alexametrics
27.6 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

NGERI! Begini Kronologis Pembunuhan Tukang Ojek di Setra Versi Polisi

SUDAJI – Seorang tukang ojek pangkalan di Desa Sudaji, meregang nyawa setelah terlibat perkelahian dengan sesama tukang ojek.

Pemicunya cukup sepele; gara-gara ketersinggungan akibat aksi saling ejek. Insiden berdarah itu terjadi sekitar pukul 06.00, Selasa (26/6) pagi.

Peristiwa berawal saat korban Made Sukamara, 32, warga Banjar Dinas Kaja Kauh, Desa Sudaji, pergi bekerja sebagai tukang ojek.

Biasanya ia mangkal di sekitar Pasar Desa Sudaji. Di pangkalan itu pun terdapat beberapa tukang ojek lainnya.

Singkat cerita, Sukamara terlibat adu mulut dengan tersangka Made Rapet, 56, warga Banjar Dinas Kaja Kangin, Desa Sudaji. Rapet adalah rekan sesama tukang ojek.

Sejak Senin (25/6) lalu, tersangka dan korban sempat terlibat adu mulut. Pertengkaran itu berlanjut keesokan harinya di pangkalan ojek.

Bahkan pada Selasa pagi, keduanya sempat terlibat adu fisik. Hingga mereka dilerai oleh rekan-rekan sesama tukang ojek.

Namun pertengkaran itu belum selesai. Mereka masih terlibat adu mulut. Hingga akhirnya mereka sepakat duel di Setra Desa Pakraman Sudaji.

Saat duel terjadi, korban Sukamara disebut membawa sebatang kayu balok. Sementara tersangka Rapet membawa sebilah pisau dapur yang disimpan pada tas pinggang.

Baca Juga:  Kepruk Kepala Bos Toko Hingga Tewas, Divonis 13 Tahun, Sakim "Melawan"

Salah seorang rekan korban, Gede Suardana, 52, menuturkan tersangka dan korban memang kerap terlibat adu mulut.

“Sebenarnya masalahnya sepele. Hanya karena saling ejek saja, akhirnya mereka bertengkar sampai saling tantang,” ujar Suardana.

Saat duel terjadi, Suardana mengaku tak melihatnya langsung. Ia mengaku hanya mendengar informasi bahwa antara tersangka dan korban akan melakukan duel.

Tak ingin permasalahan makin meruncing, ia pun mengajak beberapa rekan ojek lainnya untuk melerai perkelahian.

Namun saat sampai di lokasi, ia mendapati korban Sukamara sudah terlentang berceceran darah. Sementara tersangka Rapet tidak terlihat di tempat kejadian.

Rapet disebut telah menyerahkan diri pada Bhabinkamtibmas Aiptu I Gede Sugata. “Waktu itu saya bangunkan korban.

Tapi, dia (korban) bilang kalau perutnya (usus, Red) sudah keluar. Lalu dia duduk di rumput. Langsung kita cari kendaraan bawa ke RSUD Buleleng,” ujar Suardana.

Sayang nyawa korban tak dapat diselamatkan. Saat sampai di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Buleleng, korban dinyatakan sudah meninggal dunia.

Sehingga jenazah korban langsung dibawa ke Ruang Jenazah RSUD Buleleng. Dari hasil visum tim dokter RSUD Buleleng, hanya ada satu luka pada tubuh korban.

Baca Juga:  Bupati Giri Prasta Tebar 50 Ribu Benih Ikan Nila Di Mengwi

Yakni luka sayatan pada bagian perut. Panjang luka mencapai 14 centimeter, hingga menyebabkan usus korban terburai.

Polisi sempat berencana mengirim jenazah ke RS Sanglah Denpasar untuk diotopsi. Namun pihak keluarga menolak. Alasannya luka pada tubuh korban sudah jelas.

Selain itu pihak keluarga akan segera melangsungkan upacara penguburan jenazah korban, sesuai dengan dresta di desa pakraman setempat.

Kapolsek Sawan AKP I Ketut Wisnaya mengungkapkan, aksi perkelahian berdarah itu dipicu saling ejek antara tersangka dengan korban.

“Mereka sudah sempat terlibat perkelahian. Kemudian dilerai teman-temannya, lalu berlanjut di Setra Sudaji. Kedua belah pihak ini memang sering cek-cok. Awalnya bercanda, saling ejek, akhirnya jadi serius,” jelas AKP Wisnaya.

Menurut Wisnaya, saat duel terjadi, tersangka mengaku sempat dipukuli menggunakan kayu balok.

Diduga karena terdesak, tersangka pun mengeluarkan pisau dari tas pinggang dan menusuk perut korban.

Tersangka sendiri mengalami luka di sejumlah bagian. Yakni patah tangan kiri serta luka bocor pada kepala bagian kiri.

Saat disinggung pisau yang dibawa tersangka, AKP Wisnaya menyebut polisi belum menemukan unsur kesengajaan.

