alexametrics
26.5 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Tak Hanya Predator, Tanggul Abrasi Jadi Ancaman Predator Penyu

SEMARAPURA – Siapa sangka upaya pemerintah menangani abrasi dengan membangun tanggul ternyata menjadi salah satu ancaman bagi penyu untuk berkembang biak.

Untuk bisa bertelur, penyu membutuhkan pesisir pantai yang cukup luas dan situasi yang tenang. Sehingga pemerintah diharapkan tetap menyisakan pesisir pantai agar penyu bertelur dengan nyaman.

Di Kabupaten Klungkung, pesisir Pantai Sidayu, Lepang, dan Tegal Besar, Kecamatan Banjarangkan menjadi tempat favorit penyu lekang bertelur.

Petugas Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Klungkung, AA Gde Kusumayudha di sela-sela kegiatan pelepasan tukik

jenis lekang di Pantai Tegal Besar, mengungkapkan, ada 26 tukik jenis lekang yang dilepas liarkan di Pantai Tegal Besar kemarin.

Tukik-tukik tersebut merupakan hasil penetasan di pendederan telur penyu pesisir Pantai Tegal Besar.

Baca Juga:  Selundupkan Orang Utan Dalam Koper Dari Bali, WN Rusia Ditangkap

“Penyu ini termasuk spesies langka dan dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam. Saat ini masih tersisa sebanyak 315 telur penyu lagi yang berada di tiga sarang,” ujarnya.

Di Kabupaten Klungkung, menurutnya, ada sejumlah pesisir pantai yang menjadi tempat penyu lekang bertelur.

Di antaranya, Pantai Sidayu, Lepang, dan Tegal Besar. Biasanya penyu lekang menuju pesisir pantai untuk bertelur, sepanjang bulan April sampai Oktober.

“Sementara di beberapa pesisir pantai di Nusa Penida menjadi tempat bagi penyu hijau bertelur,” katanya.

Hanya saja telur-telur penyu ini kerap dihadapkan oleh serangan predator seperti anjing dan kadal. Syukurnya masyarakat sudah mulai sadar dan peduli atas kondisi penyu yang kian langka.

Baca Juga:  Magma Terus Naik, Asap Putih Mulai Keluar dari Pucuk Gunung Agung

Sehingga sudah banyak warga yang langsung menyelamatkan dan melaporkan keberadaan telur-telur penyu yang ditemukan di pesisir pantai.

“Kesadaran masyarakat sudah semakin tinggi dengan pelestarian lingkungan,” terangnya. Selain ancaman predator, menurutnya pembangunan yang memanfaatkan pesisir pantai juga mengancam berkembang biaknya penyu.

Begitu pula dengan upaya pemerintah menangani abrasi dengan membangun tanggul yang cukup tinggi, juga mempersulit penyu untuk bertelur.

Menurutnya, penyu membutuhkan pesisir pantai yang cukup luas dan situasi yang tenang agar bisa bertelur.

“Kami tidak bermaksud bertabrakan dengan program pemerintah dalam menangani abrasi. Hanya saja tanggul pantai membuat lokasi penyu untuk bertelur

semakin terbatas. Semoga nanti pemerintah masih menyediakan pesisir sehingga penyu dapat bertelur,” tandasnya. 



SEMARAPURA – Siapa sangka upaya pemerintah menangani abrasi dengan membangun tanggul ternyata menjadi salah satu ancaman bagi penyu untuk berkembang biak.

Untuk bisa bertelur, penyu membutuhkan pesisir pantai yang cukup luas dan situasi yang tenang. Sehingga pemerintah diharapkan tetap menyisakan pesisir pantai agar penyu bertelur dengan nyaman.

Di Kabupaten Klungkung, pesisir Pantai Sidayu, Lepang, dan Tegal Besar, Kecamatan Banjarangkan menjadi tempat favorit penyu lekang bertelur.

Petugas Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Klungkung, AA Gde Kusumayudha di sela-sela kegiatan pelepasan tukik

jenis lekang di Pantai Tegal Besar, mengungkapkan, ada 26 tukik jenis lekang yang dilepas liarkan di Pantai Tegal Besar kemarin.

Tukik-tukik tersebut merupakan hasil penetasan di pendederan telur penyu pesisir Pantai Tegal Besar.

Baca Juga:  Kembangkan Buyan dan Tamblingan, Fokus Dijadikan Objek Wisata Alam

“Penyu ini termasuk spesies langka dan dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam. Saat ini masih tersisa sebanyak 315 telur penyu lagi yang berada di tiga sarang,” ujarnya.

Di Kabupaten Klungkung, menurutnya, ada sejumlah pesisir pantai yang menjadi tempat penyu lekang bertelur.

Di antaranya, Pantai Sidayu, Lepang, dan Tegal Besar. Biasanya penyu lekang menuju pesisir pantai untuk bertelur, sepanjang bulan April sampai Oktober.

“Sementara di beberapa pesisir pantai di Nusa Penida menjadi tempat bagi penyu hijau bertelur,” katanya.

Hanya saja telur-telur penyu ini kerap dihadapkan oleh serangan predator seperti anjing dan kadal. Syukurnya masyarakat sudah mulai sadar dan peduli atas kondisi penyu yang kian langka.

Baca Juga:  Penyu Langka Siap Dilepasliarkan, Tersangka Terancam 5 Tahun

Sehingga sudah banyak warga yang langsung menyelamatkan dan melaporkan keberadaan telur-telur penyu yang ditemukan di pesisir pantai.

“Kesadaran masyarakat sudah semakin tinggi dengan pelestarian lingkungan,” terangnya. Selain ancaman predator, menurutnya pembangunan yang memanfaatkan pesisir pantai juga mengancam berkembang biaknya penyu.

Begitu pula dengan upaya pemerintah menangani abrasi dengan membangun tanggul yang cukup tinggi, juga mempersulit penyu untuk bertelur.

Menurutnya, penyu membutuhkan pesisir pantai yang cukup luas dan situasi yang tenang agar bisa bertelur.

“Kami tidak bermaksud bertabrakan dengan program pemerintah dalam menangani abrasi. Hanya saja tanggul pantai membuat lokasi penyu untuk bertelur

semakin terbatas. Semoga nanti pemerintah masih menyediakan pesisir sehingga penyu dapat bertelur,” tandasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/