alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Pengurugan Sempadan Danau Buyan Dipertanyakan, Klaim Tak Ada Masalah

SINGARAJA – Proses pengurugan di sempadan Danau Buyan, Desa Pancasari, dipertanyakan warga.

Pengurugan itu dikhawatirkan memicu banjir yang berpotensi menggenangi rumah dan lahan pertanian warga, saat musim penghujan nanti.

Selama ini sempadan Danau Buyan memang diurug menggunakan material tanah urug dari proyek pembangunan shortcut di Desa Pegayaman.

Bukan hanya sempadan danau, sejumlah lahan pertanian warga juga diurug atas permintaan dari pemilik lahan.

Pengurugan yang bermasalah, disebut terjadi di wilayah Dasong. Wilayah ini memang kerap kebanjiran pada musim penghujan.

Penyebabnya air danau yang meluap. Selain itu air hujan juga lambat diserap tanah, karena sudah jenuh dengan luapan air danau.

Kini sebagian warga di Dasong disebut meminta pengurugan lahan, untuk memulihkan lahan pertanian. Mengingat beberapa lahan warga terendam banjir pada tahun lalu.

Kini lahan pun tak produktif. Pengurugan itu dikhawatirkan berdampak pada lahan pertanian dan lahan perumahan warga lainnya.

“Sekarang kan posisinya ada yang diurug ada yang tidak. Yang diurug, posisinya jelas lebih tinggi. Tanah warga yang posisinya lebh rendah

Baca Juga:  Ditegur Mendagri, Bupati Akan Segera Cairkan Insentif Nakes di Gianyar

ini bagaimana nasibnya. Sebab nanti kan resapan air jadi tersumbat,” kata Wayan Komiarsa, Kelian Banjar Adat Yeh Mas.

Komiarsa pun mendesak pemerintah turun tangan mengatasi hal tersebut. Bila tak cepat dicarikan solusi, ia khawatir rumah dan lahan warga kebanjiran pada musim penghujan nanti.

“Bukannya kami menolak pengurugan. Tapi kami mohon dicarikan solusi. Supaya rumah dan lahan pertanian kami tidak kebanjiran nanti,” pintanya.

Sementara itu Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana sore kemarin (26/8) langsung memanggil sejumlah pihak terkait permasalahan tersebut.

Di antaranya Kepala Dinas Lingkungan Hidup Buleleng Putu Ariadi Pribadi, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Buleleng Ni Made Rousmini, Camat Sukasada I Made Dwi Adnyana, dan Perbekel Pancasari Wayan Darsana.

Menurut Agus proses pengurugan itu sebenarnya bagian dari penataan di sekitar Danau Buyan. Khusus di wilayah sempadan danau,

dia mengaku sudah meminta bantuan corporate social responsibility (CSR) dari sejumlah perusahaan swasta.

Baca Juga:  Tak Semua Warga Bali Jadi Target Vaksinasi, Ini Daftar Penerimanya

CSR itu diharapkan untuk penanaman pohon dan rumput untuk mengoptimalkan wilayah serapan air. Khusus di wilayah Dasong, Agus tak menampik ada permasalahan yang terjadi.

“Di sana itu persoalannya tiap hujan air menggenang. Drainase di sana belum optimal. Saya sudah instruksikan DLH dan Dinas PU supaya selesaikan masalah drainase tahun ini juga,” kata Agus.

Ia pun tak menampik jika di wilayah tersebut, berpotensi ada tumpang tindih kewenangan antara pemerintah kabupaten maupun Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

“Sekarang bukan bicara kewenangan. Tapi lihat dampaknya. Karena di sana daerahnya terdampak, masyarakat saya yang terdampak, jelas saya ada kewenangan di sana. Ini akan saya tuntaskan segera,” tukasnya.

Agus meminta agar proses pengurugan yang sudah direncanakan, tetap dilanjutkan. Sehingga pemulihan lahan yang rusak karena terdampak luapan air Danau Buyan, bisa segera dipulihkan. 

