NEGARA, Radar Bali.id – Ketua DPD Laskar Prabowo 08 Bali, I Nengah Tamba, meminta para pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), di Bali agar tidak mengendurkan semangat meski muncul kasus keracunan makanan di sejumlah daerah lain.
Tamba, yang juga mantan Bupati Jembrana, menegaskan bahwa kasus keracunan yang terjadi di luar Bali harus dijadikan pelajaran penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan kualitas pelaksanaan program.
“Memang ada kasus keracunan, tapi itu tidak terjadi di Bali. Namun, tetap harus dijadikan pelajaran penting bagi semua pihak untuk terus meningkatkan kualitas dan kehati-hatian,” ujar Tamba.
Menurutnya, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada siswa penerima manfaat.
“Jangan sampai hanya karena satu kejadian di daerah lain, semangat SPPG di Bali turun. Justru ini momentum untuk memperkuat sistem dan memastikan keamanan serta mutu makanan yang diberikan,” tegasnya.
Tamba menekankan bahwa program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini memiliki dampak ekonomi yang sangat luas, selain berorientasi pada gizi siswa. Program MBG dinilai mampu membuka lapangan pekerjaan dan memberdayakan petani lokal.
Ia mencontohkan di Jembrana. Dengan 17 SPPG yang beroperasi, dan jika setiap SPPG mempekerjakan sekitar 50 orang, maka ada 850 lapangan kerja yang tercipta. “Itu belum termasuk efek ekonomi turunan lainnya,” jelasnya.
Dari sisi pemberdayaan petani, kebutuhan bahan pokok untuk program ini sangat besar. Setiap SPPG rata-rata membutuhkan sekitar 250 kilogram beras per hari.
"Artinya, untuk di Jembrana saja dengan 17 SPPG, lebih dari 4 ton beras yang dibutuhkan setiap hari. Belum termasuk sayur-mayur dan bahan pangan lainnya. Ini sangat membantu penyerapan hasil pertanian lokal,” ujarnya.
Oleh karena itu, Tamba meminta program ini disosialisasikan secara menyeluruh dari hulu ke hilir, terutama kepada petani, nelayan, dan peternak, agar mereka siap menjadi mitra SPPG dalam menyediakan kebutuhan bahan baku.
Tamba menambahkan, keberhasilan program MBG akan sangat bergantung pada kolaborasi semua pihak. “Tujuan akhirnya bukan hanya agar anak-anak kita makan bergizi, tapi juga agar rakyat di bawah—petani, nelayan, pelaku UMKM—ikut menikmati manfaatnya,” pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita