alexametrics
25.9 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Tabanan Masih Koleksi Anak Bertubuh Katai Sebanyak 8 Persen

TABANAN – Kabupaten Tabanan ternyata masih mengoleksi banyak anak dengan kondisi tubuh katai atau stunting. Angkanya mencapai  6 sampai 8 persen.

 

”Stunting kita angkanya sekitar 6-8 persen di Tabanan,” kata Kepala Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Tabanan dr. I Nyoman Suratmika, Rabu (26/1).

 

Meski terkesan jumlahnya masih banyak, Suratmika menjelaskan bahwa angka stunding di Tabanan tergolong rendah dibanding rata-rata di provinsi Bali maupun nasional. Dikatakan, angka stunting di Bali mencapai 10 persen, sedangkan secara nasional 14 persen.

 

“Kalau secara keseluruhan Provinsi Bali 10 persen. Artinya kita sudah di bawah target nasional sebesar 14 persen,” kata dia.

- Advertisement -

 

Hasil 6-8 persen angka stunting  Tabanan sendiri itu berdasarkan hasil survey yang dilakukan rutin setiap tahunnya dari bulan bulan Februari sampai Agustus di saat pemberian Vitamin A dan survei gizi dilakukan yang melibatkan petugas kesehatan, puskesmas dan posyandu di desa.

 

Meski demikian lanjut dr. Suratmika, angka stunting yang rendah tersebut, bukan berarti upaya penekanan stunting berhenti. Sebaliknya, berbagai upaya terus ditingkatkan.

Baca Juga:  Pengerjaan Patung Bung Karno Tuntas, Pengiriman Terkendala PPKM

 

Suratmika menyebut meksi jumlahnya 6-8 persen dari jumlah 5.000 balita yang lahir di Tabanan. Upaya penurunan tetap dilakukan dimulai sejak perempuan memasuki masa subur, pranikah, hingga setelah melahirkan.

 

“Misalnya pada masa kehamilan di usia remaja juga bisa menjadi faktor stunting. Usia remaja masih terjadi pertumbuhan pada tubuh. Alhasil, asupan gizi yang dikonsumsi juga terbagi untuk pertumbuhan dan janin. Artinya, asupan untuk janin juga bisa tak maksimal hingga perkembangannya juga kurang optimal,” jelas mantan Kadis Kesehatan Tabanan ini.

 

Dia menjelaskan, sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kasus stunting tersebut. Terbaru soal faktor ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan balita. Apalagi di tengah pandemi Covid-19. Karena ini berkaitan dengan pemenuhan dan pemberian dan asupan makan.

 

Selain itu ada faktor kesalahan pola asuh anak, biasanya karena kesibukkan orang tua anak dititip di nenek, keluarganya atau lokasi asuhan anak. Ini terkadang kerap kali tidak memperhatikan asupan gizi.

Baca Juga:  Turunkan Stunting, Kominfo RI Gencar Edukasi Remaja dan Pasutri

 

“Ada juga penyakit bawaan, lingkungan pendukung dan kebersihan lingkungan yang sama sekali tidak terjaga,” bebernya.

 

Lalu apa saja langkah yang pihaknya lakukan untuk mencegah stunting tersebut. Ada dua pola sebenarnya menurut dr. Suratmika yang pihaknya lakukan.

 

Yakni melakukan intervensi kesehatan yang terbagi menjadi dua intervensi spesifik dengan berbagai kegiatan. Seperti pemberian zat besi, vitamin, makanan tambahan, imunisasi, pemantauan ibu hamil.

 

Selanjutnya intervensi sensitif pencegahan stunting lintas sektoral. Salah satunya bekerja sama dengan Dinas PUPR Tabanan soal penyiapan sanitasi lingkungan, fasilitas tempat sekolah dan bermain anak paud.

 

Termasuk pula bantuan langsung tunai (BLT) apakah sudah tepat sasaran terhadap keluarga yang anaknya mengalami stunting.

 

“Nah itu sifatnya kami mengkoordinasi saja. Karena ada tim percepatan penanggulangan stunting tingkat kabupaten berdasarkan SK Bupati,” pungkasnya.