“Tersangka mengaku pisau itu dibawa untuk mencari daun pisang. Tapi itu tetap kami dalami,” imbuhnya. 



SUDAJI – Seorang tukang ojek pangkalan di Desa Sudaji, meregang nyawa setelah terlibat perkelahian dengan sesama tukang ojek.

Pemicunya cukup sepele; gara-gara ketersinggungan akibat aksi saling ejek. Insiden berdarah itu terjadi sekitar pukul 06.00, Selasa (26/6) pagi.

Peristiwa berawal saat korban Made Sukamara, 32, warga Banjar Dinas Kaja Kauh, Desa Sudaji, pergi bekerja sebagai tukang ojek.

Biasanya ia mangkal di sekitar Pasar Desa Sudaji. Di pangkalan itu pun terdapat beberapa tukang ojek lainnya.

Singkat cerita, Sukamara terlibat adu mulut dengan tersangka Made Rapet, 56, warga Banjar Dinas Kaja Kangin, Desa Sudaji. Rapet adalah rekan sesama tukang ojek.

Sejak Senin (25/6) lalu, tersangka dan korban sempat terlibat adu mulut. Pertengkaran itu berlanjut keesokan harinya di pangkalan ojek.

Bahkan pada Selasa pagi, keduanya sempat terlibat adu fisik. Hingga mereka dilerai oleh rekan-rekan sesama tukang ojek.

Namun pertengkaran itu belum selesai. Mereka masih terlibat adu mulut. Hingga akhirnya mereka sepakat duel di Setra Desa Pakraman Sudaji.

Saat duel terjadi, korban Sukamara disebut membawa sebatang kayu balok. Sementara tersangka Rapet membawa sebilah pisau dapur yang disimpan pada tas pinggang.

Baca Juga:  Mimih, Curi Motor Tetangga, ABG Buleleng Diciduk Polisi

Salah seorang rekan korban, Gede Suardana, 52, menuturkan tersangka dan korban memang kerap terlibat adu mulut.

“Sebenarnya masalahnya sepele. Hanya karena saling ejek saja, akhirnya mereka bertengkar sampai saling tantang,” ujar Suardana.

Saat duel terjadi, Suardana mengaku tak melihatnya langsung. Ia mengaku hanya mendengar informasi bahwa antara tersangka dan korban akan melakukan duel.

Tak ingin permasalahan makin meruncing, ia pun mengajak beberapa rekan ojek lainnya untuk melerai perkelahian.

Namun saat sampai di lokasi, ia mendapati korban Sukamara sudah terlentang berceceran darah. Sementara tersangka Rapet tidak terlihat di tempat kejadian.

Rapet disebut telah menyerahkan diri pada Bhabinkamtibmas Aiptu I Gede Sugata. “Waktu itu saya bangunkan korban.

Tapi, dia (korban) bilang kalau perutnya (usus, Red) sudah keluar. Lalu dia duduk di rumput. Langsung kita cari kendaraan bawa ke RSUD Buleleng,” ujar Suardana.

Sayang nyawa korban tak dapat diselamatkan. Saat sampai di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Buleleng, korban dinyatakan sudah meninggal dunia.

Sehingga jenazah korban langsung dibawa ke Ruang Jenazah RSUD Buleleng. Dari hasil visum tim dokter RSUD Buleleng, hanya ada satu luka pada tubuh korban.

Baca Juga:  TKP Leteh, Netralisir, Desa Adat Riang Gede Penebel Gelar Pecaruan

Yakni luka sayatan pada bagian perut. Panjang luka mencapai 14 centimeter, hingga menyebabkan usus korban terburai.

Polisi sempat berencana mengirim jenazah ke RS Sanglah Denpasar untuk diotopsi. Namun pihak keluarga menolak. Alasannya luka pada tubuh korban sudah jelas.

Selain itu pihak keluarga akan segera melangsungkan upacara penguburan jenazah korban, sesuai dengan dresta di desa pakraman setempat.

Kapolsek Sawan AKP I Ketut Wisnaya mengungkapkan, aksi perkelahian berdarah itu dipicu saling ejek antara tersangka dengan korban.

“Mereka sudah sempat terlibat perkelahian. Kemudian dilerai teman-temannya, lalu berlanjut di Setra Sudaji. Kedua belah pihak ini memang sering cek-cok. Awalnya bercanda, saling ejek, akhirnya jadi serius,” jelas AKP Wisnaya.

Menurut Wisnaya, saat duel terjadi, tersangka mengaku sempat dipukuli menggunakan kayu balok.

Diduga karena terdesak, tersangka pun mengeluarkan pisau dari tas pinggang dan menusuk perut korban.

Tersangka sendiri mengalami luka di sejumlah bagian. Yakni patah tangan kiri serta luka bocor pada kepala bagian kiri.

Saat disinggung pisau yang dibawa tersangka, AKP Wisnaya menyebut polisi belum menemukan unsur kesengajaan.

“Tersangka mengaku pisau itu dibawa untuk mencari daun pisang. Tapi itu tetap kami dalami,” imbuhnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/