Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Megaproyek Bali Subway: Dari Ritual Mewah ke Semak Belukar, Anton Subowo dan PT BIP Bawa Janji Manis yang Menguap?

Ni Kadek Novi Febriani • Minggu, 8 Februari 2026 | 18:19 WIB
JADI SEMAK BELUKAR: Lokasi upacara pangeruawakan Bali Subway atau Kereta Bawah Tanah di areal Sentral Parkir Kuta ini kini menjadi semak belukar tak terurus.
JADI SEMAK BELUKAR: Lokasi upacara pangeruawakan Bali Subway atau Kereta Bawah Tanah di areal Sentral Parkir Kuta ini kini menjadi semak belukar tak terurus.

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Aroma dupa dan lantunan doa dalam upacara ngeruwak megah di Central Parkir Kuta pada September 2024 lalu rupanya belum cukup sakti untuk menggerakkan roda proyek Bali Subway.

Setahun berselang, mega proyek transportasi bawah tanah yang digadang-gadang menjadi solusi kemacetan akut Bali ini justru beralih rupa menjadi "monumen" ketidakpastian.

Pantauan di lokasi yang seharusnya menjadi titik awal sejarah baru transportasi Bali itu kini memprihatinkan. Lahan di Jalan Raya Kuta tersebut kini hanya berupa hamparan semak belukar yang terkurung pagar seng kusam bertuliskan Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ). Tak ada raungan alat berat, apalagi delapan unit Tunnel Boring Machine (TBM) yang sempat dijanjikan mendarat pada April 2025.

Kekecewaan publik pun meledak. Ngurah Sudarma, warga Dalung yang setiap hari "makan hati" terjebak macet di jalur Kuta-Canggu, menyebut proyek ini tak lebih dari sekadar jualan politik atau "omon-omon".

"Kami ini disuguhi harapan kosong. Katanya mau bangun subway untuk urai macet, tapi nyatanya cuma pagar seng. Nasibnya sama saja dengan Tol Mengwi-Gilimanuk, hilang ditelan bumi," cetus Sudarma dengan nada getir kepada media, Minggu (8/2/2026).

Lokasi upacara Ngeruwak Bali Subway di area Setral Parkir Kuta yang kini jadi semak belukar.
Lokasi upacara Ngeruwak Bali Subway di area Setral Parkir Kuta yang kini jadi semak belukar.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali, I Made Rai Ridharta, turut angkat bicara. Ia mempertanyakan transparansi dan keseriusan pemerintah serta konsorsium investor. "Publik berhak tahu, sampai mana progresnya? Jangan sampai upacara besar-besaran itu hanya seremonial tanpa isi," sentilnya.

Sorotan tajam kini mengarah pada PT Bumi Indah Prima (PT BIP) selaku pimpinan konsorsium investor. Nama Anton Aditya Wibowo alias Anton Subowo, putra mantan Ketua KONI Rita Subowo, menjadi sorotan utama dalam kapasitasnya sebagai Komisaris PT BIP.

Pada Juli 2024, penunjukan PT BIP sebagai qualified partner dilakukan dengan penuh optimisme oleh Dirut PT SBDJ saat itu, Ari Askhara. Namun, pasca mundurnya Ari Askhara dan digantikan oleh Ervan Maksum, proyek senilai USD 20 miliar (sekitar Rp300 triliun lebih) ini seolah kehilangan nakhoda.

"Pertanyaannya sederhana: Apakah PT BIP gagal mendatangkan investor kakap untuk mendanai proyek fantastis ini? Mengapa progresnya senyap?" tanya seorang sumber yang enggan disebutkan namanya.

Kebingungan publik kian diperparah dengan munculnya dokumen visi-misi "Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun". Secara mengejutkan, rencana besar yang awalnya berupa Mass Rapid Transit (MRT) bawah tanah kini disinyalir bergeser menjadi Autonomous Rail Rapid Transit (ART) alias kereta tanpa awak yang melintas di atas permukaan jalan.

Perubahan ini dianggap sebagai sinyal keputusasaan anggaran. Made Rai Ridharta memperingatkan bahwa jika ART dipaksakan tanpa jalur khusus yang steril, maka Bali hanya akan menambah kemacetan baru. "Kalau kecepatannya sama saja dengan mobil pribadi karena terjebak macet, untuk apa bangun kereta?" tegasnya.

Sementara itu, Dinas Perhubungan Provinsi Bali terkesan sangat berhati-hati. Kepala Dishub Bali, I Made Mudarta, menyatakan pihaknya hanya mengurusi aspek teknis dan regulasi. Ia menegaskan bahwa bola panas pembiayaan ada di tangan PT SBDJ.

“Kami menugaskan PT SBDJ mencari mitra. Skema pembiayaan sepenuhnya kewenangan mereka. Evaluasi teknis baru bisa kami lakukan setelah ada feasibility study yang masuk,” ujar Mudarta diplomatis.

Kini, rakyat Bali hanya bisa menatap pagar seng di Kuta sebagai pengingat akan janji-janji besar yang belum terwujud. Jika Anton Subowo dan PT BIP tidak segera memberikan pembuktian fisik di lapangan, Bali Subway terancam hanya akan menjadi catatan kelam dalam sejarah infrastruktur di Pulau Dewata.***

Editor : M.Ridwan
#terbengkalai #Bali Subway #moda transportasi #Central Parkir Kuta #semak belukar