alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Isu Penolakan Bandara Menyeruak, Pecalang Turun Kawal Tanah Desa

SINGARAJA  – Pecalang di Desa Pakraman Kubutambahan, pagi kemarin terpaksa turun mengawal lahan duwen Pura Desa Kubutambahan.

Pengawalan itu dilakukan, menyusul merebaknya isu penolakan pembangunan bandara internasional di Kecamatan Kubutambahan.

Kabar itu merebak melalui pesan WhatsApp. Dalam pesan yang menyebar itu disebutkan bahwa ada pergerakan warga dari tiga desa yang terdampak bandara.

Masing-masing warga Desa Bukti, Desa Bulian, dan Desa Kubutambahan. Warga akan melakukan aksi yang menentang bandara di Desa Kubutambahan.

Tersebarnya kabar itu kontan membuat sejumlah pihak gerah. Pecalang Desa Adat Kubutambahan berjaga di sejumlah titik di areal lahan duwen Pura Desa Kubutambahan.

Terutama di titik perbatasan antar desa. Namun hingga siang kemarin, tidak ada tanda-tanda terjadi aksi penolakan.

Baca Juga:  Rai Mantra dan Rhenald Kasali dalam Seminar ASN

Salah seorang warga Desa Kubutambahan, Nengah Lengka mengatakan, sekitar pukul 07.00 pagi kemarin (27/9) memang terlihat ada aktifitas sekirang 15 orang warga dengan mengenakan pakaian adat madya.

Hanya saja Lengka yang juga anggota Pecalang Desa Pakraman Kubutambahan itu tak mengetahui asal usulnya.

Lengka menyebut belasan warga itu memasang sebuah baliho diantara Banjar Dinas Tukad Ampel Desa Kubutambahan, dengan Banjar Dinas Bantes Desa Bulian.

Tepatnya di selatan SMKN Bali Mandara. Baliho itu berupa wajah Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati.

Lengkap dengan slogan “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. “Saya kebetulan tadi ada di kandang, kasih makan sapi. Saya lihat ada ramai-ramai di jalan. Saya dekati, maunya saya tanya ada apa.

Baca Juga:  Masa Depan Bandara Bali Utara Arahan Jokowi Suram, Ini Langkah Bupati

Belum saya sampai, mereka sudah bubar. Tidak lama, mungkin sekitar 15 menit-an. Habis pasang baliho itu mereka bubar,” kata Lengka yang tinggal tak jauh dari SMKN Bali Mandara.

 

 

 



SINGARAJA  – Pecalang di Desa Pakraman Kubutambahan, pagi kemarin terpaksa turun mengawal lahan duwen Pura Desa Kubutambahan.

Pengawalan itu dilakukan, menyusul merebaknya isu penolakan pembangunan bandara internasional di Kecamatan Kubutambahan.

Kabar itu merebak melalui pesan WhatsApp. Dalam pesan yang menyebar itu disebutkan bahwa ada pergerakan warga dari tiga desa yang terdampak bandara.

Masing-masing warga Desa Bukti, Desa Bulian, dan Desa Kubutambahan. Warga akan melakukan aksi yang menentang bandara di Desa Kubutambahan.

Tersebarnya kabar itu kontan membuat sejumlah pihak gerah. Pecalang Desa Adat Kubutambahan berjaga di sejumlah titik di areal lahan duwen Pura Desa Kubutambahan.

Terutama di titik perbatasan antar desa. Namun hingga siang kemarin, tidak ada tanda-tanda terjadi aksi penolakan.

Baca Juga:  Sentil Lokasi, Jro Ray Yusha: Jangan Nanti Jadi Bandara Kebarat-birit!

Salah seorang warga Desa Kubutambahan, Nengah Lengka mengatakan, sekitar pukul 07.00 pagi kemarin (27/9) memang terlihat ada aktifitas sekirang 15 orang warga dengan mengenakan pakaian adat madya.

Hanya saja Lengka yang juga anggota Pecalang Desa Pakraman Kubutambahan itu tak mengetahui asal usulnya.

Lengka menyebut belasan warga itu memasang sebuah baliho diantara Banjar Dinas Tukad Ampel Desa Kubutambahan, dengan Banjar Dinas Bantes Desa Bulian.

Tepatnya di selatan SMKN Bali Mandara. Baliho itu berupa wajah Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati.

Lengkap dengan slogan “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. “Saya kebetulan tadi ada di kandang, kasih makan sapi. Saya lihat ada ramai-ramai di jalan. Saya dekati, maunya saya tanya ada apa.

Baca Juga:  Tampung Siswa Tercecer, Bupati Mahayastra Putuskan SMAN Tambah Kelas

Belum saya sampai, mereka sudah bubar. Tidak lama, mungkin sekitar 15 menit-an. Habis pasang baliho itu mereka bubar,” kata Lengka yang tinggal tak jauh dari SMKN Bali Mandara.

 

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/