alexametrics
25.4 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Parah! Dapat Hibah Pariwisata Rp 2 Ribu, Tapi Biaya Materai Rp 6 Ribu

GIANYAR– Hibah pariwisata yang sebelumnya telah dijanjikan pemerintah pusat kepada sejumlah wajib pajak atau pelaku usaha pariwisata di Gianyar berbuah kekecewaan.

 

Banyak wajib pajak yang ‘kecewa’ dan memilih untuk tidak menerima atau mengurus dana hibah.

Sisanya lagi, ada yang mengembalikan dana hibah karena nilainya dianggap tak masuk akal dan sangat kecil atau sebanding dengan harga satu gelas air mineral.

 

Kepala Badan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Gianyar, Ngakan Ketut Jati Ambarsika, Rabu (27/1) menyatakan, sesuai data, ada total 1.894 pelaku usaha penerima hibah pariwisata pada tahun 2020.

 

Dana hibah itu diberikan kepada pengusaha yang sudah membayar pajak.

Baca Juga:  Sepanjang 2020, Pemkab Gianyar Bagikan 69.972 Paket Sembako Covid-19

 

Sedangkan nilai hibah pariwisata, kata Ngakan, Kabupaten Gianyar memperoleh dana hibah sebesar Rp 94 miliar lebih untuk 1.894 pelaku usaha.

 

Namun dari total ribuan pelaku usaha, imbuh Ngakan, hanya 787 pelaku usaha yang mengambil hibah. Sisanya mundur dari daftar lantaran ada yang hanya dapat hibah Rp 2000.

 

“Banyak yang mundur dengan kesadaran sendiri. Karena sejumlah alasan. Ada juga yang malas urus,” ungkapnya.

 

Bagi yang malas mengurus, kata Ngakan Jati, mereka hanya menerima Rp 2000. “Ada yang di bawah lima ribu. Di bawah satu juta saja ada yang tidak mengurus,” ungkapnya.

Pengusaha yang malas mengurus hibah itu karena proses administrasinya memakan biaya lebih dari hibah yang diperoleh. “Karena materai saja Rp 6 ribu. Dikalikan sekian (lampiran, red). Jadi mereka tidak mengurus,” ungkapnya.

Baca Juga:  Banyak Warga Karangasem Belum Punya e-KTP, Didominasi Lansia

Ngakan Jati membeberkan, sejumlah usaha yang tidak mengambil hibah itu ada dagang lawar di emperan jalan raya seputaran Kecamatan Sukawati.

Ada juga home stay di Jalan Hanoman, Ubud yang memperoleh hibah sangat kecil.



GIANYAR– Hibah pariwisata yang sebelumnya telah dijanjikan pemerintah pusat kepada sejumlah wajib pajak atau pelaku usaha pariwisata di Gianyar berbuah kekecewaan.

 

Banyak wajib pajak yang ‘kecewa’ dan memilih untuk tidak menerima atau mengurus dana hibah.

Sisanya lagi, ada yang mengembalikan dana hibah karena nilainya dianggap tak masuk akal dan sangat kecil atau sebanding dengan harga satu gelas air mineral.

 

Kepala Badan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Gianyar, Ngakan Ketut Jati Ambarsika, Rabu (27/1) menyatakan, sesuai data, ada total 1.894 pelaku usaha penerima hibah pariwisata pada tahun 2020.

 

Dana hibah itu diberikan kepada pengusaha yang sudah membayar pajak.

Baca Juga:  Jenazah Ditangani Standar Covid, Swab Warga Tegal Badeng Barat Negatif

 

Sedangkan nilai hibah pariwisata, kata Ngakan, Kabupaten Gianyar memperoleh dana hibah sebesar Rp 94 miliar lebih untuk 1.894 pelaku usaha.

 

Namun dari total ribuan pelaku usaha, imbuh Ngakan, hanya 787 pelaku usaha yang mengambil hibah. Sisanya mundur dari daftar lantaran ada yang hanya dapat hibah Rp 2000.

 

“Banyak yang mundur dengan kesadaran sendiri. Karena sejumlah alasan. Ada juga yang malas urus,” ungkapnya.

 

Bagi yang malas mengurus, kata Ngakan Jati, mereka hanya menerima Rp 2000. “Ada yang di bawah lima ribu. Di bawah satu juta saja ada yang tidak mengurus,” ungkapnya.

Pengusaha yang malas mengurus hibah itu karena proses administrasinya memakan biaya lebih dari hibah yang diperoleh. “Karena materai saja Rp 6 ribu. Dikalikan sekian (lampiran, red). Jadi mereka tidak mengurus,” ungkapnya.

Baca Juga:  Sepanjang 2020, Pemkab Gianyar Bagikan 69.972 Paket Sembako Covid-19

Ngakan Jati membeberkan, sejumlah usaha yang tidak mengambil hibah itu ada dagang lawar di emperan jalan raya seputaran Kecamatan Sukawati.

Ada juga home stay di Jalan Hanoman, Ubud yang memperoleh hibah sangat kecil.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/