alexametrics
25.4 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Pamerkan Beragam Karya Warga Binaan dari Kertas Koran Bekas

Beragam produk hasil kerajinan tangan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Tabanan ditampilkan dalam Pekan Expo Hari Dharma Karya Dhika (HDKD) Kemenkumham Jumat (26/10) kemarin. Seperti apa?

 

JULIADI, Tabanan

 

Deretan hasil karya seni mulaii miniatur sepeda motor, becak, kapal laut, kotak tisue, bokor dan sokasi  berbahan kertas koran bekas dipajang di sejumlah stan pameran.

 

Bahkan selain karya dari koran bekas, ada sejumlah karya lain seperti ukiran patung kayu juga ikut dipamerkan.

 

Kalapas Tabana I Putu Murdiana mengatakan pameran expo kali ini lebih kepada menampilkan hasil karya seni yang dibuat warga binaan Lapas Tabanan.

 

Masyarakat hanya mengira ketika orang berada di dalam lapas hanya berada dibalik jeruji besi.

 

Tetapi dibalik itu napi juga dapat melakukan aktivitas positif. Bukti dapat membuat karya seni yang bernilai ekonomi tinggi.

 

“Berbagai pendekatan kemanusia yang dilakukan oleh kami mengubah cara berpikir dan prilaku napi.

 

Petugas lapas ibarat seorang ayah dan ibu yang memelihara anaknya agar menjadi orang yang baik. Sehingga hubungan kekeluarga itu terjalain dan terjaga,” ucap Murdiana.

Baca Juga:  Ratusan Ribu Orang Keluar-Masuk Bali Selama Arus Balik via Gilimanuk

 

Murdiana menambahkan pekan expo selain menampilkan kerajinan tangan hasil napi. Pihaknya juga memberikan pelayanan gratis kesehatan kepada masyarakat.

 

Seperti pemeriksaan gula darah, tensi darah dan pengobatan lainnya. Pameran ini digelar selam dua hari. Mulai 26-27 Oktober 2018.

 

“Kami juga berikan pelayanan cuci motor gratis yang dikerjakan olah para napi. Setelah melalui proses pembelajaran keterampilan usaha di dalam lapas. Setelah itu dipraktekkan,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, Mudana juga yakin hasil kerajinan tangan para napi ini dapat bertahan lama dan masyarakat tidak perlu khawatir dengan kualitas kerajinan yang terbuat dari koran bekas.

 

Butuh waktu tiga hari sampai empat untuk mengerjakan satu buah bokor, sedangkan untuk kapal laut butuh waktu seminggu.

 

Dengan bahan yang dihabiskan untuk membuat kapal mencapai 5 kilogram koran. Sebelum dibentuk, koran dipotong lalu digulung menyerupai rotan.

Baca Juga:  Di Akhir Masa Jabatan Bupati AA Gde Agung Bharata

 

Gulunganya pun padat karena dibuat berlapis. Hasil kerajinan ini dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 100.000 – Rp 350.000.

 

“Hasil karya warga binaan dipasarkan oleh keluarga warga binanaan itu sendiri. Kadang kala ada yang langsung membeli kepada kami. Sebenarnya kami sebagai perantara menyiapkan bahan baku koran. Hasilnya penjualan tersebut sedikit tidaknya membantu keuangan napi,” jelasnya.

 

Sementara itu salah satu napi lapas Tabanan Nyoman Sukarya, 59 yang terkena kasus korupsi mengatakaan hasil karyanya berupa patung yang terbuat dari kayu membutuhkan pengerjaan selama 3 hari.

 

“Memang ada bakat dari awal sebagai tukang ukir, dudlu di rumah sering saya kerjakan pembuatan patung,” kata pria yang menjalani masa hukuman 4 tahun 4 bulan.

 

Sudah banyak hasil karyanya dibeli oleh masyarakay di Tabanan. Bahkan dari pegawai lapas. Patung kayu yang dibuat harganya berkisar dari Rp 75 ribu sampai Rp 150 ribu tergantung dari ukuran pemesanan.

