Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Selain Produksi Melimpah, Porang Indonesia Kalah Saing dengan Vietnam

Didik Dwi Pratono • Sabtu, 9 Oktober 2021 | 22:15 WIB
selain-produksi-melimpah-porang-indonesia-kalah-saing-dengan-vietnam
selain-produksi-melimpah-porang-indonesia-kalah-saing-dengan-vietnam

TABANAN- Sempat jadi primadona dan naik daun, harga porang milik petani Tabanan anjlok.


Porang hasil panen petani yang sebelumnya sempat menyetuh harga Rp8 ribu per kilogram, kini hanya berada di kisaran Rp6 ribu-7 ribu per kilogramnya.


Usut punya usut, selain akibat banyaknya produksi porang dan oknum eksportir nakal, jatuhnya harga porang juga disebabkan karena porang Indonesia kalah dengan para eksportir di Vietnam.


Seperti diakui Ketua DPW Perhimpunan Petani Penggiat Porang Nusantara (P3N) Bali Nyoman Sunaya.


Dikatakan, selain akibat dampak dari melimpahnya produksi porang, ada banyak faktor penyebab harga porang ‘hancur’ alias jatuh.


“Penyebabnya karena produksi porang dalam negeri melimpah, inilah yang membuat turun harga umbi porang. Apalagi produksi porang Indonesia bersaing dengan negara Vietnam,” kata Nyoman Sunaya.


Selain itu, kata Sunaya, di Indonesia juga baru terdapat satu pabrik porang yang benar-benar melakukan pemurnian glukomanan umbi porang dengan teknologi injeksi yakni PT. Ambiko yang ada di daerah Pasuruan Jawa Timur.


Kendati saat ini banyak pabrik porang di Jawa Timur, namun menurutnya, kandungan rendemen glukomanan masih kecil 60-70.


Sementara permintaan ekspor rendemen glukomanan 90 persen.


“Maka kami tidak heran jika harga porang saat ini turun,” tansdnyanya.


Sejauh ini pengiriman hasil tanaman porang di Bali masih ke pabrik yang ada daerah Jawa Timur. Sedangkan untuk ekspor secara langsung belum dilakukan karena belum ada pabrik di Bali.


“Di kami di P3N Bali mengirim porang dengan dua perusahaan besar yakni PT. Rajawali Penta Nusantara dan PT. Asia Prima Konjac. Karena baru dua perusahaan tersebut yang MoU,” ucapnya.

Editor : Didik Dwi Pratono