alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Sudirta Ajak Dosen dan Mahasiswa Bangun Karakter Melalui Pendidikan

DENPASAR- Berkaca dari keteladanan dan perjuangan para tokoh, pahlawan sekaligus pejuang pendiri bangsa, seperti Bung Karno dan Bung Hatta, Anggota DPR RI Dapil Bali, I Wayan Sudirta, SH,mengajak para akademisi mampu membangun karakter melalui pendidikan.

 

Hal ini karena cikal bakal terwujudnya kemerdekaan bangsa Indonesia tak lepas dari kontribusi pendidikan melalui sekolah.

 

Ajakan Sudirta agar para akademisi seperti dosen dan mahasiswa mampu membangun karakter melalui pendidikan, itu sebagaimana disampaikan saat dirinya tampil menjadi narasumber pada “Gema Acara Penerimaan Eksekutif Muda Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, secara daring (dalam jaringan), pada Senin, (28/9).

 

Diikuti oleh sekitar 2.600 mahasiswa baru Unmas. Sudirta yang juga merupakan alumni SLUA Saraswati inipun juga berbagi pengalaman dan suka duka orangtuanya membesarkan dan menyekolahkan ke-24 anaknya.

 

‘’Orangtua saya buta huruf, tetapi beliau seorang kepala Dusun, kelian Banjar, kelian Dadia dan disegani krama (masyarakat). Walau buta huruf, beliau menyekolahkan ke-24 anaknya walaupun tidak berkecukupan keuangan, entah dapat ide dari mana.

Setelah dilihat perkembangan sampai sekarang, orang mengatakan, anak-anak Guru Dangin, nama ayah saya, sukses karena pendidikan.

Saya juga tidak mungkin bisa duduk dan bicara di depan mahasiswa, kalau dulu tidak bersekolah,’’ ujar Sudirta, panjang lebar.

 

Lebih lanjut, Sudirta yang diundang langsung Rektor Unmas Dr Made Sukamerta ini, juga diminta berbagi pengalaman tentang perjuangannya ketika duduk sebagai wakil rakyat di DPR RI maupun di DPD RI dua periode sebelumnya.

Baca Juga:  Komisi III DPR RI Wayan Sudirta Apresiasi Koster Legalkan Arak Bali

 

Rektor yang juga pemangku/pinandita ini mengajak mahasiswa cerdas memilih wakil di legislatif maupun eksekutif. 

 

Sudirta memaparkan pengalaman pribadi itu sebagai alumni Saraswati, dimana SMA-nya ia tamat di SLUA Tabanan.

 

‘’Pengalaman pribadi ini, maaf bukan bermaksud menepuk dada. Tapi, sekadar mengatakan bahwa, saya benar-benar yakin bahwa untuk memajukan generasi muda, pendidikan sangatlah penting.

 

Karena para pendiri bangsa ini, yang meletakkan konsep dasar pembangunan bangsa, adalah produk dari pendidikan.

Tetapi, visi dan misi pendidikannya harus jelas, seperti dikatakan Bung Karno dan pendiri bangsa yang lain, betapa pentingnya nation and character building, membangun bangsa dan membangun karakternya,’’ katanya.

 

Sudirta mengajak seluruh mahasiswa maupun dosen UNMAS, mengingat kembali pentingnya pembangunan karakter, kejujuran, keberanian, semangat bekerja keras dan disiplin.

 

Walaupun saat Bung Karno dan pendiri bangsa berhasil memerdekakan Indonesia melawan kolonialisme, selain bermodalkan pendidikan formal, mereka juga memiliki kejujuran, keberanian, dedikasi, kecerdasan, serta karakter serta kesetiakawanan, sehingga selain bisa mengusir penjajah, juga mempersatukan suku, agama dan budaya yang bhineka menjadi Republik Indonesia.

 

Ia banyak memaparkan, bagaimana negara-negara seperti Jepang, Korea, yang pernah mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II, hanya dalam beberapa puluh tahun, bisa bangkit dan menjadi bangsa yang maju.

Modal mereka jelas, disiplin, kerja keras, kecerdasan, dan nasionalisme.