 



Beragam produk hasil kerajinan tangan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Tabanan ditampilkan dalam Pekan Expo Hari Dharma Karya Dhika (HDKD) Kemenkumham Jumat (26/10) kemarin. Seperti apa?

 

JULIADI, Tabanan

 

Deretan hasil karya seni mulaii miniatur sepeda motor, becak, kapal laut, kotak tisue, bokor dan sokasi  berbahan kertas koran bekas dipajang di sejumlah stan pameran.

 

Bahkan selain karya dari koran bekas, ada sejumlah karya lain seperti ukiran patung kayu juga ikut dipamerkan.

 

Kalapas Tabana I Putu Murdiana mengatakan pameran expo kali ini lebih kepada menampilkan hasil karya seni yang dibuat warga binaan Lapas Tabanan.

 

Masyarakat hanya mengira ketika orang berada di dalam lapas hanya berada dibalik jeruji besi.

 

Tetapi dibalik itu napi juga dapat melakukan aktivitas positif. Bukti dapat membuat karya seni yang bernilai ekonomi tinggi.

 

“Berbagai pendekatan kemanusia yang dilakukan oleh kami mengubah cara berpikir dan prilaku napi.

 

Petugas lapas ibarat seorang ayah dan ibu yang memelihara anaknya agar menjadi orang yang baik. Sehingga hubungan kekeluarga itu terjalain dan terjaga,” ucap Murdiana.

Baca Juga:  Delapan Sulinggih Puput Sapuh Leger di Pura Masceti

 

Murdiana menambahkan pekan expo selain menampilkan kerajinan tangan hasil napi. Pihaknya juga memberikan pelayanan gratis kesehatan kepada masyarakat.

 

Seperti pemeriksaan gula darah, tensi darah dan pengobatan lainnya. Pameran ini digelar selam dua hari. Mulai 26-27 Oktober 2018.

 

“Kami juga berikan pelayanan cuci motor gratis yang dikerjakan olah para napi. Setelah melalui proses pembelajaran keterampilan usaha di dalam lapas. Setelah itu dipraktekkan,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, Mudana juga yakin hasil kerajinan tangan para napi ini dapat bertahan lama dan masyarakat tidak perlu khawatir dengan kualitas kerajinan yang terbuat dari koran bekas.

 

Butuh waktu tiga hari sampai empat untuk mengerjakan satu buah bokor, sedangkan untuk kapal laut butuh waktu seminggu.

 

Dengan bahan yang dihabiskan untuk membuat kapal mencapai 5 kilogram koran. Sebelum dibentuk, koran dipotong lalu digulung menyerupai rotan.

Baca Juga:  Terima Remisi Tepat saat Natal, Napi Lapas Kerobokan Berbinar-binar

 

Gulunganya pun padat karena dibuat berlapis. Hasil kerajinan ini dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 100.000 – Rp 350.000.

 

“Hasil karya warga binaan dipasarkan oleh keluarga warga binanaan itu sendiri. Kadang kala ada yang langsung membeli kepada kami. Sebenarnya kami sebagai perantara menyiapkan bahan baku koran. Hasilnya penjualan tersebut sedikit tidaknya membantu keuangan napi,” jelasnya.

 

Sementara itu salah satu napi lapas Tabanan Nyoman Sukarya, 59 yang terkena kasus korupsi mengatakaan hasil karyanya berupa patung yang terbuat dari kayu membutuhkan pengerjaan selama 3 hari.

 

“Memang ada bakat dari awal sebagai tukang ukir, dudlu di rumah sering saya kerjakan pembuatan patung,” kata pria yang menjalani masa hukuman 4 tahun 4 bulan.

 

Sudah banyak hasil karyanya dibeli oleh masyarakay di Tabanan. Bahkan dari pegawai lapas. Patung kayu yang dibuat harganya berkisar dari Rp 75 ribu sampai Rp 150 ribu tergantung dari ukuran pemesanan.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/