alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Menu Makanan Monoton, Pengungsi Gunung Agung Tetap Bersyukur

RadarBali.com – Sudah lebih dari sepekan warga Kabupaten Karangasam melakukan pengungsian ke GOR Swecapura, Gelgel, Klungkung, tepatnya Kamis (21/9).

Dalam kondisi panik, tidak banyak barang yang mereka bawa dalam pengungsiannya, bahkan harta benda berupa ternak pun ditinggal demi menyelamatkan diri.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari, mereka sangat tergantung dengan dapur umum yang dibuat Pemerintah Kabupaten Klungkung di sisi barat Lapangan Swecapura.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung Putu Widiada, mengungkapkan, sejak Rabu (27/9) dapur umum di GOR Swecapura, Gelgel tidak membuat nasi bungkus untuk para pengungsi yang berada di luar Lapangan Swecapura.

Per Kamis (28/9), dapur umum Swecapura hanya memasak untuk 3.341 jiwa. “Untuk setiap orang kami hitung kebutuhan konsumsi menghabiskan sebanyak 0,375 kilogram beras per hari. Untuk telur, per orangnya kami hitung mendapat sebanyak setengah butir telur. Sementara untuk sayur, tahu, tempe dan pindang kami belum dapat hitung secara pasti berapa jumlah yang dihabiskan,” ungkapnya.

Baca Juga:  Ini Kata Pengacara 34 Warga Desa Tangkas

Meski jumlah pengungsi di GOR Swecapura mencapai ribuan, pihaknya mengatakan hingga saat ini kebutuhan untuk beras dan lauk-pauk masih bisa dipenuhi.

Hal ini tidak terlepas dari peran serta para donator yang setiap harinya membantu Pemerintah Kabupaten Klungkung dalam memenuhi kebutuhan harian para pengungsi.

Contohnya beras, telur, bumbu dan sayur-mayur, yang dominan berasal dari para donatur. “Untuk persediaan logistik di gudang saat ini, kami prediksi mencukupi sampai satu minggu ke depan. Sementara untuk pindang, tahu dan tempe memang kami beli setiap harinya,” kata pejabat asli Tabanan ini.

Untuk varian menu, diakuinya memang tidak bisa menghadirkan menu yang bervariasi setiap harinya dengan kondisi serba terbatas ini.

Namun Pemkab Klungkung dan para relawan telah berusaha keras untuk memenuhi nutrisi para pengungsi.

“Sehingga kami harap malum dengan kondisi seperti ini. Yang terpenting nutrisi bisa terpenuhi,” ujarnya.

Salah seorang relawan yang setiap harinya mengambil bagian dalam memasak makanan para pengungsi di dapur umum Lapangan Swecapura, Anggra Purnama Dewi membenarkan kondisi tersebut.

Baca Juga:  Tanggap Bencana Gunung Agung, Denpasar Siaga 2.000 Masker

Agar para pengungsi tidak merasa bosan, dia dan beberapa relawan lainnya berusaha berkreasi pada sambal yang dihidangkannya.

Selain itu, penambahan kecap menurutnya juga efektif untuk membuat para pengungsi tidak bosan dengan makanan yang ada di tempat pengungsian.

“Kami berusaha menghadirkan yang terbaik dengan bahan yang ada. Per harinya kami tiga kali masak. Untuk sekali masak, kami bisa menghabiskan sebanyak 45 tas kresek besar sayuran. Kalau untuk telur, kami tidak pernah berhitung,” kata wanita lulusan kebidanan itu.

Selain masalah bahan baku, dikatakannya bahwa jumlah relawan yang bertugas untuk memasak juga cukup terbatas. Sehingga kewalahan memang tidak bisa dipungkiri.

“Kalau pagi itu yang masak jumlahnya sedikit, sekitar 4-6 orang saja. Agak siangan baru ramai, sekitar 10 orang dan untuk sore juga 10 orang,” beber wanita asli Kecamatan Dawan itu.



