alexametrics
23.7 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Gusti Komang Sudiasih Bunuh Diri karena Tekanan Kebutuhan Sehari-hari

Kematian I Gusti Ayu Komang Sudiasih di Bendungan Telaga Tunjung, Banjar Pegubungan Kauh, Desa Pesagi, Kecamatan Penebel, Tabanan, Sabtu (30/10) meninggalkan kisah pilu. Ia diduga nekat mengakhiri hidupnya karena tertekan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

JULIADI, Tabanan

 

HARI masih pagi saat I Wayan Sujaya melintas di bendungan Telaga Tunjung, Desa Pesagi, Kecamatan Penebel, Tabanan. Kawasan Bendungan Telaga Tunjung memang berada di wilayah beberapa desa. Sebagiannya masuk wilayah Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan.

 

Itu adalah hari Sabtu (30/10). Tiba-tiba, mata Sujaya terpaku pada suatu benda di saluran air Bendungan Telaga Tunjung. Awalnya, ia mengira itu hanya sebatang kayu berukuran besar.

- Advertisement -

 

Semakin dekat, pria berusia 24 tahun itu semakin penasaran. Perkiraannya meleset. Ia menduga, itu tubuh manusia.

 

Sujaya pun terus mendekati sosok itu. Dan benar saja. Itu tubuh manusia yang tersangkut di ujung hilir pembuangan air Bendungan Telaga Tunjung.

 

Ternyata saksi mengenali wajah dari jenazah tersebut. Yakni jenazah tersebut Gusti Ayu Komang Sudiasih. Perempuan berusia 38 tahun itu adalah warga Banjar Dinas Kesiut Kanginan, Desa Kesiut, Kerambitan. Desa ini bertetangga dengan Desa Pesagi. Tak jauh dari Bendungan Telaga Tunjung.

Baca Juga:  Adili Terdakwa Togel, Hakim Sentil Tajen yang Marak di Jembrana Bali

 

“Kejadian ini pun dilaporkan saksi ke petugas bendungan dan dilaporkan ke Bhabinkamtibmas desa setempat dan dilaporkan ke Polsek Penebel,” kata Kapolsek Penebel, AKP I Nyoman Artadana, Sabtu (30/10).

 

Usai ditemukan warga selanjutnya terhadap jenazah korban dilakukan evakuasi. Proses evakuasi melibatkan Tim Basarnas, BPBD Tabanan aparat kepolisian juga dibantu warga sekitar.

 

Evakuasi jenazah korban menggunakan tali dan berhasil membawa jenazah korban ke pinggir bendungan. Jenazah itu pun dilakukan identifikasi dan pemeriksaan medis.

 

“Dari dari pemeriksaan tim medis pada tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, namun korban diduga meninggal dunia di bendungan sejak semalam,” kata Kapolsek Penebel.

 

Jenazah korban pun langsung dibawa ke rumah duka. Dari hasil olah TKP di lokasi kejadian dan memeriksa saksi termasuk pula keluarga korban.

 

Ia pun memastikan, korban meninggal dunia di bendungan Telaga Tunjung bukan karena jatuh terpeleset.

 

“Melainkan korban diduga bunuh diri dengan cara melompat ke dalam bendungan, karena depresi (stres),” terang Artadana.

 

Keluarga korban, Gusti Ayu Made Darmani menyebutkan, korban meninggalkan rumah sejak Jumat malam (29/10) sekitar Pukul 20.00 Wita. Yakni sehari sebelum ditemukan meninggal dunia di bendungan.

Baca Juga:  Per 1 Mei 2020, Iuran Peserta Segmen PBPU dan BP kembali ke Awal

 

Korban sempat berpamitan kepada saksi untuk pergi ke rumah Ibu Widia yang rumahnya sekitar 50 meter dari rumah korban.

 

Lantaran tak kunjung pulang selanjutnya saksi menjemput korban. Sayang di rumah Ibu Widia korban tidak ditemukan. Hingga larut malam korban tak kunjung pulang ke rumah.

 

Keluarga korban lainnya, Gusti Kadek Pariardika, menjelaskan bahwa korban sempat mendatangi dirinya dengan meminta obat (racun) untuk menyemprot hama rumput.

 

“Namun saksi mengatakan tidak memiliki obat (racun),” terang Kapolsek.

 

Saksi kemudian menanyakan kepada korban untuk apa obat racun. Korban menjawab bahwa korban sedang bingung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Sementara itu informasi dari warga sekitar korban memang selama ini tinggal sendirian setelah suaminya meninggal sejak 5 tahun yang lalu. Korban bekerja sebagai tukang jahit.

 

Setelah salah satu keponakannya meninggal dunia, Sudiasih makin kebingungan. Sebab, keponakannya itu lah yang selama ini kerap kali membantu korban untuk biaya hidup.

