alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Erupsi Gunung Agung Terjadi Terus Menerus, Ini Analisis Terbaru PVMBG…

AMLAPURA – Intensitas Gunung Agung dua hari terakhir naik tajam. Erupsi terjadi terus menerus disertai lava pijar yang keluar dari mulut kawah.

Bahkan, hujan abu tersebar hingga radius berkilo-kilometer dari puncak gunung setinggi 3.142 mdpl itu.

Kabid Mitigasi PVMBG  Devy Kamil Syahbana mengatakan, teramati peningkatan amplitudo seismik secara cepat dalam 24 jam terakhir.

Kegempaan didominasi oleh gempa-gempa permukaan berupa hembusan. Dimana gempa-gempa ini kemudian menjadi satu membentuk tremor menerus sejak sekitar pukul 12:30.

Secara deformasi teramati inflasi sejak 13 Mei 2018 hingga saat ini. “Hal itu  mengindikasikan adanya pembangunan tekanan di dalam tubuh Gunung Agung,” ulas Devy.

Secara geokimia, gas-gas SO2 terakhir kali terukur dengan fluks pada kisaran 200 ton per hari. Hal ini mengindikasikan masih adanya kontribusi magmatik dari dalam tubuh Gunung Agung.

Baca Juga:  Berbahan Bakar Methanol, Ini Keunggulan dan Kelemahan Tawon 1.8

Dari satelit teramati Hotspot yang mengindikasikan adanya lava panas di permukaan
kawah.

“Lava ini dapat berupa lava lama yang dipanaskan ataupun lava baru yang dikeluarkan dari erupsi tadi malam,” bebernya.

Kesimpulannya, menurut analisisnya, fenomena yang terjadi saat ini kemungkinan berupa aliran fluida ke permukaan berdasarkan pengamatan visual dimana kolom asap relatif berwarna putih dan ketinggian relatif konstan.

Aliran fluida bisa berupa gas maupun aliran lava baru kepermukaan. Frekwensi dominan tremor belum berubah konstan di sekitar4.7 MHz yang mengindikasikan laju aliran fluida ke permukaan relatifkonstan.

“Jika frekuensi dominan tremor mengalami perubahan semisal jika menurun, maka kemungkinan bisa mengindikasikan terjadinya penyumbatan dan erupsi eksplosif bisa terjadi,” tandasnya.

Baca Juga:  Bandara Ngurah Rai Tutup Total, Penumpang Disarankan Naik Bus

Jika aktivitas hembusan  ini terus berlangsung tanpa mengalami perubahan laju maka kemungkinan
yang terjadi adalah pengisian lava baru ke permukaan dan atau emisi gas magmatik.

Hhal ini baru dapat dikonfirmasi nanti dengan melihatcitra satelit thermal. “Jika terjadiperubahan signifikan maka status dan/atau rekomendasi aktivitas GunungAgung akan dievaluasi kembali,” lontar Devy Kamil.

Faktanya, hingga tadi malam aktivitas terus meningkat dengan munculnya lontaran kerikil dan lava pijar di sekitar kawah.

Kondisi ini memaksa warga kembali mengungsi. Hingga saat ini, ratusan warga antara lain sudah memadati Balai Utama Kantor Camat Selat, Karangasem dan sebagian desa di Kecamatan Rendang, Karangasem. 



AMLAPURA – Intensitas Gunung Agung dua hari terakhir naik tajam. Erupsi terjadi terus menerus disertai lava pijar yang keluar dari mulut kawah.

Bahkan, hujan abu tersebar hingga radius berkilo-kilometer dari puncak gunung setinggi 3.142 mdpl itu.

Kabid Mitigasi PVMBG  Devy Kamil Syahbana mengatakan, teramati peningkatan amplitudo seismik secara cepat dalam 24 jam terakhir.

Kegempaan didominasi oleh gempa-gempa permukaan berupa hembusan. Dimana gempa-gempa ini kemudian menjadi satu membentuk tremor menerus sejak sekitar pukul 12:30.

Secara deformasi teramati inflasi sejak 13 Mei 2018 hingga saat ini. “Hal itu  mengindikasikan adanya pembangunan tekanan di dalam tubuh Gunung Agung,” ulas Devy.

Secara geokimia, gas-gas SO2 terakhir kali terukur dengan fluks pada kisaran 200 ton per hari. Hal ini mengindikasikan masih adanya kontribusi magmatik dari dalam tubuh Gunung Agung.

Baca Juga:  Sudirta Minta Pemda Canangkan Program Konkrit Bagi Disabilitas di Bali

Dari satelit teramati Hotspot yang mengindikasikan adanya lava panas di permukaan
kawah.

“Lava ini dapat berupa lava lama yang dipanaskan ataupun lava baru yang dikeluarkan dari erupsi tadi malam,” bebernya.

Kesimpulannya, menurut analisisnya, fenomena yang terjadi saat ini kemungkinan berupa aliran fluida ke permukaan berdasarkan pengamatan visual dimana kolom asap relatif berwarna putih dan ketinggian relatif konstan.

Aliran fluida bisa berupa gas maupun aliran lava baru kepermukaan. Frekwensi dominan tremor belum berubah konstan di sekitar4.7 MHz yang mengindikasikan laju aliran fluida ke permukaan relatifkonstan.

“Jika frekuensi dominan tremor mengalami perubahan semisal jika menurun, maka kemungkinan bisa mengindikasikan terjadinya penyumbatan dan erupsi eksplosif bisa terjadi,” tandasnya.

Baca Juga:  PLN Siapkan Pasokan Listrik di 13 Titik Pengungsian

Jika aktivitas hembusan  ini terus berlangsung tanpa mengalami perubahan laju maka kemungkinan
yang terjadi adalah pengisian lava baru ke permukaan dan atau emisi gas magmatik.

Hhal ini baru dapat dikonfirmasi nanti dengan melihatcitra satelit thermal. “Jika terjadiperubahan signifikan maka status dan/atau rekomendasi aktivitas GunungAgung akan dievaluasi kembali,” lontar Devy Kamil.

Faktanya, hingga tadi malam aktivitas terus meningkat dengan munculnya lontaran kerikil dan lava pijar di sekitar kawah.

Kondisi ini memaksa warga kembali mengungsi. Hingga saat ini, ratusan warga antara lain sudah memadati Balai Utama Kantor Camat Selat, Karangasem dan sebagian desa di Kecamatan Rendang, Karangasem. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/