alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Korban Meninggal DB Mulai Berjatuhan Ditengah Wabah Corona

SEMARAPURA- Di tengah upaya pemerintah pusat dan daerah ( provinsi dan kabupaten/kota) focus melakukan pencegahan penyebaran wabah virus covid-19 (corona),korban demam berdarah dengue (BDB) mulai berjatuhan.

Bahkan terbaru, satu pasien DBD asal Dusun Pakel, Desa Sampalan Tengah, Kecamatan Dawan meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUP Sanglah Denpasar, pada Sabtu (28/3) sekitar pukul 04.00 Wita.

 Ni Luh NPS, anak perempuan berusia 12 tahun ini menghembuskan nafas terakhir setelah terdiagnosa menderita DBD akut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung, dr. Ni Made Adi Swapatni saat dikonfirmasi membenarkan adanya hal tersebut.

Dijelaskannya, sebelum menghembuskan nafas terakhir, Ni Luh NPS sempat mengalami demam pada Senin (23/3) dan kemudian dibawa ke bidan untuk kedapatan penanganan.

Di bidan, Ni Luh NPS diberikan obat dan menjalani perawatan di rumah. Hanya saja hingga Selasa (24/3), kondisi Ni Luh NPS tidak kunjung membaik sehingga dibawa ke puskesmas setempat.

“Di puskesmas, pasien diberikan obat penurun panas dan menjalani perawatan di rumah,” katanya.

Baca Juga:  Cegah Pasien Makin Banyak, Semua Akses Masuk Pantai di Sanur Dibatasi

Meski telah mengonsumsi obat penurun panas, ternyata kondisi Ni Luh NPS tidak kunjung membaik hingga, Kamis (26/3).

Sehingga pihak keluarga akhirnya membawa Ni Luh NPS ke RSUD Klungkung untuk mendapat penanganan lebih lanjut, Jumat (27/3) sekitar pukul 05.00.

“Saat dibawa ke RSUD Klungkung, kondisinya sudah lemas. Sehingga dicek lab dan ada diagnosa DB,” terangnya.

Akibat kondisi kesehatan yang terus menurun, Ni Luh NPS kemudian dirujuk ke RSUP  Sanglah Denpasae sekitar pukul 17.00. Setelah menjalani perawatan di RS Sanglah, Ni Luh NPS dinyatakan meninggal dunia, Sabtu (28/3) sekitar pukul 04.00.

“Pasien meninggal dunia dalam perawatan di RSUP Sanglah,” jelasnya.

Sementara itu, Kasubag Humas RSUD Klungkung, I Gusti Putu Widiyasa yang dikonfirmasi terpisah membenarkan bila pasien atas nama Ni Luh NPS sempat dirawat di RSUD Klungkung. Ni Luh NPS tiba di RSUD Klungkung, Jumat (27/3) sekitar pukul 05.00.

Baca Juga:  Berkah Natal, 87 Warga Binaan Lapas Kerobokan Terima Remisi

Namun karena kondisi kesehatan yang terus menurun, Ni Luh NPS akhirnya dirawat di ruang ICU sekitar pukul 10.00 dengan diagnosa mengalami dengue shock syndrome (DSS).

Namun pasien dirawat hanya beberapa jam saja akibat kondisi kesehatan yang terus menurun sehingga harus dirujuk ke RSUP Sanglah.

“Dan diinformasikan bahwa pasien telah meninggal hari ini sekitar pukul 04.00,” katanya.

Terkait adanya korban jiwa akibat DB, Swapatni mengaku telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan juga melakukan sosialisasi mengenai pentingnya gaya hidup sehat.

Serta dilakukan juga pemberian abate secara berkesinambungan dari juru pemantau jentik dan petugas puskesmas. Serta fogging bagi daerah yang terdapat kasus.

“Di tengah upaya kami mengantisipasi penyebaran virus corona, kami juga tetap melakukan antisipasi DB. Jika dibandingkan, kasus DB Januari-Maret tahun ini sebenarnya lebih rendah dibandingkan dengan kasus DB Januari Maret tahun lalu,” tukasnya. 



