alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Banjar Pangkung Tibah Diberi Rp50 Ribu, Minta Rp1 Juta per Jenazah

TABANAN – Krematorium Santa Graha Tuno Desa Adat Bedha di Desa (dinas) Pangkung Tibah, Kediri, Tabanan kembali memicu pergolakan. Dua banjar di desa Pangkung Tibah menuntut agar mereka mendapat bagi hasil lebih tinggi dari yang diberikan saat ini.

 

Warga di Pangkung Tibah pun telah memasang baliho. Baliho ini atas nama Banjar Adat Pangkung Tibah Baleran, Banjar Adat Pangkung Tibah Bedelodan, Bamus ST. Widya Cantika dan Pecalang. Krematorium Santa Graha pun ditutup 27 Juli 2021.

 

Sekadar diketahui, Bedha memang desa adat yang cukup luas wilayahnya di Kabupaten Tabanan. Desa adat ini melintasi sejumlah desa dinas di tiga kecamatan. Tidak ada desa dinas Bedha di Tabanan, yang ada hanya desa adat Bedha. Namun desa adat ini memiki banjar adat yang berada di beberapa desa dinas di Kecamatan Tabanan, Kediri, dan Kerambitan.

 

Beberapa banjar adatnya berada di Desa (dinas) Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri. Yakni Banjar Adat Pangkung Tibah Bedelodan dan Pangkung Tibah Baleran. Nah, krematorium itu berada di wilayah Pangkung Tibah ini.

Baca Juga:  Produk Orba, Koster Minta Stop Program KB di Bali

- Advertisement -

 

Terkait keberadaan krematorium ini, ada dua tuntutan yang diinginkan Banjar Adat Pangkung Tibah  Bedelodan dan Banjar Adat Pangkung Tibah Baleran termasuk Bamus ST. Widya Cantika terhadap krematorium Santa Graha yang sudah beroperasi belum lama ini.

 

Mereka meminta kepada pengelola krematorium agar pembagian pah-pahan (bagi hasil) per sawa (jenazah) yang dikremasi di krematorium sebesar Rp1 juta untuk dua banjar adat. Selanjutnya meminta Ketua Pengelola Krematorium Santa Graha Nengah Subagia mundur karena dinilai tidak adil.

 

Sebenarnya mediasi untuk pembagian pah-pahan ini sudah dilakukan setahun lebih namun belum menemukan titik terang. Awalnya pihak pengelola memberikan pah-pahan Rp 50 ribu per sawa dan ditolak dua banjar adat. Kemudian kembali lagi dimediasi menjadi Rp 100 ribu, namun tetap ditolak.

Banjar Adat Pangkung Tibah Bedelodan dan Banjar Adat Pangkung Tibah Baleran meminta pembagian pah-pahan per sawa Rp1 juta karena dinilai wajar. Hitung-hitunganya per sawa yang diupacarai sampai selesai hingga meroras (upacara tingkat akhir) sudah dapat keuntungan banyak.

Baca Juga:  Geram Rest Area Kemalingan, Bupati Suwirta Segera Pasang CCTV

 

Ketua Bamus Pangkung Tibah I Made Sukarma membenarkan alasan warga memasang baliho penutupan Krematorium Santa Graha karena terkait pah-pahan. Namun, ia meminta wartawan mengkonfirmasi masalah ini ke Perbekel Pangkung Tibah.

 

Sementara itu Bendesa Adat Bedha I Nyoman Surata menjelaskan, masalah ini sudah dirembukkan. Bahkan, diikuti I Made Dirga, ketua DPRD Tabanan yang juga warga Desa Dinas Sudimara (masuk dalam desa adat Bedha).

 

Namun, soal tuntutan Rp 1 juta per sawa, dia menyebut belum ada titik temu. Masih dirembukkan.

 

“Jumlahnya ini masih dirumuskan, intinya hasil mediasi sama-sama memahami kemampuan dan tuntutan supaya seimbang sama-sama memikul beban itu,” jelasnya.

 

Sedangkan mengenai tuntutan mundur Ketua Pengelola Krematorium Nengah Subagia, Surata mengatakan bahwa Subagia sudah mengundurkan diri. Saat ini masih dicarikan penggantinya.

