DENPASAR, Radar Bali.id – Badan Karantina Indonesia melalui Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Bali (Karantina Bali) memperketat pengawasan terhadap lalu lintas ternak, khususnya Sapi Bali yang akan dikirim ke Pulau Jawa.
Langkah ini diambil bukan sekadar prosedur rutin, melainkan upaya vital dalam menjaga kesehatan hewan dan melindungi kekayaan sumber daya genetik Bali.
Kepala Karantina Bali, Heri Yuwono, menegaskan bahwa seluruh proses pengiriman harus melewati skrining ketat guna mencegah penyebaran Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK).
"Fokus utama kami adalah mencegah keluar-masuknya penyakit hewan. Lebih dari itu, kami berkomitmen menjaga plasma nutfah Sapi Bali sebagai sumber daya genetik yang bernilai strategis bagi Indonesia," ujar Heri, Selasa (17/3/2026).
Prosedur Tanpa Celah: Sehat atau Ditolak
Sesuai dengan UU Nomor 21 Tahun 2019, setiap ekor sapi yang akan melintasi perbatasan wajib menjalani serangkaian tindakan karantina, mulai dari:
- Pemeriksaan Administrasi: Memastikan kesesuaian dokumen asal-usul ternak.
- Pemeriksaan Fisik: Melakukan cek kesehatan secara menyeluruh di lapangan.
- Tindakan Lanjutan: Jika ditemukan gejala klinis penyakit, hewan akan langsung diasingkan dan diberi perlakuan khusus.
"Hanya hewan yang benar-benar dinyatakan sehat dan bebas HPHK yang bisa mendapatkan sertifikat kesehatan untuk melanjutkan perjalanan," tambahnya.
Data Pengiriman: 10.039 Ekor Sapi Jantan Lolos Karantina
Berdasarkan data periode Januari hingga 13 Maret 2026, tercatat sebanyak 10.039 ekor sapi jantan telah dikirim keluar Bali melalui 430 kali frekuensi pengiriman.
Satu hal yang menjadi catatan penting adalah kebijakan ketat mengenai jenis kelamin ternak yang dikirim. Karantina Bali menegaskan tidak menerbitkan sertifikat kesehatan untuk sapi bibit betina. Hal ini dilakukan untuk memastikan populasi indukan tetap terjaga di Pulau Dewata demi kelestarian keturunan Sapi Bali yang khas.
"Dengan prosedur resmi ini, kami memastikan setiap lalu lintas ternak yang terjadi sudah sesuai dengan ketentuan hukum dan aman secara kesehatan," pungkas Heri Yuwono.[*]
Editor : Hari Puspita