alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, August 16, 2022

Kasihan! Diguyur Hujan Deras, Tenda Jebol, Pengungsi Kebanjiran

RadarBali.com – Wajah lelah terlihat dari muka Ngurah Artawa, 40, asal Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, saat ditemui di tenda pengungsiannya yang berada Lapangan Swecapura, Klungkung, Selasa (26/9).

Pasalnya pada hari Senin (25/9) sekitar pukul 23.00, tenda yang dia tempati bersama 24 orang warga Desa Muncan lainnya itu diguyur hujan dan air hujan membasahi tenda beserta barang yang ada di dalamnya.

Wajar saja, terpal yang digunakan para pengungsi sebagai alas tidur, berada di atas tanah tanpa ada kayu atau batu yang menunjang terpal dari tanah sehingga air hujan mudah masuk.

Selain itu air hujan juga menetes dari sela-sela tenda. Alhasil, dia dan seluruh warga yang lainnya tidak bisa beristirahat dengan tenang dan begadang hingga pagi hari.

“Ini sudah terjadi dua hari belakangan ini. Jadi saya tidak bisa tidur. Dari malam sampai pagi berjongkok di tenda,” katanya.

Baca Juga:  Abadikan Kearifan Lokal, Hubungkan Lintas Pulau di Bali

Melihat kondisi yang terjadi terus-menerus itu, warga-warga yang mengungsi di tenda-tenda akhirnya membuat got kecil dengan harapan air hujan tidak masuk ke dalam tenda.

“Tadi pagi (kemarin) sekitar pukul 07.00 saya dan pengungsi lainnya buat got sendiri. Biar airnya tidak masuk sampai tenda,” tandas ayah empat orang anak itu.

Hal senada juga diungkapkan Nengah Sari, warga Desa Muncan. Dikatakannya, sudah dua hari belakangan hujan turun saat malam hari dan membasahi tendanya.

Namun berbeda dengan Ngurah Artawa yang kekeh bertahan di tenda pengungsian, Nengah Sari memilih beristirahat di SMP Negeri 3 Semarapura untuk sementara waktu sampai hujan reda dan tendanya kering.

“Iya, saya ke sekolah diantar bapak-bapak petugas karena saat itu gelap. Saya numpang berteduh saja di sekolah,” tandasnya.

Baca Juga:  Erupsi Gunung Agung Terus Menerus, UAS Jalan Terus

Terkait kondisi tersebut, Bupati Kabupaten Klungkung, I Nyoman Suwirta mengaku sudah mengetahuinya.

Bahkan pukul 02.15 kemarin, dia mendatangi pengungsi yang berada di tenda-tenda dan merayu mereka untuk berpindah ke GOR Swecapura.

“Mereka tidak ada yang mau pindah, jadi saya rayu-rayu biar mau. Apalagi anak-anaknya sudah nangis teriak-teriak seperti bencana sudah datang. Setelah saya rayu-rayu terus, akhirnya dia mau mengungsi. Mungkin karena mereka sudah nyaman di sana,” kata Bupati asal Nusa Ceningan itu.

Untuk mengantisipasi terjadi hal serupa saat hujan, pihaknya mengaku sudah mengungsikan beberapa orang pengungsi ke banjar-banjar.

Dan, direncanakan, seluruh warga yang mengungsi dalam tenda akan dievaluasi ke GOR Swecapura



RadarBali.com – Wajah lelah terlihat dari muka Ngurah Artawa, 40, asal Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, saat ditemui di tenda pengungsiannya yang berada Lapangan Swecapura, Klungkung, Selasa (26/9).

Pasalnya pada hari Senin (25/9) sekitar pukul 23.00, tenda yang dia tempati bersama 24 orang warga Desa Muncan lainnya itu diguyur hujan dan air hujan membasahi tenda beserta barang yang ada di dalamnya.

Wajar saja, terpal yang digunakan para pengungsi sebagai alas tidur, berada di atas tanah tanpa ada kayu atau batu yang menunjang terpal dari tanah sehingga air hujan mudah masuk.

Selain itu air hujan juga menetes dari sela-sela tenda. Alhasil, dia dan seluruh warga yang lainnya tidak bisa beristirahat dengan tenang dan begadang hingga pagi hari.

“Ini sudah terjadi dua hari belakangan ini. Jadi saya tidak bisa tidur. Dari malam sampai pagi berjongkok di tenda,” katanya.

Baca Juga:  Awas, Kembali Erupsi, Semburkan Asap Pekat Setinggi 2.500 Meter

Melihat kondisi yang terjadi terus-menerus itu, warga-warga yang mengungsi di tenda-tenda akhirnya membuat got kecil dengan harapan air hujan tidak masuk ke dalam tenda.

“Tadi pagi (kemarin) sekitar pukul 07.00 saya dan pengungsi lainnya buat got sendiri. Biar airnya tidak masuk sampai tenda,” tandas ayah empat orang anak itu.

Hal senada juga diungkapkan Nengah Sari, warga Desa Muncan. Dikatakannya, sudah dua hari belakangan hujan turun saat malam hari dan membasahi tendanya.

Namun berbeda dengan Ngurah Artawa yang kekeh bertahan di tenda pengungsian, Nengah Sari memilih beristirahat di SMP Negeri 3 Semarapura untuk sementara waktu sampai hujan reda dan tendanya kering.

“Iya, saya ke sekolah diantar bapak-bapak petugas karena saat itu gelap. Saya numpang berteduh saja di sekolah,” tandasnya.

Baca Juga:  Pengungsi Masih Ratusan Ribu, Masa Darurat Sampai 12 Oktober

Terkait kondisi tersebut, Bupati Kabupaten Klungkung, I Nyoman Suwirta mengaku sudah mengetahuinya.

Bahkan pukul 02.15 kemarin, dia mendatangi pengungsi yang berada di tenda-tenda dan merayu mereka untuk berpindah ke GOR Swecapura.

“Mereka tidak ada yang mau pindah, jadi saya rayu-rayu biar mau. Apalagi anak-anaknya sudah nangis teriak-teriak seperti bencana sudah datang. Setelah saya rayu-rayu terus, akhirnya dia mau mengungsi. Mungkin karena mereka sudah nyaman di sana,” kata Bupati asal Nusa Ceningan itu.

Untuk mengantisipasi terjadi hal serupa saat hujan, pihaknya mengaku sudah mengungsikan beberapa orang pengungsi ke banjar-banjar.

Dan, direncanakan, seluruh warga yang mengungsi dalam tenda akan dievaluasi ke GOR Swecapura


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/