alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Inovatif, Tahanan Lapas Singaraja Dilatih Bertani Jagung

SINGARAJA – Sejumlah tahanan pendamping (tamping) di Lapas Singaraja, kini dilatih bercocok tanam. Salah satu komoditas yang kini tengah dikembangkan, ialah tanaman jagung.

Para tamping itu mulai bercocok tanam jagung sejak dua bulan lalu. Untuk tahap awal, mereka mengembangkan jagung hibrida bisi dua.

Lahan yang ditanam memiliki luas 89 are, yang terletak di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Buleleng. Total ada tiga orang tahanan pendamping yang dilatih bertani jagung.

Kepala Lapas Singaraja Mut Zaini mengatakan, program bercocok tanam itu merupakan program yang baru bagi para tamping. Hasil cocok tanam itu bahkan telah dipanen siang kemarin.

“Kalau sebelumnya kan hanya beternak itik dan budi daya ikan saja. Nah dua bulan terakhir, kami coba lakukan kegiatan bercocok tanam. Ternak dan budi daya tetap jalan,” kata Zaini.

Baca Juga:  Ditengah Pandemi Covid-19, Nyawa Juara Kelas di Gianyar Terenggut DB

Meski baru tahap awal, ternyata para tamping berhasil mengembangkan produk pertanian itu. Para tamping bahkan mengusulkan program ternak sapi. Mengingat tanaman jagung juga dapat digunakan untuk pakan ternak.

Lebih lanjut Zaini mengatakan, ketiga tamping yang kini menjalani program pembinaan di BPP Buleleng, telah menjalani proses yang panjang dan ketat.

Mereka harus melewati minimal sepertiga dari masa pidana dan tak pernah melanggar tata tertib. Selain itu mereka tak boleh tersangkut

dalam tindak pidana narkotika, korupsi, penipuan, penggelapan, maupun kasus pidana berat lainnya seperti terorisme dan kejahatan HAM.

“Mereka juga tidak boleh residivis. Selain itu harus dapat rekomendasi dari TPP (Tim Pengamat Pemasyarakatan, Red). Kalau sudah kategori residivis, itu sudah gugur,” tegas Zaini.

Baca Juga:  Gubernur Koster Kembali Terbitkan Dua Pergub

Sementara itu Kabid Pembinaan dan Bimbingan Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Bali, Nyoman Mudana, mengapresiasi program tersebut.

“Ini sebenarnya program baru dalam proses pembinaan. Kami harap ini juga bisa diadopsi di tempat lain,” katanya. 



SINGARAJA – Sejumlah tahanan pendamping (tamping) di Lapas Singaraja, kini dilatih bercocok tanam. Salah satu komoditas yang kini tengah dikembangkan, ialah tanaman jagung.

Para tamping itu mulai bercocok tanam jagung sejak dua bulan lalu. Untuk tahap awal, mereka mengembangkan jagung hibrida bisi dua.

Lahan yang ditanam memiliki luas 89 are, yang terletak di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Buleleng. Total ada tiga orang tahanan pendamping yang dilatih bertani jagung.

Kepala Lapas Singaraja Mut Zaini mengatakan, program bercocok tanam itu merupakan program yang baru bagi para tamping. Hasil cocok tanam itu bahkan telah dipanen siang kemarin.

“Kalau sebelumnya kan hanya beternak itik dan budi daya ikan saja. Nah dua bulan terakhir, kami coba lakukan kegiatan bercocok tanam. Ternak dan budi daya tetap jalan,” kata Zaini.

Baca Juga:  Terbongkar! Banyak Proyek Di Bali Dibangun Tanpa KLHS

Meski baru tahap awal, ternyata para tamping berhasil mengembangkan produk pertanian itu. Para tamping bahkan mengusulkan program ternak sapi. Mengingat tanaman jagung juga dapat digunakan untuk pakan ternak.

Lebih lanjut Zaini mengatakan, ketiga tamping yang kini menjalani program pembinaan di BPP Buleleng, telah menjalani proses yang panjang dan ketat.

Mereka harus melewati minimal sepertiga dari masa pidana dan tak pernah melanggar tata tertib. Selain itu mereka tak boleh tersangkut

dalam tindak pidana narkotika, korupsi, penipuan, penggelapan, maupun kasus pidana berat lainnya seperti terorisme dan kejahatan HAM.

“Mereka juga tidak boleh residivis. Selain itu harus dapat rekomendasi dari TPP (Tim Pengamat Pemasyarakatan, Red). Kalau sudah kategori residivis, itu sudah gugur,” tegas Zaini.

Baca Juga:  Diguyur Hujan Lebat, Puluhan Hektar Padi Petani di Jembrana Rebah

Sementara itu Kabid Pembinaan dan Bimbingan Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Bali, Nyoman Mudana, mengapresiasi program tersebut.

“Ini sebenarnya program baru dalam proses pembinaan. Kami harap ini juga bisa diadopsi di tempat lain,” katanya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/