 

Negara lain yang tidak kalah menarik untuk jadi referensi, seperti Skandinavia, Finlandia, Selandia Baru, menjadi negara yang bersih dari korupsi, sejahtera, nasionalisme yang juga kuat.

Baca Juga:  Deadlock, MDA Bebandem Nyerah soal Kisruh Pemilihan Bendesa Liligundi

 

Negara-negara ini dalam pendidikannya menekankan kejujuran dibanding kepintaran.

 

‘’Di negara ini, anak yang menyalip antrean, mendapat hukuman lebih keras dibanding anak yang nilai akademisnya tidak terlalu tinggi. Lalu, sistem pendidikan kita bagaimana? Mengapa masih banyak korupsi, mengapa banyak ketidakadilan, penegakan hukum yang menyimpang? Dimana masalahnya? Kita perlu merenungkan, mungkin penekanan pendidikan di Indonesia ini perlu menekankan kepintaran, keberanian, nasionalisme dan kejujuran,’’ katanya. 

 

Di akhir paparan, setelah menyemangati Eno dan Listya, dua mahasiswa yang mengajukan pertanyaan dalam webminar tersebut, Sudirta membacakan sebuah puisi Wiji Tukul, salah satu ‘’orang hilang’’ semasa pemerintahan Soeharto yang otoriter.

 

Sudirta yang juga dikenal sebagai advokat keras dan mengkritisi Soeharto sampai pernah menjadi DPO selama 13 bulan, dan kini juga dikenal sebagai pengacara Ahok dan pengacara Presiden Joko Widodo dan Menteri Hukum dan HAM, lalu membacakan puisi Wiji Thukul yang berjudul “Dibawah Selimut Kedamaian Palsu”:

 

“Apa gunanya ilmu; kalau hanya untuk mengibuli; apa guna baca buku; kalau mulut kau bungkam melulu; di mana-mana moncong senjata; berdiri gagah; kongkalikong; dengan kaum cukong; di desa-desa; rakyat dipaksa; menjual tanah; tapi, tapi, tapi, tapi;  dengan harga murah; apa guna baca buku; kalau mulut kau bungkam melulu.”tukas Sudirta mengutip petikan puisi Wiji Thukul.



DENPASAR- Berkaca dari keteladanan dan perjuangan para tokoh, pahlawan sekaligus pejuang pendiri bangsa, seperti Bung Karno dan Bung Hatta, Anggota DPR RI Dapil Bali, I Wayan Sudirta, SH,mengajak para akademisi mampu membangun karakter melalui pendidikan.

 

Hal ini karena cikal bakal terwujudnya kemerdekaan bangsa Indonesia tak lepas dari kontribusi pendidikan melalui sekolah.

 

Ajakan Sudirta agar para akademisi seperti dosen dan mahasiswa mampu membangun karakter melalui pendidikan, itu sebagaimana disampaikan saat dirinya tampil menjadi narasumber pada “Gema Acara Penerimaan Eksekutif Muda Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, secara daring (dalam jaringan), pada Senin, (28/9).

 

Diikuti oleh sekitar 2.600 mahasiswa baru Unmas. Sudirta yang juga merupakan alumni SLUA Saraswati inipun juga berbagi pengalaman dan suka duka orangtuanya membesarkan dan menyekolahkan ke-24 anaknya.

 

‘’Orangtua saya buta huruf, tetapi beliau seorang kepala Dusun, kelian Banjar, kelian Dadia dan disegani krama (masyarakat). Walau buta huruf, beliau menyekolahkan ke-24 anaknya walaupun tidak berkecukupan keuangan, entah dapat ide dari mana.

Setelah dilihat perkembangan sampai sekarang, orang mengatakan, anak-anak Guru Dangin, nama ayah saya, sukses karena pendidikan.

Saya juga tidak mungkin bisa duduk dan bicara di depan mahasiswa, kalau dulu tidak bersekolah,’’ ujar Sudirta, panjang lebar.

 

Lebih lanjut, Sudirta yang diundang langsung Rektor Unmas Dr Made Sukamerta ini, juga diminta berbagi pengalaman tentang perjuangannya ketika duduk sebagai wakil rakyat di DPR RI maupun di DPD RI dua periode sebelumnya.

