Temukan Siswa Abaikan Prokes, Minta Wali Murid Ikut Awasi Anak

 

Sebagai contoh, katanya, balita dan lansia dengan komorbid tidak stabil. Karena anak-anak lebih mudah dijangkau, ujarnya, diharapkan cakupan vaksinasinya dapat mendorong segera tercapainya herd immunity dan pencegahan penularan lebih optimal. “Cakupan vaksin yang tinggi juga akan menunda terjadinya mutasi pada virus,” tambah Mei.

 

Terkait dimulainya PTM, Mei mengingatkan, bila diselenggarakan tanpa vaksinasi, dikhawatirkan akan terjadi klaster di sekolah dan hal ini harus dicegah. Berbeda dengan imunitas yang didapatkan dari infeksi alami, Mei menjelaskan bahwa vaksinasi lebih terukur dosisnya, jadwal pemberian dan sasarannya juga telah ditentukan.

 

Sedangkan pada infeksi alami, ia katakan, virus tidak terkontrol dan tidak memilih target. “Gejala juga lebih bervariasi dan cukup banyak yang menyebabkan kematian.” Vaksin Covid-19 yang digunakan untuk anak 6-11 tahun saat ini yakni Sinovac, dia tegaskan aman dan terbukti bisa mencegah sakit berat. 

 

Vaksin ini sudah melalui uji klinis, direkomendasikan oleh BPOM, ITAGI, IDAI, serta dinyatakan halal oleh MUI. Vaksin Sinovac untuk anak 6-11 tahun bisa diberikan di sekolah atau di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes). 

 

Karena sejumlah daerah sedang melakukan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), kata Mei, perlu diperhatikan untuk berikan jarak minimal 14 hari antara pemberian vaksin Covid-19 dan vaksin lain. Terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Mei menyebutkan bahwa yang akan dirasakan cenderung ringan seperti halnya imunisasi anak yang lain, seperti bengkak di lokasi suntikan, nyeri otot, anak mungkin juga merasa lemah.

Baca Juga:  Buleleng Zona Kuning, Disdikpora Segera Ajukan Izin Buka Sekolah

 

Ia menyarankan anak untuk istirahat dan minum yang cukup, serta diberikan paracetamol bila diperlukan. Namun ia mengingatkan untuk tidak memberikan obat sebelum penyuntikan vaksinasi, hal ini karena tidak semua anak menjadi demam, serta ada kemungkinan obat mengurangi efikasi vaksin. 

 

Mei juga menjelaskan, tidak semua KIPI adalah reaksi vaksin. Terdapat kemungkinan muncul reaksi karena anak ketakutan atau stres karena disuntik. “Jadi penting sekali orang tua untuk mempersiapkan. Jangan ditakut-takuti,” tuturnya.

 

Kepada orang tua, Mei juga meminta untuk menjawab jujur pada saat skrining kesehatan anak. “Kalau ragu-ragu, konsul dulu kepada dokter. Anak dengan kondisi khusus justru risiko lebih tinggi saat terinfeksi,” ujarnya. 

 

Memastikan anak dalam kondisi sehat sebelum divaksin juga penting. “Bila anak habis kontak erat (dengan kasus Covid-19), isolasi dulu 14 hari,” tegas Mei seraya menambahkan untuk memberikan waktu tunggu 15 menit setelah disuntik vaksin, untuk memantau kondisi anak.

 

Tak lupa, dokter spesialis anak ini mengingatkan agar masyarakat mencari sumber informasi terpercaya atau dari organisasi resmi. “Bapak Ibu yang punya anak-anak, jangan hanya vaksinasi Covid-19, tapi vaksinasi dasar lengkap perlu diberikan untuk anak, apalagi saat ini ada wabah difteri. Mari kita dukung pemberian vaksinasi pada anak yang sudah memenuhi syarat,” pungkasnya. (rba)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/