alexametrics
30.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Karena Abrasi Tak Tertangani, Daratan Makin Tergerus

NEGARA– Abrasi yang tak tertangani menyebabkan daratan makin tergerus.  Seperti yang terjadi di pesisir Jembrana. Dalam tiga tahun terakhir, panjang garis pantai di Jembrana bertambah sepanjang 8 kilometer. Selain karena abrasi, tanah timbul menyebabkan perubahan wilayah pesisir.

 

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan, Kelautan dan Perikanan Jembrana I Made Dwi Maharimbawa. Menurutnya, perubahan iklim yang terjadi berdampak pada wilayah pesisir yang berubah sangat cepat.

 

Daerah yang awalnya darat, berubah menjadi lautan, seperti yang terjadi di Pantai Pebuahan dan Kelurahan Gilimanuk.

 

Karena dampak abrasi tersebut, garis pantai di Jembrana yang sebelumnya 76 kilometer pada tahun 2017 hingga 2018, saat ini menjadi 84 kilometer.

Baca Juga:  Habiskan Anggaran Miliaran, Pengelolaan ACK Gilimanuk Belum Jelas
- Advertisement -

 

Artinya, ada penambahan 8 kilometer dalam tiga tahun terakhir. “Penambahan garis pantai ini karena ada perubahan kondisi daratan di pesisir,” ujar Maharimbawa, Selasa (28/9).

 

Selain karena abrasi, beberapa lokasi di Jembrana terjadi tanah timbul di pesisir pantai, seperti di Desa Pengambengan. Tanah timbul setiap tahun bertambah luas sehingga membuat garis pantai juga bertambah.

 

“Garis pantai berubah karena garis pantai yang awalnya lurus akibat abrasi dan tanah timbul,” ungkapnya.

 

Sedangkan mengenai solusi mengatasi abrasi pesisir pantai, merupakan kewenangan dari pemerintah pusat. Karena abrasi tidak segera ditangani, daratan yang tergerus.

 

 

- Advertisement -

NEGARA– Abrasi yang tak tertangani menyebabkan daratan makin tergerus.  Seperti yang terjadi di pesisir Jembrana. Dalam tiga tahun terakhir, panjang garis pantai di Jembrana bertambah sepanjang 8 kilometer. Selain karena abrasi, tanah timbul menyebabkan perubahan wilayah pesisir.

 

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan, Kelautan dan Perikanan Jembrana I Made Dwi Maharimbawa. Menurutnya, perubahan iklim yang terjadi berdampak pada wilayah pesisir yang berubah sangat cepat.

 

Daerah yang awalnya darat, berubah menjadi lautan, seperti yang terjadi di Pantai Pebuahan dan Kelurahan Gilimanuk.

 

Karena dampak abrasi tersebut, garis pantai di Jembrana yang sebelumnya 76 kilometer pada tahun 2017 hingga 2018, saat ini menjadi 84 kilometer.

Baca Juga:  Duh, Begini Cerita TKI Ilegal Buleleng Sebelum Dideportasi dari Taiwan

 

Artinya, ada penambahan 8 kilometer dalam tiga tahun terakhir. “Penambahan garis pantai ini karena ada perubahan kondisi daratan di pesisir,” ujar Maharimbawa, Selasa (28/9).

 

Selain karena abrasi, beberapa lokasi di Jembrana terjadi tanah timbul di pesisir pantai, seperti di Desa Pengambengan. Tanah timbul setiap tahun bertambah luas sehingga membuat garis pantai juga bertambah.

 

“Garis pantai berubah karena garis pantai yang awalnya lurus akibat abrasi dan tanah timbul,” ungkapnya.

 

Sedangkan mengenai solusi mengatasi abrasi pesisir pantai, merupakan kewenangan dari pemerintah pusat. Karena abrasi tidak segera ditangani, daratan yang tergerus.

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/