alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Koster Diingatkan Soal Konsep Nyegara Gunung Dalam Pembangunan Bali

DENPASAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster tengah merancang dan melaksanakan sejumlah mega proyek.

 

Sejumlah mega proyek itu, diantaranya proyek pembangunan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung, Jalan Tol Gilimanuk – Mengwi dan proyek infrastruktur lainnya.

 

Sayangnya, meski untuk tujuan pembangunan, namun pembangunan mega proyek ini tak luput dari sorotan sejumlah aktivis dan organisasi lingkungan di Bali.

 

Bahkan, salah satu cabang organisasi Internasional yang berkantor di Bali, Conservation Internasional (CI) pun ikut mengkritisi dan mengingatkan Gubernur Koster akan bagaimana membangun Bali ke depan terkait dengan banyaknya proyek-proyek strategis nasional diarahkan ke Bali.

- Advertisement -

 

“Dulu saat Pak Koster awal-awal menjadi ketua DPD PDIP, saya bertemu dan menawarkan bagaimana merancang pembangunan Pulau Bali. Saya bilang ke dia bahwa harus mampu membangun Bali dari konteks kultural,” kata Iwan Dewantama dari Conservation Internasional (CI).

Baca Juga:  Pemilik Hotel Ketar-Ketir, Promo Wisata Akhir Tahun Sepi Peminat

 

Iwan menyampaikan hal ini dalam sebuah diskusi akhir tahun yang digelar oleh Pasraman Air bertajuk “Bali dan Teror Infrastruktur yang bergentayangan” di Denpasar pada Rabu malam (29/12/2021) lalu.

 

Selain itu, Iwan juga menyampaikan, untuk membangun Pulau Bali yang kecil ini, harus ada pemikiran yang diletakan sebagai hulu dan hilir dengan konsep nyegara gunung.

 

“Semua kabupaten/kota jangan didorong untuk berkompetisi, tapi saling support. Karena secara konsep Sad Kerthi Loka Bali sudah ideal. Tapi sayangnya, banyak proyek yang dibangun di Bali,” ujarnya.

 

Ada tiga hal yang disoroti oleh Iwan Dewantama.

 

Pertama terkait kebijakan, kedua terkait konsep laut (nyegara) dan ketiga terkait hutan (gunung).

 

Untuk kebijakan, Iwan meminta secara tegas bahwa dalam pengambilan kebijakan juga harus mempertimbangkan secara benar dan juga menggunakan sains ilmiah.

 

Seperti halnya dalam konsep nyegara. Iwan memaparkan, dalam riset yang dilakukan Bali Water Protection (BWP) pada 2018 ini dirilis oleh Yayasan IDEP Selaras Alam dan Politeknik Negeri Bali (PNB) menyebutkan 5 dari 9 kabupaten kota di Bali mengalami intrusi (penyusupan) air laut.

Baca Juga:  Terdepan Tangani Covid-19, Koster Siapkan Insentif untuk Desa Adat

 

Sekadar diketahui, Intrusi air laut terjadi karena air tanah banyak disedot untuk kebutuhan sehari-hari dan industri, maka air tanah terisi air laut. Ini menyebabkan krisis air bersih di Bali.

 

Kemudian terkait konsep gunung. Iwan pun mengingatkan agar Gubernur Koster untuk tetap menjaga kelangsungan hutan, termasuk perkebunan, sawah yang masuk dalam kategori ruang terbuka hijau.

 

Namun hal ini tampaknya diindahkan dengan proyek jalan tol Gilimanuk – Mengwi yang menerobos hutan hingga sawah.

 

“Ini sangat berbahaya. Dengan adanya sejumlah penelitian baik melalui konsep nyegara gunung, disini baru dapat terlihat proyek mana yang merusak Bali,” pungkasnya.

- Advertisement -

DENPASAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster tengah merancang dan melaksanakan sejumlah mega proyek.

 

Sejumlah mega proyek itu, diantaranya proyek pembangunan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung, Jalan Tol Gilimanuk – Mengwi dan proyek infrastruktur lainnya.

 

Sayangnya, meski untuk tujuan pembangunan, namun pembangunan mega proyek ini tak luput dari sorotan sejumlah aktivis dan organisasi lingkungan di Bali.

 

Bahkan, salah satu cabang organisasi Internasional yang berkantor di Bali, Conservation Internasional (CI) pun ikut mengkritisi dan mengingatkan Gubernur Koster akan bagaimana membangun Bali ke depan terkait dengan banyaknya proyek-proyek strategis nasional diarahkan ke Bali.

 

“Dulu saat Pak Koster awal-awal menjadi ketua DPD PDIP, saya bertemu dan menawarkan bagaimana merancang pembangunan Pulau Bali. Saya bilang ke dia bahwa harus mampu membangun Bali dari konteks kultural,” kata Iwan Dewantama dari Conservation Internasional (CI).

Baca Juga:  SE Koster Berlaku Pagi Ini, Pengawasan Pintu Masuk Bali Diperketat

 

Iwan menyampaikan hal ini dalam sebuah diskusi akhir tahun yang digelar oleh Pasraman Air bertajuk “Bali dan Teror Infrastruktur yang bergentayangan” di Denpasar pada Rabu malam (29/12/2021) lalu.

 

Selain itu, Iwan juga menyampaikan, untuk membangun Pulau Bali yang kecil ini, harus ada pemikiran yang diletakan sebagai hulu dan hilir dengan konsep nyegara gunung.

 

“Semua kabupaten/kota jangan didorong untuk berkompetisi, tapi saling support. Karena secara konsep Sad Kerthi Loka Bali sudah ideal. Tapi sayangnya, banyak proyek yang dibangun di Bali,” ujarnya.

 

Ada tiga hal yang disoroti oleh Iwan Dewantama.

 

Pertama terkait kebijakan, kedua terkait konsep laut (nyegara) dan ketiga terkait hutan (gunung).

 

Untuk kebijakan, Iwan meminta secara tegas bahwa dalam pengambilan kebijakan juga harus mempertimbangkan secara benar dan juga menggunakan sains ilmiah.

 

Seperti halnya dalam konsep nyegara. Iwan memaparkan, dalam riset yang dilakukan Bali Water Protection (BWP) pada 2018 ini dirilis oleh Yayasan IDEP Selaras Alam dan Politeknik Negeri Bali (PNB) menyebutkan 5 dari 9 kabupaten kota di Bali mengalami intrusi (penyusupan) air laut.

Baca Juga:  Terbukti Melanggar Izin, Yacth Berbendera Australia Diusir dari Lovina

 

Sekadar diketahui, Intrusi air laut terjadi karena air tanah banyak disedot untuk kebutuhan sehari-hari dan industri, maka air tanah terisi air laut. Ini menyebabkan krisis air bersih di Bali.

 

Kemudian terkait konsep gunung. Iwan pun mengingatkan agar Gubernur Koster untuk tetap menjaga kelangsungan hutan, termasuk perkebunan, sawah yang masuk dalam kategori ruang terbuka hijau.

 

Namun hal ini tampaknya diindahkan dengan proyek jalan tol Gilimanuk – Mengwi yang menerobos hutan hingga sawah.

 

“Ini sangat berbahaya. Dengan adanya sejumlah penelitian baik melalui konsep nyegara gunung, disini baru dapat terlihat proyek mana yang merusak Bali,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/