RadarBali.com – Sudah lebih dari sepekan warga Kabupaten Karangasam melakukan pengungsian ke GOR Swecapura, Gelgel, Klungkung, tepatnya Kamis (21/9).

Dalam kondisi panik, tidak banyak barang yang mereka bawa dalam pengungsiannya, bahkan harta benda berupa ternak pun ditinggal demi menyelamatkan diri.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari, mereka sangat tergantung dengan dapur umum yang dibuat Pemerintah Kabupaten Klungkung di sisi barat Lapangan Swecapura.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung Putu Widiada, mengungkapkan, sejak Rabu (27/9) dapur umum di GOR Swecapura, Gelgel tidak membuat nasi bungkus untuk para pengungsi yang berada di luar Lapangan Swecapura.

Per Kamis (28/9), dapur umum Swecapura hanya memasak untuk 3.341 jiwa. “Untuk setiap orang kami hitung kebutuhan konsumsi menghabiskan sebanyak 0,375 kilogram beras per hari. Untuk telur, per orangnya kami hitung mendapat sebanyak setengah butir telur. Sementara untuk sayur, tahu, tempe dan pindang kami belum dapat hitung secara pasti berapa jumlah yang dihabiskan,” ungkapnya.

Baca Juga:  Final, Penyebaran Abu Vulkanik Meluas, Bandara Ngurah Rai Tutup Total

Meski jumlah pengungsi di GOR Swecapura mencapai ribuan, pihaknya mengatakan hingga saat ini kebutuhan untuk beras dan lauk-pauk masih bisa dipenuhi.

Hal ini tidak terlepas dari peran serta para donator yang setiap harinya membantu Pemerintah Kabupaten Klungkung dalam memenuhi kebutuhan harian para pengungsi.

Contohnya beras, telur, bumbu dan sayur-mayur, yang dominan berasal dari para donatur. “Untuk persediaan logistik di gudang saat ini, kami prediksi mencukupi sampai satu minggu ke depan. Sementara untuk pindang, tahu dan tempe memang kami beli setiap harinya,” kata pejabat asli Tabanan ini.

Untuk varian menu, diakuinya memang tidak bisa menghadirkan menu yang bervariasi setiap harinya dengan kondisi serba terbatas ini.

Namun Pemkab Klungkung dan para relawan telah berusaha keras untuk memenuhi nutrisi para pengungsi.

“Sehingga kami harap malum dengan kondisi seperti ini. Yang terpenting nutrisi bisa terpenuhi,” ujarnya.

Salah seorang relawan yang setiap harinya mengambil bagian dalam memasak makanan para pengungsi di dapur umum Lapangan Swecapura, Anggra Purnama Dewi membenarkan kondisi tersebut.

Baca Juga:  Tanggap Bencana Gunung Agung, Denpasar Siaga 2.000 Masker

Agar para pengungsi tidak merasa bosan, dia dan beberapa relawan lainnya berusaha berkreasi pada sambal yang dihidangkannya.

Selain itu, penambahan kecap menurutnya juga efektif untuk membuat para pengungsi tidak bosan dengan makanan yang ada di tempat pengungsian.

“Kami berusaha menghadirkan yang terbaik dengan bahan yang ada. Per harinya kami tiga kali masak. Untuk sekali masak, kami bisa menghabiskan sebanyak 45 tas kresek besar sayuran. Kalau untuk telur, kami tidak pernah berhitung,” kata wanita lulusan kebidanan itu.

Selain masalah bahan baku, dikatakannya bahwa jumlah relawan yang bertugas untuk memasak juga cukup terbatas. Sehingga kewalahan memang tidak bisa dipungkiri.

“Kalau pagi itu yang masak jumlahnya sedikit, sekitar 4-6 orang saja. Agak siangan baru ramai, sekitar 10 orang dan untuk sore juga 10 orang,” beber wanita asli Kecamatan Dawan itu.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/