alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Awas Semeton, Musim Kemarau Panjang, Lereng Gunung Agung Terbakar

AMLAPURA – Kebakaran terjadi di lereng Gunung Agung kemarin. Menurut Kadis Pemadam Kebakaran Nyoman Sutirtayasa, kebakaran mulai terlihat pukul 09.49 wita.

Kebakaran berawal di lereng utara Gunung Agung yakni di Desa Kubu. Pihak Damkar sendiri sudah menyiagakan timnya.

Hanya saja kerena kebakaran terjadi di arel puncak adan merupakan zona bahaya Gunung Agung, pihaknya tidak sampai menerjunkan tim kesana.

Namun, tim sudah memantau perkembangan api kalau kalau-kalau merambat ke bawah. Di antaranya ke pemukiman penduduk dan juga pura pura yang ada di lereng Gunung Agung.

“Kita hanya mengantisipasi agar tidak merambat ke bawah,” ujar Sutirtayasa. Tim pemadam akan langsung mencegatnya kalau rembatan api ke bawah.

Baca Juga:  Dari 51 Desa di Jembrana, 22 Desa Sudah Masuk Zona Hijau

Memasuki siang hari api bahkan sudah merambat ke lereng selatan Gunung Agung. Tepatnya diatas Pura Pejenangan dengan ketinggian sekitar 1500 mdlp.

“Itu lokasinya diatas zona erupsi,” katanya. Pemantauan juga sudah dilakukan RPH Bali timur melalui pos pos pemantauan.

Di sisi selatan, antisipasi juga tetap dilakukan kalau api mengarah ke bawah. Saat sore hari, api dilaporkan merambat di lereng barat sekitar Pura Gae.

Untuk diketahui sebelumnya Gunung Agung juga sempat mengalami kebakaran hebat sekitar empat tahun lalu.

Saat itu bantuan bahkan sampai datang dari BPBD se – Bali. Saat itu muncul gagasan untuk memadamkan dengan menggunakan Helikopter.

Namun itu tidak mudah dilakukan. Kondisi diatas sendiri cukup berbahaya karena angin kencang. Api berkobar sangat cepat. Ini harus di waspadai karena bisa saja membahayakan tim pemadam kebakaran.

Baca Juga:  Posko Sutasoma Dibongkar, Donasi Diarahkan ke Pengungsi Mandiri

Saat kebakaran terjadi di lereng, kondisi Gunung Agung terlihat lebih tenang. Nampak asap tipis dari kawah dengan ketinggian 200 meter.

Juga terjadi gempa vulkanik dangkal terjadi dua kali dan tektonik jauh sebanyak 2 kali. Untuk  embusan tidak terjadi.

Untuk berapa banyak areal luas lahan yang terbakar belum bisa terdetaksi. “Kalau luas areal hutan yang terbakar belum kita bisa deteksi,” ujar Sutiryayasa.



AMLAPURA – Kebakaran terjadi di lereng Gunung Agung kemarin. Menurut Kadis Pemadam Kebakaran Nyoman Sutirtayasa, kebakaran mulai terlihat pukul 09.49 wita.

Kebakaran berawal di lereng utara Gunung Agung yakni di Desa Kubu. Pihak Damkar sendiri sudah menyiagakan timnya.

Hanya saja kerena kebakaran terjadi di arel puncak adan merupakan zona bahaya Gunung Agung, pihaknya tidak sampai menerjunkan tim kesana.

Namun, tim sudah memantau perkembangan api kalau kalau-kalau merambat ke bawah. Di antaranya ke pemukiman penduduk dan juga pura pura yang ada di lereng Gunung Agung.

“Kita hanya mengantisipasi agar tidak merambat ke bawah,” ujar Sutirtayasa. Tim pemadam akan langsung mencegatnya kalau rembatan api ke bawah.

Baca Juga:  Dari 51 Desa di Jembrana, 22 Desa Sudah Masuk Zona Hijau

Memasuki siang hari api bahkan sudah merambat ke lereng selatan Gunung Agung. Tepatnya diatas Pura Pejenangan dengan ketinggian sekitar 1500 mdlp.

“Itu lokasinya diatas zona erupsi,” katanya. Pemantauan juga sudah dilakukan RPH Bali timur melalui pos pos pemantauan.

Di sisi selatan, antisipasi juga tetap dilakukan kalau api mengarah ke bawah. Saat sore hari, api dilaporkan merambat di lereng barat sekitar Pura Gae.

Untuk diketahui sebelumnya Gunung Agung juga sempat mengalami kebakaran hebat sekitar empat tahun lalu.

Saat itu bantuan bahkan sampai datang dari BPBD se – Bali. Saat itu muncul gagasan untuk memadamkan dengan menggunakan Helikopter.

Namun itu tidak mudah dilakukan. Kondisi diatas sendiri cukup berbahaya karena angin kencang. Api berkobar sangat cepat. Ini harus di waspadai karena bisa saja membahayakan tim pemadam kebakaran.

Baca Juga:  WASPADA! Kemarau Panjang, Cuaca Terik, Gunung Batur Terbakar

Saat kebakaran terjadi di lereng, kondisi Gunung Agung terlihat lebih tenang. Nampak asap tipis dari kawah dengan ketinggian 200 meter.

Juga terjadi gempa vulkanik dangkal terjadi dua kali dan tektonik jauh sebanyak 2 kali. Untuk  embusan tidak terjadi.

Untuk berapa banyak areal luas lahan yang terbakar belum bisa terdetaksi. “Kalau luas areal hutan yang terbakar belum kita bisa deteksi,” ujar Sutiryayasa.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/