- Advertisement -

TABANAN – Krematorium Santa Graha Tuno Desa Adat Bedha di Desa (dinas) Pangkung Tibah, Kediri, Tabanan kembali memicu pergolakan. Dua banjar di desa Pangkung Tibah menuntut agar mereka mendapat bagi hasil lebih tinggi dari yang diberikan saat ini.

 

Warga di Pangkung Tibah pun telah memasang baliho. Baliho ini atas nama Banjar Adat Pangkung Tibah Baleran, Banjar Adat Pangkung Tibah Bedelodan, Bamus ST. Widya Cantika dan Pecalang. Krematorium Santa Graha pun ditutup 27 Juli 2021.

 

Sekadar diketahui, Bedha memang desa adat yang cukup luas wilayahnya di Kabupaten Tabanan. Desa adat ini melintasi sejumlah desa dinas di tiga kecamatan. Tidak ada desa dinas Bedha di Tabanan, yang ada hanya desa adat Bedha. Namun desa adat ini memiki banjar adat yang berada di beberapa desa dinas di Kecamatan Tabanan, Kediri, dan Kerambitan.

 

Beberapa banjar adatnya berada di Desa (dinas) Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri. Yakni Banjar Adat Pangkung Tibah Bedelodan dan Pangkung Tibah Baleran. Nah, krematorium itu berada di wilayah Pangkung Tibah ini.

Baca Juga:  Produk Orba, Koster Minta Stop Program KB di Bali

 

Terkait keberadaan krematorium ini, ada dua tuntutan yang diinginkan Banjar Adat Pangkung Tibah  Bedelodan dan Banjar Adat Pangkung Tibah Baleran termasuk Bamus ST. Widya Cantika terhadap krematorium Santa Graha yang sudah beroperasi belum lama ini.

 

Mereka meminta kepada pengelola krematorium agar pembagian pah-pahan (bagi hasil) per sawa (jenazah) yang dikremasi di krematorium sebesar Rp1 juta untuk dua banjar adat. Selanjutnya meminta Ketua Pengelola Krematorium Santa Graha Nengah Subagia mundur karena dinilai tidak adil.

 

Sebenarnya mediasi untuk pembagian pah-pahan ini sudah dilakukan setahun lebih namun belum menemukan titik terang. Awalnya pihak pengelola memberikan pah-pahan Rp 50 ribu per sawa dan ditolak dua banjar adat. Kemudian kembali lagi dimediasi menjadi Rp 100 ribu, namun tetap ditolak.

Banjar Adat Pangkung Tibah Bedelodan dan Banjar Adat Pangkung Tibah Baleran meminta pembagian pah-pahan per sawa Rp1 juta karena dinilai wajar. Hitung-hitunganya per sawa yang diupacarai sampai selesai hingga meroras (upacara tingkat akhir) sudah dapat keuntungan banyak.

Baca Juga:  Banjar Minta Rp1 Juta per Jenazah, Ternyata Biaya Ngaben Capai 26 Juta

 

Ketua Bamus Pangkung Tibah I Made Sukarma membenarkan alasan warga memasang baliho penutupan Krematorium Santa Graha karena terkait pah-pahan. Namun, ia meminta wartawan mengkonfirmasi masalah ini ke Perbekel Pangkung Tibah.

 

Sementara itu Bendesa Adat Bedha I Nyoman Surata menjelaskan, masalah ini sudah dirembukkan. Bahkan, diikuti I Made Dirga, ketua DPRD Tabanan yang juga warga Desa Dinas Sudimara (masuk dalam desa adat Bedha).

 

Namun, soal tuntutan Rp 1 juta per sawa, dia menyebut belum ada titik temu. Masih dirembukkan.

 

“Jumlahnya ini masih dirumuskan, intinya hasil mediasi sama-sama memahami kemampuan dan tuntutan supaya seimbang sama-sama memikul beban itu,” jelasnya.

 

Sedangkan mengenai tuntutan mundur Ketua Pengelola Krematorium Nengah Subagia, Surata mengatakan bahwa Subagia sudah mengundurkan diri. Saat ini masih dicarikan penggantinya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/