Kondisi itu diduga membuat korban tertekan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

“Jadi korban bunuh diri karena depresi soal masalah di kehidupannya,” pungkasnya.

- Advertisement -

Kematian I Gusti Ayu Komang Sudiasih di Bendungan Telaga Tunjung, Banjar Pegubungan Kauh, Desa Pesagi, Kecamatan Penebel, Tabanan, Sabtu (30/10) meninggalkan kisah pilu. Ia diduga nekat mengakhiri hidupnya karena tertekan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

JULIADI, Tabanan

 

HARI masih pagi saat I Wayan Sujaya melintas di bendungan Telaga Tunjung, Desa Pesagi, Kecamatan Penebel, Tabanan. Kawasan Bendungan Telaga Tunjung memang berada di wilayah beberapa desa. Sebagiannya masuk wilayah Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan.

 

Itu adalah hari Sabtu (30/10). Tiba-tiba, mata Sujaya terpaku pada suatu benda di saluran air Bendungan Telaga Tunjung. Awalnya, ia mengira itu hanya sebatang kayu berukuran besar.

 

Semakin dekat, pria berusia 24 tahun itu semakin penasaran. Perkiraannya meleset. Ia menduga, itu tubuh manusia.

 

Sujaya pun terus mendekati sosok itu. Dan benar saja. Itu tubuh manusia yang tersangkut di ujung hilir pembuangan air Bendungan Telaga Tunjung.

 

Ternyata saksi mengenali wajah dari jenazah tersebut. Yakni jenazah tersebut Gusti Ayu Komang Sudiasih. Perempuan berusia 38 tahun itu adalah warga Banjar Dinas Kesiut Kanginan, Desa Kesiut, Kerambitan. Desa ini bertetangga dengan Desa Pesagi. Tak jauh dari Bendungan Telaga Tunjung.

Baca Juga:  Saat Menolong Karyawan, Bos Bengkel Las juga Ikut Tersetrum dan Jatuh

 

“Kejadian ini pun dilaporkan saksi ke petugas bendungan dan dilaporkan ke Bhabinkamtibmas desa setempat dan dilaporkan ke Polsek Penebel,” kata Kapolsek Penebel, AKP I Nyoman Artadana, Sabtu (30/10).

 

Usai ditemukan warga selanjutnya terhadap jenazah korban dilakukan evakuasi. Proses evakuasi melibatkan Tim Basarnas, BPBD Tabanan aparat kepolisian juga dibantu warga sekitar.

 

Evakuasi jenazah korban menggunakan tali dan berhasil membawa jenazah korban ke pinggir bendungan. Jenazah itu pun dilakukan identifikasi dan pemeriksaan medis.

 

“Dari dari pemeriksaan tim medis pada tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, namun korban diduga meninggal dunia di bendungan sejak semalam,” kata Kapolsek Penebel.

 

Jenazah korban pun langsung dibawa ke rumah duka. Dari hasil olah TKP di lokasi kejadian dan memeriksa saksi termasuk pula keluarga korban.

 

Ia pun memastikan, korban meninggal dunia di bendungan Telaga Tunjung bukan karena jatuh terpeleset.

 

“Melainkan korban diduga bunuh diri dengan cara melompat ke dalam bendungan, karena depresi (stres),” terang Artadana.

 

Keluarga korban, Gusti Ayu Made Darmani menyebutkan, korban meninggalkan rumah sejak Jumat malam (29/10) sekitar Pukul 20.00 Wita. Yakni sehari sebelum ditemukan meninggal dunia di bendungan.

Baca Juga:  Rumah Satu-satunya Diterjang Longsor, Nata Berharap Dapat Bantuan

 

Korban sempat berpamitan kepada saksi untuk pergi ke rumah Ibu Widia yang rumahnya sekitar 50 meter dari rumah korban.

 

Lantaran tak kunjung pulang selanjutnya saksi menjemput korban. Sayang di rumah Ibu Widia korban tidak ditemukan. Hingga larut malam korban tak kunjung pulang ke rumah.

 

Keluarga korban lainnya, Gusti Kadek Pariardika, menjelaskan bahwa korban sempat mendatangi dirinya dengan meminta obat (racun) untuk menyemprot hama rumput.

 

“Namun saksi mengatakan tidak memiliki obat (racun),” terang Kapolsek.

 

Saksi kemudian menanyakan kepada korban untuk apa obat racun. Korban menjawab bahwa korban sedang bingung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Sementara itu informasi dari warga sekitar korban memang selama ini tinggal sendirian setelah suaminya meninggal sejak 5 tahun yang lalu. Korban bekerja sebagai tukang jahit.

 

Setelah salah satu keponakannya meninggal dunia, Sudiasih makin kebingungan. Sebab, keponakannya itu lah yang selama ini kerap kali membantu korban untuk biaya hidup.

Kondisi itu diduga membuat korban tertekan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

“Jadi korban bunuh diri karena depresi soal masalah di kehidupannya,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/