alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

BNPB Nilai Menyama Braya Penyebab Penanganan Pengungsi Lancar

RadarBali.com – Aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi. Tingginya gempa vulkanik menunjukkan masih berlangsungnya dorongan magma ke permukaan.

Pengamatan visual tanda-tanda erupsi belum tampak. Tidak dapat diprediksi pasti kapan Gunung Agung akan meletus. Status tetap Awas (Level 4). 

Untuk memenuhi kebutuhan pengungsi yang terus bertambah, ketersediaan logistik mencukupi hingga satu bulan ke depan.

Bantuan terus berdatangan, baik bantuan dari pemerintah, pemda, dunia usaha dan masyarakat. Distribusi bantuan ke pengungsi juga berjalan dengan lancar.

Jika ada beberapa titik pengungsian belum menerima bantuan disebabkan pos pengungsi mandiri tersebut tidak melaporkan ke petugas.

Pendataan terus dilakukan agar penyaluran bantuan dapat melayani semuanya. Bantuan masyarakat dan semua elemen di Bali luar biasa. Semua bergerak.

Baca Juga:  Naikkan Pendapatan Pajak, Pemkab Buleleng Kaji Parkir di Mini Market

“Karakter masyarakat Bali yang suka gotong royong, saling menghargai, senang membantu dan rukun menyebabkan penanganan pengungsi berlangsung dengan lancar,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho. 

Antara masyarakat dan aparat pemerintah kompak menyebabkan pengungsi terlayani dengan baik. Ini adalah modal sosial yang besar yang membentuk masyarakat Bali tangguh menghadapi bencana.

Memang, sejak dulu masyarakat Bali memiliki kearifan lokal menyama braya. Menyama Braya adalah konsep ideal hidup bermasyarakat di Bali sebagai filosofi dari karma margayang bersumber dari sistem nilai budaya dan adat istiadat masyarakat Bali untuk dapat hidup rukun.

Kerukunan mengandung makna akrab, damai dan tidak berseteru. Diibaratkan pada kehidupan sepasang suami istri dalam rumah tangga yang harmonis dan damai dalam menghormati kearifan lokal sebagai landasan strategis mewujudkan makna menyama braya sebagai penguatan jati diri bangsa.

Baca Juga:  Woww…Gubernur Pastika Sindir Ahli Vulkanologi Bak Artis, Ini Alasannya

Manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dilindungi oleh komunitasnya, masyarakatnya, dan alam semesta sekitarnya.

Manusia pada hakikatnya tergantung dalam segala aspek kehidupannya kepada sesama umat manusia, karena itu ia selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik, terdorong oleh jiwa sama rata sama rasa; dan selalu berusaha untuk sedapat mungkin bekerjasama dalam komunitas.

Itulah yang tercermin di Bali meski Gunung Agung status Awas



RadarBali.com – Aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi. Tingginya gempa vulkanik menunjukkan masih berlangsungnya dorongan magma ke permukaan.

Pengamatan visual tanda-tanda erupsi belum tampak. Tidak dapat diprediksi pasti kapan Gunung Agung akan meletus. Status tetap Awas (Level 4). 

Untuk memenuhi kebutuhan pengungsi yang terus bertambah, ketersediaan logistik mencukupi hingga satu bulan ke depan.

Bantuan terus berdatangan, baik bantuan dari pemerintah, pemda, dunia usaha dan masyarakat. Distribusi bantuan ke pengungsi juga berjalan dengan lancar.

Jika ada beberapa titik pengungsian belum menerima bantuan disebabkan pos pengungsi mandiri tersebut tidak melaporkan ke petugas.

Pendataan terus dilakukan agar penyaluran bantuan dapat melayani semuanya. Bantuan masyarakat dan semua elemen di Bali luar biasa. Semua bergerak.

Baca Juga:  Jumlah Kematian Warga di Jembrana Meningkat Drastis pada Tahun 2021

“Karakter masyarakat Bali yang suka gotong royong, saling menghargai, senang membantu dan rukun menyebabkan penanganan pengungsi berlangsung dengan lancar,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho. 

Antara masyarakat dan aparat pemerintah kompak menyebabkan pengungsi terlayani dengan baik. Ini adalah modal sosial yang besar yang membentuk masyarakat Bali tangguh menghadapi bencana.

Memang, sejak dulu masyarakat Bali memiliki kearifan lokal menyama braya. Menyama Braya adalah konsep ideal hidup bermasyarakat di Bali sebagai filosofi dari karma margayang bersumber dari sistem nilai budaya dan adat istiadat masyarakat Bali untuk dapat hidup rukun.

Kerukunan mengandung makna akrab, damai dan tidak berseteru. Diibaratkan pada kehidupan sepasang suami istri dalam rumah tangga yang harmonis dan damai dalam menghormati kearifan lokal sebagai landasan strategis mewujudkan makna menyama braya sebagai penguatan jati diri bangsa.

Baca Juga:  Turunkan Stunting, Kominfo RI Gencar Edukasi Remaja dan Pasutri

Manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dilindungi oleh komunitasnya, masyarakatnya, dan alam semesta sekitarnya.

Manusia pada hakikatnya tergantung dalam segala aspek kehidupannya kepada sesama umat manusia, karena itu ia selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik, terdorong oleh jiwa sama rata sama rasa; dan selalu berusaha untuk sedapat mungkin bekerjasama dalam komunitas.

Itulah yang tercermin di Bali meski Gunung Agung status Awas


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/