Baca Juga:  Wayan Sudirta Dorong Kejagung Pakai Pidana Korupsi Bagi Mafia Migor

 

Rektor yang juga pemangku/pinandita ini mengajak mahasiswa cerdas memilih wakil di legislatif maupun eksekutif. 

 

Sudirta memaparkan pengalaman pribadi itu sebagai alumni Saraswati, dimana SMA-nya ia tamat di SLUA Tabanan.

 

‘’Pengalaman pribadi ini, maaf bukan bermaksud menepuk dada. Tapi, sekadar mengatakan bahwa, saya benar-benar yakin bahwa untuk memajukan generasi muda, pendidikan sangatlah penting.

 

Karena para pendiri bangsa ini, yang meletakkan konsep dasar pembangunan bangsa, adalah produk dari pendidikan.

Tetapi, visi dan misi pendidikannya harus jelas, seperti dikatakan Bung Karno dan pendiri bangsa yang lain, betapa pentingnya nation and character building, membangun bangsa dan membangun karakternya,’’ katanya.

 

Sudirta mengajak seluruh mahasiswa maupun dosen UNMAS, mengingat kembali pentingnya pembangunan karakter, kejujuran, keberanian, semangat bekerja keras dan disiplin.

 

Walaupun saat Bung Karno dan pendiri bangsa berhasil memerdekakan Indonesia melawan kolonialisme, selain bermodalkan pendidikan formal, mereka juga memiliki kejujuran, keberanian, dedikasi, kecerdasan, serta karakter serta kesetiakawanan, sehingga selain bisa mengusir penjajah, juga mempersatukan suku, agama dan budaya yang bhineka menjadi Republik Indonesia.

 

Ia banyak memaparkan, bagaimana negara-negara seperti Jepang, Korea, yang pernah mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II, hanya dalam beberapa puluh tahun, bisa bangkit dan menjadi bangsa yang maju.

Modal mereka jelas, disiplin, kerja keras, kecerdasan, dan nasionalisme.

 

Negara lain yang tidak kalah menarik untuk jadi referensi, seperti Skandinavia, Finlandia, Selandia Baru, menjadi negara yang bersih dari korupsi, sejahtera, nasionalisme yang juga kuat.

Baca Juga:  Diguyur Hujan, Jalan Kabupaten Amblas

 

Negara-negara ini dalam pendidikannya menekankan kejujuran dibanding kepintaran.

 

‘’Di negara ini, anak yang menyalip antrean, mendapat hukuman lebih keras dibanding anak yang nilai akademisnya tidak terlalu tinggi. Lalu, sistem pendidikan kita bagaimana? Mengapa masih banyak korupsi, mengapa banyak ketidakadilan, penegakan hukum yang menyimpang? Dimana masalahnya? Kita perlu merenungkan, mungkin penekanan pendidikan di Indonesia ini perlu menekankan kepintaran, keberanian, nasionalisme dan kejujuran,’’ katanya. 

 

Di akhir paparan, setelah menyemangati Eno dan Listya, dua mahasiswa yang mengajukan pertanyaan dalam webminar tersebut, Sudirta membacakan sebuah puisi Wiji Tukul, salah satu ‘’orang hilang’’ semasa pemerintahan Soeharto yang otoriter.

 

Sudirta yang juga dikenal sebagai advokat keras dan mengkritisi Soeharto sampai pernah menjadi DPO selama 13 bulan, dan kini juga dikenal sebagai pengacara Ahok dan pengacara Presiden Joko Widodo dan Menteri Hukum dan HAM, lalu membacakan puisi Wiji Thukul yang berjudul “Dibawah Selimut Kedamaian Palsu”:

 

“Apa gunanya ilmu; kalau hanya untuk mengibuli; apa guna baca buku; kalau mulut kau bungkam melulu; di mana-mana moncong senjata; berdiri gagah; kongkalikong; dengan kaum cukong; di desa-desa; rakyat dipaksa; menjual tanah; tapi, tapi, tapi, tapi;  dengan harga murah; apa guna baca buku; kalau mulut kau bungkam melulu.”tukas Sudirta mengutip petikan puisi Wiji Thukul.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/