alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

DPRD Bali: Belajar Daring Merugikan, Apalagi Terkendala Guru Gaptek

DENPASAR – Ketua Komisi IV DPRD Bali, Ir. I Gusti Putu Budiarta blak-blakan soal pembelajaran daring yang dilangsungkan saat pandemic Covid-19. Dia menyebut, pembelajaran daring sangat merugikan.

 

 

“Ya memang dasarnya sistem daring itu merugikan sekali. Di satu sisi, terkendala juga terhadap guru-guru yang karena faktor usia, jadi gagap teknologi (gaptek) teknologi dan ini menjadi agak sulit,” ujarnya pada Selasa (31/8).

 

 

Hal ini pun berpengaruh pada penurunan kualitas pendidikan kita. Sebagaimana yang dilihat dari kacamata Budiarta di lapangan.

 

“Memang terjadi penurunan kualitas pendidikan. Saya melihat dilapangan seperti itu. Jadi memang agak menurun kualitasnya,” kata Budiarta.

 

Baca Juga:  Kunjungan Wisatawan Stagnan Selama Pandemi, Dispar Ubah Target Pasar

Satu-satunya yang mesti menjadi perhatian pemerintah saat ini adalah bagaimana bisa melakukan sistem pembelajaran tatap muka. Ia menyarankan kepada pihak eksekutif, agar membuat sistem hybrid learning.

 

Artinya, ada pengabungan antara sistem tatap muka dan juga daring. Pelajaran tatap muka bisa dilakukan dengan sejumlah mata pelajaran yang membutuhkan interaksi langsung. Misal seperti pelajaran bahasa inggris maupun belajar membaca dan menulis untuk anak SD, khususnya kelas 1 dan lainnya yang membutuhkan diskusi.

 

“Sekarang ini kita dipaksa untuk daring karena situasi masih pandemic. Di Bali sendiri masih level 4 dan jelas sistem tatap muka masih tiarap. Kalau di Jawa sudah ada penurunan level, jadi masih bisa tatap muka. Mari sama-sama menurunkan level di Bali,” pungkas Budiarta.

Baca Juga:  Aktivitas Gunung Agung Fluktuatif, Potensi Turun Status

DENPASAR – Ketua Komisi IV DPRD Bali, Ir. I Gusti Putu Budiarta blak-blakan soal pembelajaran daring yang dilangsungkan saat pandemic Covid-19. Dia menyebut, pembelajaran daring sangat merugikan.

 

 

“Ya memang dasarnya sistem daring itu merugikan sekali. Di satu sisi, terkendala juga terhadap guru-guru yang karena faktor usia, jadi gagap teknologi (gaptek) teknologi dan ini menjadi agak sulit,” ujarnya pada Selasa (31/8).

 

 

Hal ini pun berpengaruh pada penurunan kualitas pendidikan kita. Sebagaimana yang dilihat dari kacamata Budiarta di lapangan.

 

“Memang terjadi penurunan kualitas pendidikan. Saya melihat dilapangan seperti itu. Jadi memang agak menurun kualitasnya,” kata Budiarta.

 

Baca Juga:  Stress Kumat, Acungkan Sabit, ODGJ Bikin Takut Warga Ditangkap

Satu-satunya yang mesti menjadi perhatian pemerintah saat ini adalah bagaimana bisa melakukan sistem pembelajaran tatap muka. Ia menyarankan kepada pihak eksekutif, agar membuat sistem hybrid learning.

 

Artinya, ada pengabungan antara sistem tatap muka dan juga daring. Pelajaran tatap muka bisa dilakukan dengan sejumlah mata pelajaran yang membutuhkan interaksi langsung. Misal seperti pelajaran bahasa inggris maupun belajar membaca dan menulis untuk anak SD, khususnya kelas 1 dan lainnya yang membutuhkan diskusi.

 

“Sekarang ini kita dipaksa untuk daring karena situasi masih pandemic. Di Bali sendiri masih level 4 dan jelas sistem tatap muka masih tiarap. Kalau di Jawa sudah ada penurunan level, jadi masih bisa tatap muka. Mari sama-sama menurunkan level di Bali,” pungkas Budiarta.

Baca Juga:  Polda Lepas 11 Oknum Bumdes Terduga Pungli di Pantai Matahari Terbit

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/