alexametrics
25.3 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

DB Makan Korban, Pemberantasan Sarang Nyamuk Jadi Barang Wajib

SINGARAJA – Dewan mendesak pemerintah segera mengambil langkah strategis guna menanggulangi masalah demam berdarah di Kabupaten Buleleng.

Menyusul maraknya kasus demam berdarah yang terjadi di Buleleng dalam kurun waktu empat bulan terakhir.

Ketua Komisi IV DPRD Buleleng Luh Hesti Ranitasari mengatakan, kasus demam berdarah harus mendapat perhatian lebih besar dari pemerintah.

Di tengah kasus covid-19, deman berdarah juga harus mendapat penanganan yang cepat. Mengingat kasusnya cukup besar dan menelan korban jiwa.

“Ini memang penyakit yang bisa ditanggulangi, sudah bisa treatment dengan baik. Tapi tetap harus waspada. Kami himbau masyarakat melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” kata Ranitasari.

Rani pun meminta agar Dinas Kesehatan Buleleng mengedepankan sosialisasi terkait Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Sementara kegiatan fogging cukup dilakukan secara selektif saja.

Baca Juga:  Datangkan Alat Berat, Sampah di Jembatan Pemaron Masih Menggunung

“Fogging memang perlu. Tapi yang lebih penting itu lakukan PHBS dan PSN. Fogging itu kan sifatnya hanya sementara.

Kuncinya itu menguras genangan air dan menjaga kebersihan, sehingga tidak ada jentik nyamuk yang tumbuh jadi nyamuk dewasa,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus demam berdarah kembali menelan korban jiwa di Kabupaten Buleleng. Seorang pelajar asal Banjar Dinas Rarangan, Desa Sudaji, meninggal dunia karena terjangkit demam berdarah.

Korban tercatat sebagai korban kelima akibat demam berdarah di Kabupaten Buleleng. Sebelumnya sudah muncul korban dari Desa Ambengan, Desa Pemaron, Desa Ringdikit, dan Kelurahan Banyuning.

Hingga 20 April 2020, Dinas Kesehatan Buleleng mencatat ada 1.983 kasus demam berdarah yang muncul di seluruh Buleleng.

Baca Juga:  Dewan Buleleng Desak Penyediaan Internet Gratis Hingga ke Dusun-dusun

Wakil Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan, tingginya kasus demam berdarah pada tahun 2020 ini merupakan siklus yang terjadi setiap lima tahun sekali.

“Tiap lima tahun akan terjadi outbreak. Lonjakannya luar biasa seperti sekarang,” kata Wabup Sutjidra. 



SINGARAJA – Dewan mendesak pemerintah segera mengambil langkah strategis guna menanggulangi masalah demam berdarah di Kabupaten Buleleng.

Menyusul maraknya kasus demam berdarah yang terjadi di Buleleng dalam kurun waktu empat bulan terakhir.

Ketua Komisi IV DPRD Buleleng Luh Hesti Ranitasari mengatakan, kasus demam berdarah harus mendapat perhatian lebih besar dari pemerintah.

Di tengah kasus covid-19, deman berdarah juga harus mendapat penanganan yang cepat. Mengingat kasusnya cukup besar dan menelan korban jiwa.

“Ini memang penyakit yang bisa ditanggulangi, sudah bisa treatment dengan baik. Tapi tetap harus waspada. Kami himbau masyarakat melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” kata Ranitasari.

Rani pun meminta agar Dinas Kesehatan Buleleng mengedepankan sosialisasi terkait Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Sementara kegiatan fogging cukup dilakukan secara selektif saja.

Baca Juga:  [Update] Satu Lagi, Pasien Positif Covid-19 di Bali Meninggal

“Fogging memang perlu. Tapi yang lebih penting itu lakukan PHBS dan PSN. Fogging itu kan sifatnya hanya sementara.

Kuncinya itu menguras genangan air dan menjaga kebersihan, sehingga tidak ada jentik nyamuk yang tumbuh jadi nyamuk dewasa,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus demam berdarah kembali menelan korban jiwa di Kabupaten Buleleng. Seorang pelajar asal Banjar Dinas Rarangan, Desa Sudaji, meninggal dunia karena terjangkit demam berdarah.

Korban tercatat sebagai korban kelima akibat demam berdarah di Kabupaten Buleleng. Sebelumnya sudah muncul korban dari Desa Ambengan, Desa Pemaron, Desa Ringdikit, dan Kelurahan Banyuning.

Hingga 20 April 2020, Dinas Kesehatan Buleleng mencatat ada 1.983 kasus demam berdarah yang muncul di seluruh Buleleng.

Baca Juga:  Tebas Tukang Parkir, Oknum Ormas: Saya Emosi Diminta Bayar Mahal

Wakil Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan, tingginya kasus demam berdarah pada tahun 2020 ini merupakan siklus yang terjadi setiap lima tahun sekali.

“Tiap lima tahun akan terjadi outbreak. Lonjakannya luar biasa seperti sekarang,” kata Wabup Sutjidra. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/