- Advertisement -

TABANAN – Kabupaten Tabanan ternyata masih mengoleksi banyak anak dengan kondisi tubuh katai atau stunting. Angkanya mencapai  6 sampai 8 persen.

 

”Stunting kita angkanya sekitar 6-8 persen di Tabanan,” kata Kepala Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Tabanan dr. I Nyoman Suratmika, Rabu (26/1).

 

Meski terkesan jumlahnya masih banyak, Suratmika menjelaskan bahwa angka stunding di Tabanan tergolong rendah dibanding rata-rata di provinsi Bali maupun nasional. Dikatakan, angka stunting di Bali mencapai 10 persen, sedangkan secara nasional 14 persen.

 

“Kalau secara keseluruhan Provinsi Bali 10 persen. Artinya kita sudah di bawah target nasional sebesar 14 persen,” kata dia.

 

Hasil 6-8 persen angka stunting  Tabanan sendiri itu berdasarkan hasil survey yang dilakukan rutin setiap tahunnya dari bulan bulan Februari sampai Agustus di saat pemberian Vitamin A dan survei gizi dilakukan yang melibatkan petugas kesehatan, puskesmas dan posyandu di desa.

 

Meski demikian lanjut dr. Suratmika, angka stunting yang rendah tersebut, bukan berarti upaya penekanan stunting berhenti. Sebaliknya, berbagai upaya terus ditingkatkan.

Baca Juga:  Turunkan Stunting, Kominfo RI Gencar Edukasi Remaja dan Pasutri

 

Suratmika menyebut meksi jumlahnya 6-8 persen dari jumlah 5.000 balita yang lahir di Tabanan. Upaya penurunan tetap dilakukan dimulai sejak perempuan memasuki masa subur, pranikah, hingga setelah melahirkan.

 

“Misalnya pada masa kehamilan di usia remaja juga bisa menjadi faktor stunting. Usia remaja masih terjadi pertumbuhan pada tubuh. Alhasil, asupan gizi yang dikonsumsi juga terbagi untuk pertumbuhan dan janin. Artinya, asupan untuk janin juga bisa tak maksimal hingga perkembangannya juga kurang optimal,” jelas mantan Kadis Kesehatan Tabanan ini.

 

Dia menjelaskan, sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kasus stunting tersebut. Terbaru soal faktor ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan balita. Apalagi di tengah pandemi Covid-19. Karena ini berkaitan dengan pemenuhan dan pemberian dan asupan makan.

 

Selain itu ada faktor kesalahan pola asuh anak, biasanya karena kesibukkan orang tua anak dititip di nenek, keluarganya atau lokasi asuhan anak. Ini terkadang kerap kali tidak memperhatikan asupan gizi.

Baca Juga:  Turunkan Stunting, Kominfo RI Gencar Edukasi Remaja dan Pasutri

 

“Ada juga penyakit bawaan, lingkungan pendukung dan kebersihan lingkungan yang sama sekali tidak terjaga,” bebernya.

 

Lalu apa saja langkah yang pihaknya lakukan untuk mencegah stunting tersebut. Ada dua pola sebenarnya menurut dr. Suratmika yang pihaknya lakukan.

 

Yakni melakukan intervensi kesehatan yang terbagi menjadi dua intervensi spesifik dengan berbagai kegiatan. Seperti pemberian zat besi, vitamin, makanan tambahan, imunisasi, pemantauan ibu hamil.

 

Selanjutnya intervensi sensitif pencegahan stunting lintas sektoral. Salah satunya bekerja sama dengan Dinas PUPR Tabanan soal penyiapan sanitasi lingkungan, fasilitas tempat sekolah dan bermain anak paud.

 

Termasuk pula bantuan langsung tunai (BLT) apakah sudah tepat sasaran terhadap keluarga yang anaknya mengalami stunting.

 

“Nah itu sifatnya kami mengkoordinasi saja. Karena ada tim percepatan penanggulangan stunting tingkat kabupaten berdasarkan SK Bupati,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/