alexametrics
27.6 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Teori Barat Tak Berlaku, Penanganan Bencana di Indonesia Unik dan Khas

RadarBali.com – Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengakui penanganan bencana di Indonesia unik dan khas.

Teori-teori penanggulangan bencana yang kebanyakan diadopsi dari Barat seperti yang ada di text book seringkali tidak berlaku di Indonesia.

“Sesungguhnya Indonesia adalah laboratorium bencana dengan segala kekhasannya. Bukan super market bencana,” kata Sutopo.

Menurutnya, menangani pengungsi itu tidak mudah. Seringkali masyarakat sulit untuk dievakuasi dari tempat tinggalnya.

Bahkan saat gunungnya sudah meletus pun, masyarakat tetap bertahan tidak mau dievakuasi dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah menjaga sapi.

“Jalur kultural seringkali justru lebih efektif daripada melalui struktural. Begitu pula dalam menangani masyarakat yang harus mengungsi dari ancaman gunung meletus,” paparnya.

Baca Juga:  Luncurkan Sijebol, Disdukcapil Sasar Pedagang Pasar

Dicontohkan saat erupsi Gunung Merapi pada Oktober hingga November 2010, korban meninggal dunia mencapai 277 jiwa.

Sebagian masyarakat yang tidak mau mengungsi karena menjaga sapi. Sapi adalah asset berharga bagi masyarakat.

Bahkan, sapi telah menjadi bagian hidup dan kultur bagi masyarakat di sekitar gunung. Itulah yang menyebabkan sulitnya masyarakat tidak mau mengungsi.

Saat Gunung Agung naik status Awas pun, sebagian masyarakat tetap bertahan tidak mau mengungsi dengan alasan menjaga ternak, salah satunya sapi.

Saat masyarakat sudah mengungsi pun, saat pagi-siang hari kembali ke rumahnya untuk menengok dan memenuhi kebutuhan pangan ternaknya, yang kemudian malam tidur di pengungsian.

“Itulah yang membedakan penanganan bencana di Indonesia dengan Negara-negara lain di dunia,” paparnya.

Baca Juga:  Anugerahkan Adi Sewaka Nugraha bagi 9 Pengabdi Seni Budaya Bali


RadarBali.com – Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengakui penanganan bencana di Indonesia unik dan khas.

Teori-teori penanggulangan bencana yang kebanyakan diadopsi dari Barat seperti yang ada di text book seringkali tidak berlaku di Indonesia.

“Sesungguhnya Indonesia adalah laboratorium bencana dengan segala kekhasannya. Bukan super market bencana,” kata Sutopo.

Menurutnya, menangani pengungsi itu tidak mudah. Seringkali masyarakat sulit untuk dievakuasi dari tempat tinggalnya.

Bahkan saat gunungnya sudah meletus pun, masyarakat tetap bertahan tidak mau dievakuasi dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah menjaga sapi.

“Jalur kultural seringkali justru lebih efektif daripada melalui struktural. Begitu pula dalam menangani masyarakat yang harus mengungsi dari ancaman gunung meletus,” paparnya.

Baca Juga:  Luncurkan Sijebol, Disdukcapil Sasar Pedagang Pasar

Dicontohkan saat erupsi Gunung Merapi pada Oktober hingga November 2010, korban meninggal dunia mencapai 277 jiwa.

Sebagian masyarakat yang tidak mau mengungsi karena menjaga sapi. Sapi adalah asset berharga bagi masyarakat.

Bahkan, sapi telah menjadi bagian hidup dan kultur bagi masyarakat di sekitar gunung. Itulah yang menyebabkan sulitnya masyarakat tidak mau mengungsi.

Saat Gunung Agung naik status Awas pun, sebagian masyarakat tetap bertahan tidak mau mengungsi dengan alasan menjaga ternak, salah satunya sapi.

Saat masyarakat sudah mengungsi pun, saat pagi-siang hari kembali ke rumahnya untuk menengok dan memenuhi kebutuhan pangan ternaknya, yang kemudian malam tidur di pengungsian.

“Itulah yang membedakan penanganan bencana di Indonesia dengan Negara-negara lain di dunia,” paparnya.

Baca Juga:  Antisipasi Erupsi, BNPB Gencar Edukasi Warga Zona Bahaya

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/