 

 



SINGARAJA – Proses pengurugan di sempadan Danau Buyan, Desa Pancasari, dipertanyakan warga.

Pengurugan itu dikhawatirkan memicu banjir yang berpotensi menggenangi rumah dan lahan pertanian warga, saat musim penghujan nanti.

Selama ini sempadan Danau Buyan memang diurug menggunakan material tanah urug dari proyek pembangunan shortcut di Desa Pegayaman.

Bukan hanya sempadan danau, sejumlah lahan pertanian warga juga diurug atas permintaan dari pemilik lahan.

Pengurugan yang bermasalah, disebut terjadi di wilayah Dasong. Wilayah ini memang kerap kebanjiran pada musim penghujan.

Penyebabnya air danau yang meluap. Selain itu air hujan juga lambat diserap tanah, karena sudah jenuh dengan luapan air danau.

Kini sebagian warga di Dasong disebut meminta pengurugan lahan, untuk memulihkan lahan pertanian. Mengingat beberapa lahan warga terendam banjir pada tahun lalu.

Kini lahan pun tak produktif. Pengurugan itu dikhawatirkan berdampak pada lahan pertanian dan lahan perumahan warga lainnya.

“Sekarang kan posisinya ada yang diurug ada yang tidak. Yang diurug, posisinya jelas lebih tinggi. Tanah warga yang posisinya lebh rendah

Baca Juga:  Dinkes Pastikan Bukan Keracunan, Dewan Minta Ditelusuri Sekala Niskala

ini bagaimana nasibnya. Sebab nanti kan resapan air jadi tersumbat,” kata Wayan Komiarsa, Kelian Banjar Adat Yeh Mas.

Komiarsa pun mendesak pemerintah turun tangan mengatasi hal tersebut. Bila tak cepat dicarikan solusi, ia khawatir rumah dan lahan warga kebanjiran pada musim penghujan nanti.

“Bukannya kami menolak pengurugan. Tapi kami mohon dicarikan solusi. Supaya rumah dan lahan pertanian kami tidak kebanjiran nanti,” pintanya.

Sementara itu Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana sore kemarin (26/8) langsung memanggil sejumlah pihak terkait permasalahan tersebut.

Di antaranya Kepala Dinas Lingkungan Hidup Buleleng Putu Ariadi Pribadi, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Buleleng Ni Made Rousmini, Camat Sukasada I Made Dwi Adnyana, dan Perbekel Pancasari Wayan Darsana.

Menurut Agus proses pengurugan itu sebenarnya bagian dari penataan di sekitar Danau Buyan. Khusus di wilayah sempadan danau,

dia mengaku sudah meminta bantuan corporate social responsibility (CSR) dari sejumlah perusahaan swasta.

Baca Juga:  Rumah Hancur Tertimpa Pohon, Ternyata Komang Budiarta Tergolong Miskin

CSR itu diharapkan untuk penanaman pohon dan rumput untuk mengoptimalkan wilayah serapan air. Khusus di wilayah Dasong, Agus tak menampik ada permasalahan yang terjadi.

“Di sana itu persoalannya tiap hujan air menggenang. Drainase di sana belum optimal. Saya sudah instruksikan DLH dan Dinas PU supaya selesaikan masalah drainase tahun ini juga,” kata Agus.

Ia pun tak menampik jika di wilayah tersebut, berpotensi ada tumpang tindih kewenangan antara pemerintah kabupaten maupun Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

“Sekarang bukan bicara kewenangan. Tapi lihat dampaknya. Karena di sana daerahnya terdampak, masyarakat saya yang terdampak, jelas saya ada kewenangan di sana. Ini akan saya tuntaskan segera,” tukasnya.

Agus meminta agar proses pengurugan yang sudah direncanakan, tetap dilanjutkan. Sehingga pemulihan lahan yang rusak karena terdampak luapan air Danau Buyan, bisa segera dipulihkan. 

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/