alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Puluhan Hektare Sawah di Jembrana Mengalami Puso Akibat Kekeringan

NEGARA – Musim kemarau yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir, membuat puluhan hektare sawah di Jembrana, Bali, mengalami kekeringan. Akibatnya, puluhan hektare padi yang telanjur menanam mengalami puso alias gagal panen. Luas lahan yang puso berpotensi semakin meluas lagi jika kekeringan masih terjadi.

 

Kepala Dinas Pertanian dan pangan wayan Sutama, melalui Kepala Bidang Pertanian I Komang Ngurah Arya Kusuma mengatakan, lahan pertanian yang mengalami kekeringan hingga pertengahan bulan Juli seluas 89 hektare.

 

Dari luas lahan tersebut seluas 50 hektare sudah dipastikan puso, sehingga petani mengalami gagal panen. Lahan pertanian yang puso, terjadi di wilayah Desa Manistutu bagian timur seluas 33 hektare, bagian barat seluas 15 hektare, Pangkung Jelepung 1 hektare dan Yeh Anakan 1 hektare.

Baca Juga:  Ccckkk…SP 1 Diabaikan, Penambang Liar Tukad Unda Masih Beroperasi

 

Selain lahan pertanian yang sudah dipastikan gagal panen, masih ada lahan pertanian yang masuk dalam kategori berat seluas 10 hektare, di Desa Manistutu timur seluas 4 hektare dan Yeh Anakan 6 hektare.

- Advertisement -

 

“Kemungkinan yang sepuluh hektare ini karena sudah masuk kategori berat akan puso juga,” ujarnya.

 

Sedangkan lahan pertanian yang masih kategori sedang seluas 14 hektare dan ringan seluas 15 hektare masih bisa diselamatkan dengan bantuan sumur pompa. Namun untuk operasional sumur pompa ini, petani kesulitan mendapatkan solar bersubsidi. Jika menggunakan nonsubsidi, harganya tidak terjangkau petani.

 

“Kalau petani atau subak meminta rekomendasi pada Dinas Pertanian bisa membeli bahan bakar subsidi,” jelasnya.

Baca Juga:  Warga Korban Banjir di Pekutatan Jembrana Kekurangan Air Bersih
- Advertisement -

NEGARA – Musim kemarau yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir, membuat puluhan hektare sawah di Jembrana, Bali, mengalami kekeringan. Akibatnya, puluhan hektare padi yang telanjur menanam mengalami puso alias gagal panen. Luas lahan yang puso berpotensi semakin meluas lagi jika kekeringan masih terjadi.

 

Kepala Dinas Pertanian dan pangan wayan Sutama, melalui Kepala Bidang Pertanian I Komang Ngurah Arya Kusuma mengatakan, lahan pertanian yang mengalami kekeringan hingga pertengahan bulan Juli seluas 89 hektare.

 

Dari luas lahan tersebut seluas 50 hektare sudah dipastikan puso, sehingga petani mengalami gagal panen. Lahan pertanian yang puso, terjadi di wilayah Desa Manistutu bagian timur seluas 33 hektare, bagian barat seluas 15 hektare, Pangkung Jelepung 1 hektare dan Yeh Anakan 1 hektare.

Baca Juga:  Owner SMK Aska Bali Mandala Berbagi Paket Sembako dan Alat Belajar

 

Selain lahan pertanian yang sudah dipastikan gagal panen, masih ada lahan pertanian yang masuk dalam kategori berat seluas 10 hektare, di Desa Manistutu timur seluas 4 hektare dan Yeh Anakan 6 hektare.

 

“Kemungkinan yang sepuluh hektare ini karena sudah masuk kategori berat akan puso juga,” ujarnya.

 

Sedangkan lahan pertanian yang masih kategori sedang seluas 14 hektare dan ringan seluas 15 hektare masih bisa diselamatkan dengan bantuan sumur pompa. Namun untuk operasional sumur pompa ini, petani kesulitan mendapatkan solar bersubsidi. Jika menggunakan nonsubsidi, harganya tidak terjangkau petani.

 

“Kalau petani atau subak meminta rekomendasi pada Dinas Pertanian bisa membeli bahan bakar subsidi,” jelasnya.

Baca Juga:  Wujud Kepedulian, Wabup Ipat Serahkan Kursi Roda

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/