alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Diguyur Hujan Lebat, Palinggih dan Pos Kamling Tergerus Longsor

GIANYAR – Senderan tebing sepanjang 30 meter dengan tinggi kurang lebih 10 meter di Perumahan Sri Santika Graha di Lingkungan Kelod Kauh Kelurahan Abianbase, Kecamatan Gianyar longsor pada Jumat (29/12) pukul 23.30.

Akibatnya, sebuah bangunan palinggih padmasana dan pos kamling yang berada di atas senderan terbawa longsor. Pihak perumahan berencana memohon bantuan kepada pemerintah.

Kepala Lingkungan Perumahan, Dewa Made Suambara mengaku kejadian longsor berawal dari hujan lebat yang terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari.

“Kejadian sekitar Jumat malam. Saya diberi tahu kalau pos kamling sama padmasana kena longsor,” ujarnya ditemui Sabtu (30/12) di perumahan.

Dewa Suambara menjelaskan, senderan itu merupakan proyek Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Gianyar. Itu karena di bawah senderan terdapat sungai dengan aliran yang kecil.

Baca Juga:  Dihantam Gelombang Tinggi, Jukung Terbalik, 2 Nelayan Tabanan Selamat

“Kami tidak tahu kenapa senderan ambruk, padahal aliran airnya kecil. Makanya warga di perumahan sebanyak 25 kk berani membuat fasilitas umum, berupa pos kamling sama padmasana,” jelasnya.

Pascalongsor, warga pun gotong royong untuk memberikan batu sebagai pembatas supaya tidak ada kendaraan yang mepet ke jalan yang kena longsor.

“Warga juga memasang plang dari bambu di pintu perumahan supaya truk tidak masuk dulu, supaya tidak menambah parah,” jelasnya.

Mengenai kerugiannya, ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Warga sendiri tidak ada yang berani untuk memungut atau membersihkan puing bangunan dan terbawa longsor.

“Kami tidak berani tambah masalah, kalau dibawah gotong royong takutnya tanah di atas (jalan raya, red) longsor lagi,” ungkapnya.

Warga pun meminta bantuan pemerintah untuk mengeruk material longsor. “Nanti kami rembukkan dulu soal pembangunannya lagi.

Baca Juga:  Dapat Bantuan Double, 20 Warga Desa Takmung Dipaksa Kembalikan BLT

Masalah utama satu dulu, senderan harus ada dulu. Makanya kami lapor sama pemerintah karena dulu yang sender pemerintah,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu warga, Wayan Kantor yang rumahnya di depan lokasi longsor mengaku takut dengan kondisi itu.

Menurutnya, dulu sebelum longsor, di bawah senderan itu ditanami banyak pohon. Ditambah pos kamling, maka kelihatam asri dan enak dipakai istirahat.

“Entah ini tanggung jawab siapa sekarang, karena pengembang kan sudah tidak ada di sini, karena sudah diserahkan ke warga. Yang jelas ini fasum (fasilitas umum, red) dari perumahan,” tukasnya.

Dikatakan kantor, untuk bangunan pos kamling banyak digunakan warga sebagai tempat istirahat. Sedangkan untuk bangunan palinggih padmasana digunakan sebagai sembahyang bersama.



GIANYAR – Senderan tebing sepanjang 30 meter dengan tinggi kurang lebih 10 meter di Perumahan Sri Santika Graha di Lingkungan Kelod Kauh Kelurahan Abianbase, Kecamatan Gianyar longsor pada Jumat (29/12) pukul 23.30.

Akibatnya, sebuah bangunan palinggih padmasana dan pos kamling yang berada di atas senderan terbawa longsor. Pihak perumahan berencana memohon bantuan kepada pemerintah.

Kepala Lingkungan Perumahan, Dewa Made Suambara mengaku kejadian longsor berawal dari hujan lebat yang terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari.

“Kejadian sekitar Jumat malam. Saya diberi tahu kalau pos kamling sama padmasana kena longsor,” ujarnya ditemui Sabtu (30/12) di perumahan.

Dewa Suambara menjelaskan, senderan itu merupakan proyek Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Gianyar. Itu karena di bawah senderan terdapat sungai dengan aliran yang kecil.

Baca Juga:  Semarak HUT RI, Warga Pedungan Hias Gang dengan Bendera dan Penjor

“Kami tidak tahu kenapa senderan ambruk, padahal aliran airnya kecil. Makanya warga di perumahan sebanyak 25 kk berani membuat fasilitas umum, berupa pos kamling sama padmasana,” jelasnya.

Pascalongsor, warga pun gotong royong untuk memberikan batu sebagai pembatas supaya tidak ada kendaraan yang mepet ke jalan yang kena longsor.

“Warga juga memasang plang dari bambu di pintu perumahan supaya truk tidak masuk dulu, supaya tidak menambah parah,” jelasnya.

Mengenai kerugiannya, ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Warga sendiri tidak ada yang berani untuk memungut atau membersihkan puing bangunan dan terbawa longsor.

“Kami tidak berani tambah masalah, kalau dibawah gotong royong takutnya tanah di atas (jalan raya, red) longsor lagi,” ungkapnya.

Warga pun meminta bantuan pemerintah untuk mengeruk material longsor. “Nanti kami rembukkan dulu soal pembangunannya lagi.

Baca Juga:  Kompleks Taman Kota Akan Disewakan, Desa Pakraman Siap Kelola

Masalah utama satu dulu, senderan harus ada dulu. Makanya kami lapor sama pemerintah karena dulu yang sender pemerintah,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu warga, Wayan Kantor yang rumahnya di depan lokasi longsor mengaku takut dengan kondisi itu.

Menurutnya, dulu sebelum longsor, di bawah senderan itu ditanami banyak pohon. Ditambah pos kamling, maka kelihatam asri dan enak dipakai istirahat.

“Entah ini tanggung jawab siapa sekarang, karena pengembang kan sudah tidak ada di sini, karena sudah diserahkan ke warga. Yang jelas ini fasum (fasilitas umum, red) dari perumahan,” tukasnya.

Dikatakan kantor, untuk bangunan pos kamling banyak digunakan warga sebagai tempat istirahat. Sedangkan untuk bangunan palinggih padmasana digunakan sebagai sembahyang bersama.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/