alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Tolak Masuk Kamp Pengungsian Karena Tak Bisa Bawa Ternak

RadarBali.com – Sebanyak 67 orang warga dari Banjar Dinas Batugiling, Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, membangun kamp pengungsian secara mandiri.

Mereka menempati areal perkebunan jati seluas enam hektare yang dimiliki warga bernama Nyoman Ariasa.

Menurut seorang pengungsi, Ketut Pica, dirinya merasa lebih lega berada di pengungsian mandiri seperti itu. Meski dengan fasilitas minim.

Alasannya, mereka bisa membawa ternak yang menjadi harta satu-satunya. Mereka menolak masuk ke kamp pengungsian, karena tak bisa membawa ternak.

“Kalau dijual, harganya jatuh sekali. Ini harta kami satu-satunya. Makanya kami bawa ke sini. Harapan kami kan biar ada yang membeli dengan harga wajar. Tidak mungkin kami jual sapi seharga Rp 5 juta, padahal harga wajarnya Rp 10 juta,” kata Pica.

Baca Juga:  Kasus Korupsi LPD Tuwed Jembrana Belum Disidangkan, Ada Apa?

Pica berharap para pengungsi di kamp itu bisa mendapat bantuan tenda. “Kami sekarang ini hanya terpal saja. Sementara musim kering masih aman. Kalau sudah musim hujan, kami takut. Apalagi ada anak-anak. Kami butuh tenda itu saja, sembako sudah dibantu relawan dari desa,” imbuhnya.



RadarBali.com – Sebanyak 67 orang warga dari Banjar Dinas Batugiling, Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, membangun kamp pengungsian secara mandiri.

Mereka menempati areal perkebunan jati seluas enam hektare yang dimiliki warga bernama Nyoman Ariasa.

Menurut seorang pengungsi, Ketut Pica, dirinya merasa lebih lega berada di pengungsian mandiri seperti itu. Meski dengan fasilitas minim.

Alasannya, mereka bisa membawa ternak yang menjadi harta satu-satunya. Mereka menolak masuk ke kamp pengungsian, karena tak bisa membawa ternak.

“Kalau dijual, harganya jatuh sekali. Ini harta kami satu-satunya. Makanya kami bawa ke sini. Harapan kami kan biar ada yang membeli dengan harga wajar. Tidak mungkin kami jual sapi seharga Rp 5 juta, padahal harga wajarnya Rp 10 juta,” kata Pica.

Baca Juga:  Redam Konflik, Warga Kanorayang dan Desa Adat Segera Dipertemukan

Pica berharap para pengungsi di kamp itu bisa mendapat bantuan tenda. “Kami sekarang ini hanya terpal saja. Sementara musim kering masih aman. Kalau sudah musim hujan, kami takut. Apalagi ada anak-anak. Kami butuh tenda itu saja, sembako sudah dibantu relawan dari desa,” imbuhnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/