SEMARAPURA- Di tengah upaya pemerintah pusat dan daerah ( provinsi dan kabupaten/kota) focus melakukan pencegahan penyebaran wabah virus covid-19 (corona),korban demam berdarah dengue (BDB) mulai berjatuhan.

Bahkan terbaru, satu pasien DBD asal Dusun Pakel, Desa Sampalan Tengah, Kecamatan Dawan meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUP Sanglah Denpasar, pada Sabtu (28/3) sekitar pukul 04.00 Wita.

 Ni Luh NPS, anak perempuan berusia 12 tahun ini menghembuskan nafas terakhir setelah terdiagnosa menderita DBD akut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung, dr. Ni Made Adi Swapatni saat dikonfirmasi membenarkan adanya hal tersebut.

Dijelaskannya, sebelum menghembuskan nafas terakhir, Ni Luh NPS sempat mengalami demam pada Senin (23/3) dan kemudian dibawa ke bidan untuk kedapatan penanganan.

Di bidan, Ni Luh NPS diberikan obat dan menjalani perawatan di rumah. Hanya saja hingga Selasa (24/3), kondisi Ni Luh NPS tidak kunjung membaik sehingga dibawa ke puskesmas setempat.

“Di puskesmas, pasien diberikan obat penurun panas dan menjalani perawatan di rumah,” katanya.

Baca Juga:  Karantina Banjar Munduk Berakhir, Rapid Test Ulang 11 Orang Reaktif

Meski telah mengonsumsi obat penurun panas, ternyata kondisi Ni Luh NPS tidak kunjung membaik hingga, Kamis (26/3).

Sehingga pihak keluarga akhirnya membawa Ni Luh NPS ke RSUD Klungkung untuk mendapat penanganan lebih lanjut, Jumat (27/3) sekitar pukul 05.00.

“Saat dibawa ke RSUD Klungkung, kondisinya sudah lemas. Sehingga dicek lab dan ada diagnosa DB,” terangnya.

Akibat kondisi kesehatan yang terus menurun, Ni Luh NPS kemudian dirujuk ke RSUP  Sanglah Denpasae sekitar pukul 17.00. Setelah menjalani perawatan di RS Sanglah, Ni Luh NPS dinyatakan meninggal dunia, Sabtu (28/3) sekitar pukul 04.00.

“Pasien meninggal dunia dalam perawatan di RSUP Sanglah,” jelasnya.

Sementara itu, Kasubag Humas RSUD Klungkung, I Gusti Putu Widiyasa yang dikonfirmasi terpisah membenarkan bila pasien atas nama Ni Luh NPS sempat dirawat di RSUD Klungkung. Ni Luh NPS tiba di RSUD Klungkung, Jumat (27/3) sekitar pukul 05.00.

Baca Juga:  DUH GUSTI! Kasus Kematian Covid-19 di Bali Sudah Tembus 3, 04 Persen

Namun karena kondisi kesehatan yang terus menurun, Ni Luh NPS akhirnya dirawat di ruang ICU sekitar pukul 10.00 dengan diagnosa mengalami dengue shock syndrome (DSS).

Namun pasien dirawat hanya beberapa jam saja akibat kondisi kesehatan yang terus menurun sehingga harus dirujuk ke RSUP Sanglah.

“Dan diinformasikan bahwa pasien telah meninggal hari ini sekitar pukul 04.00,” katanya.

Terkait adanya korban jiwa akibat DB, Swapatni mengaku telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan juga melakukan sosialisasi mengenai pentingnya gaya hidup sehat.

Serta dilakukan juga pemberian abate secara berkesinambungan dari juru pemantau jentik dan petugas puskesmas. Serta fogging bagi daerah yang terdapat kasus.

“Di tengah upaya kami mengantisipasi penyebaran virus corona, kami juga tetap melakukan antisipasi DB. Jika dibandingkan, kasus DB Januari-Maret tahun ini sebenarnya lebih rendah dibandingkan dengan kasus DB Januari Maret tahun lalu,” tukasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/