alexametrics
25.4 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Heboh Suara Kulkul di Pura Puseh, Ini Tanggapan Bendesa Adat Gianyar

GIANYAR – Heboh suara kulkul di Pura Puseh  di Desa Adat Gianyar pada, Minggu (24/5) lalu akhirnya menuai respon dari pihak Desa Adat Gianyar.

 

Terkait heboh bunyi kulkul, Bendesa adat Gianyar, Dewa Made Suardana, membantah suara kulkul di Pura Puseh bikin heboh masyarakat.

 

Bendesa mengaku kulkul dibunyikan apda Minggu (24/5) berkaitan dengan upacara bertujuan nunas ica (mohon karunia) terkait Pandemi Covid-19.

 

“Benar saat itu kami membunyikan kulkul di Pura Puseh. Karena itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan nunas ica. Tidak benar telah terjadi keresahan dan kehebohan saat itu,” tegasnya, Selasa (26/5).

 

Mengenai pernyataan Sabha Desa Adat Gianyar, Ida Bagus Nyoman Rai, yang sempat mempermasalahkan suara kulkul itu, telah dijelaskan.

Baca Juga:  Gng Agung Sulit Diprediksi, BNPB: Kita Harus Siap Dalam Kondisi Apapun

 

“Merujuk pada dasar sastra. Saat rapat antara pimpinan Sabha bersama Bendesa dan para Kelihan Adat yang kami laksanakan Senin (25/5) di Pura Puseh Desa Adat Gianyar. Dan beliau Bapak Ida Bagus Nyoman Rai di depan forum rapat memahami penjelasan kami,” ungkapnya. 

 

Sementara itu, salah seorang panglingsir Desa Adat Gianyar, Ida Bagus Rai Jendra, justru mengapresiasi langkah yang diambil Bendesa adat dan prajuru adat.

 

Dia menilai sebagai langkah yang tepat dan tidak menyalahi dresta dan awig awig.

 

“Patut diapresiasi langkah kegiatan yg dilakukan bendesa dan prajuru desa adat Gianyar dengan tetap berpegang pada protokol kesehatan penanganan Covid-19. Tidak melibatkan krama (masyarakat),” jelasnya.

Baca Juga:  Izin Pabrik Limbah B3 Lengkap, Respons Kadis LH Bikin Warga Syok Berat

 

Mantan konsulat Jenderal RI di Jerman itu mengaku upacara nunas Ica terbatas hanya diikuti prajuru dan pemangku saja.

 

“Sedangkan masyarakat luas bisa melakukan persembahyangan nunas Ica di tempat atau di rumah masing-masing,” ungkapnya.

 

Lanjut dia, suara kulkul sebagai pengingat n kiranya perlu dipahami bersama bahwa kewenangan membunyikan kulkul ada pada bendesa.

 

 “Secara tradisi, kulkul dibunyikan sebagai pertanda odalan dan dapat pula dibunyikan dalam keadaan genting misalnya terjadi bencana yg dapat mengancam keselamatan jiwa seperti bencana gerubug dan bencana lainnya. Covid-19 sudah termasuk bencana yang sangat dahsyat secara nasional dan global,” pungkasnya.



GIANYAR – Heboh suara kulkul di Pura Puseh  di Desa Adat Gianyar pada, Minggu (24/5) lalu akhirnya menuai respon dari pihak Desa Adat Gianyar.

 

Terkait heboh bunyi kulkul, Bendesa adat Gianyar, Dewa Made Suardana, membantah suara kulkul di Pura Puseh bikin heboh masyarakat.

 

Bendesa mengaku kulkul dibunyikan apda Minggu (24/5) berkaitan dengan upacara bertujuan nunas ica (mohon karunia) terkait Pandemi Covid-19.

 

“Benar saat itu kami membunyikan kulkul di Pura Puseh. Karena itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan nunas ica. Tidak benar telah terjadi keresahan dan kehebohan saat itu,” tegasnya, Selasa (26/5).

 

Mengenai pernyataan Sabha Desa Adat Gianyar, Ida Bagus Nyoman Rai, yang sempat mempermasalahkan suara kulkul itu, telah dijelaskan.

Baca Juga:  Proyek Pasar Gianyar Bermasalah, Desa Adat Minta Perlindungan Polda

 

“Merujuk pada dasar sastra. Saat rapat antara pimpinan Sabha bersama Bendesa dan para Kelihan Adat yang kami laksanakan Senin (25/5) di Pura Puseh Desa Adat Gianyar. Dan beliau Bapak Ida Bagus Nyoman Rai di depan forum rapat memahami penjelasan kami,” ungkapnya. 

 

Sementara itu, salah seorang panglingsir Desa Adat Gianyar, Ida Bagus Rai Jendra, justru mengapresiasi langkah yang diambil Bendesa adat dan prajuru adat.

 

Dia menilai sebagai langkah yang tepat dan tidak menyalahi dresta dan awig awig.

 

“Patut diapresiasi langkah kegiatan yg dilakukan bendesa dan prajuru desa adat Gianyar dengan tetap berpegang pada protokol kesehatan penanganan Covid-19. Tidak melibatkan krama (masyarakat),” jelasnya.

Baca Juga:  Ruwet, DPRD Minta Bendesa Adat Tak Permasalahkan Tanah Pasar Gianyar

 

Mantan konsulat Jenderal RI di Jerman itu mengaku upacara nunas Ica terbatas hanya diikuti prajuru dan pemangku saja.

 

“Sedangkan masyarakat luas bisa melakukan persembahyangan nunas Ica di tempat atau di rumah masing-masing,” ungkapnya.

 

Lanjut dia, suara kulkul sebagai pengingat n kiranya perlu dipahami bersama bahwa kewenangan membunyikan kulkul ada pada bendesa.

 

 “Secara tradisi, kulkul dibunyikan sebagai pertanda odalan dan dapat pula dibunyikan dalam keadaan genting misalnya terjadi bencana yg dapat mengancam keselamatan jiwa seperti bencana gerubug dan bencana lainnya. Covid-19 sudah termasuk bencana yang sangat dahsyat secara nasional dan global,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/