alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Petugas Vs Pedagang Pantai Cekcok, Disuruh Tutup Dijawab Urusan Perut

SINGARAJA – Meski sudah ada kelonggaran dalam penerapan PPKM Level 4 di Bali, termasuk di Buleleng, ternyata hal itu tidak dirasakan para pedagang di Pantai Penimbangan. Mereka tetap kena sidak dan dipaksa menutup dagangannya.

 

Hal itu terungkap saat tim yustisi melakukan penertiban protokol kesehatan di kawasan Pantai Penimbangan pada Kamis (29/7) pagi. Kedatangan tim yustisi mendapat perlawanan sengit dari para pedagang. Mereka terlibat cekcok soal dalam penertiban ini.

 

Menurut informasi, tim yustisi datang ke Pantai Penimbangan sekitar pukul 10.00 pagi. Tim meminta para pedagang menutup lapak mereka. Dalih petugas, para pedagang itu berjualan di kawasan wisata.

 

Petugas berpegangan pada Surat Edaran Gubernur Bali yang menegaskan kawasan wisata termasuk lokasi yang ditutup dari aktivitas publik selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

 

Di sisi lain, pedagang enggan menutup dagangan mereka. Para pedagang memilih membuka lapak mereka, karena sudah tak mendapat penghasilan sejak awal PPKM darurat diberlakukan.

Baca Juga:  Satdik Dilarang Tambah Waktu Libur di Luar Kalender Pendidikan

 

Pedagang juga mengeluh tak punya simpanan yang cukup untuk bertahan hidup selama PPKM. Sementara relaksasi kredit maupun bantuan sosial tak menyentuh mereka.

 

Bendesa Adat Galiran, Jro Putu Anteng mengatakan,  posisi pedagang saat ini sangat dilematis. Sebab hal ini berkaitan dengan isi perut warganya.

 

Menurut Anteng harapan pedagang sebenarnya sangat sederhana. Mereka tetap diizinkan berjualan dengan menerapkan standar protokol kesehatan, sebagaimana tercantum dalam edaran.

“Masyarakat kami sepakat dengan penerapan protokol kesehatan. Tapi posisinya memang dilematis. Karena ini urusan perut. Jadi di bawah pasti akan selalu timbul gesekan antara masyarakat dengan aparat. Kami harap ada solusi, biar sama-sama bisa jalan,” kata Anteng.

 

Sementara itu Kasat Polisi Pamong Praja Buleleng Putu Artawan tak menampik sempat terjadi cekcok antara tim yustisi dengan pedagang.

Baca Juga:  KPPS di Jembrana Terkonfirmasi Positif Covid-19 Capai 32 Orang

 

Artawan mengatakan tim berpegangan pada SE Gubernur. Dalam SE tersebut, seluruh kawasan wisata harus ditutup dalam rangka pencegahan covid-19. Pantai Penimbangan pun masuk dalam kawasan wisata itu.

 

Di sisi lain, pedagang di kawasan itu merasa sebagai pedagang kaki lima. Sehingga mereka berhak beraktivitas sesuai dengan SE gubernur.

 

“Memang posisinya dilematis. Punya pendapat masing-masing. Dalam situasi kondisi ekonomi saat ini, sulit juga melakukan penegakan yustisi secara kaku,” kata Artawan.

 

Terkait dengan masalah tersebut, ia mengaku akan berkoordinasi lebih lanjut dengan para pemangku kepentingan. Seperti di kecamatan, desa dinas, maupun desa adat.

 

“Kami akan diskusikan lebih lanjut. Supaya ada solusi bersama, antara tim yustisi dengan pedagang. Sementara ini kami minta agar masyarakat mengedepankan protokol kesehatan secara ketat,” demikian Artawan.

- Advertisement -

- Advertisement -

SINGARAJA – Meski sudah ada kelonggaran dalam penerapan PPKM Level 4 di Bali, termasuk di Buleleng, ternyata hal itu tidak dirasakan para pedagang di Pantai Penimbangan. Mereka tetap kena sidak dan dipaksa menutup dagangannya.

 

Hal itu terungkap saat tim yustisi melakukan penertiban protokol kesehatan di kawasan Pantai Penimbangan pada Kamis (29/7) pagi. Kedatangan tim yustisi mendapat perlawanan sengit dari para pedagang. Mereka terlibat cekcok soal dalam penertiban ini.


 

Menurut informasi, tim yustisi datang ke Pantai Penimbangan sekitar pukul 10.00 pagi. Tim meminta para pedagang menutup lapak mereka. Dalih petugas, para pedagang itu berjualan di kawasan wisata.

 

Petugas berpegangan pada Surat Edaran Gubernur Bali yang menegaskan kawasan wisata termasuk lokasi yang ditutup dari aktivitas publik selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

 

Di sisi lain, pedagang enggan menutup dagangan mereka. Para pedagang memilih membuka lapak mereka, karena sudah tak mendapat penghasilan sejak awal PPKM darurat diberlakukan.

Baca Juga:  Tak Kantongi Sertifikat Kesehatan, 1,5 Ton Susu Sapi Segar Diamankan

 

Pedagang juga mengeluh tak punya simpanan yang cukup untuk bertahan hidup selama PPKM. Sementara relaksasi kredit maupun bantuan sosial tak menyentuh mereka.

 

Bendesa Adat Galiran, Jro Putu Anteng mengatakan,  posisi pedagang saat ini sangat dilematis. Sebab hal ini berkaitan dengan isi perut warganya.

 

Menurut Anteng harapan pedagang sebenarnya sangat sederhana. Mereka tetap diizinkan berjualan dengan menerapkan standar protokol kesehatan, sebagaimana tercantum dalam edaran.

“Masyarakat kami sepakat dengan penerapan protokol kesehatan. Tapi posisinya memang dilematis. Karena ini urusan perut. Jadi di bawah pasti akan selalu timbul gesekan antara masyarakat dengan aparat. Kami harap ada solusi, biar sama-sama bisa jalan,” kata Anteng.

 

Sementara itu Kasat Polisi Pamong Praja Buleleng Putu Artawan tak menampik sempat terjadi cekcok antara tim yustisi dengan pedagang.

Baca Juga:  Memanas, Pedagang Pantai Penimbangan Terlibat Adu Mulut Dengan Aparat

 

Artawan mengatakan tim berpegangan pada SE Gubernur. Dalam SE tersebut, seluruh kawasan wisata harus ditutup dalam rangka pencegahan covid-19. Pantai Penimbangan pun masuk dalam kawasan wisata itu.

 

Di sisi lain, pedagang di kawasan itu merasa sebagai pedagang kaki lima. Sehingga mereka berhak beraktivitas sesuai dengan SE gubernur.

 

“Memang posisinya dilematis. Punya pendapat masing-masing. Dalam situasi kondisi ekonomi saat ini, sulit juga melakukan penegakan yustisi secara kaku,” kata Artawan.

 

Terkait dengan masalah tersebut, ia mengaku akan berkoordinasi lebih lanjut dengan para pemangku kepentingan. Seperti di kecamatan, desa dinas, maupun desa adat.

 

“Kami akan diskusikan lebih lanjut. Supaya ada solusi bersama, antara tim yustisi dengan pedagang. Sementara ini kami minta agar masyarakat mengedepankan protokol kesehatan secara ketat,” demikian Artawan.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/