SUASANA khas Bali itu langsung terasa, saat melihat prosesi perayaan Natal di Gereja Katolik itu. Mulai hiasan penjor dan pohon Natal yang terbuat dari cemara sangat kental dengan Budaya Bali. Menariknya lagi saat pelaksanaan ibadah Natal seluruh jemaat mengenakan pakaian adat Bali.
Bukan hanya itu bangunan Gereja Katolik Stasi Santo Mikael sangat khas dengan ornamen dan ukiran Bali. Sementara itu Peribadatan atau misa Natal di Gereja itu mulai digelar pukul 09.00 pagi hingga siang hari.
“Jauh berbeda perayaan Natal di tahun ini, penuh bahagia dan ramai dibandingkan dua tahun lalu saat pandemi Covid-19. Dulu harus dilakukan pembatasan, karena adanya wabah. Tetapi saat tidak ada batasan,” ujar Ketua Dewan Gereja Stasi Santo Mikael Piling, Andreas I Made Agus Wirawan, Minggu kemarin di sela-sela ibadah Natal.
Pria berusia 43 tahun ini menyebut rangkaian peribadatan Natal 2022 di Gereja Katolik Stasi Santo Mikael diawali dengan perenungan dan ibadat tobat.
Jemaat merenungkan diri apakah perjalanan hidup sudah sesuai dengan ajaran agama. Renungan ini dibimbing pastur, baru kemudian melakukan pertobatan sebagai kesiapan diri menyambut kelahiran Yesus.
Setelah itu jemaat Gereja Katolik Stasi Santo Mikael Piling melakukan Misa Malam Natal yang dimulai Sabtu malam (24/12) sejak pukul 19.00 Wita. “Dan hari ini puncaknya Misa Natal kami dan jemaat lakukan,” ucap Andreas.
Pelaksanaan ibadah misa Natal di gereja ini dipimpin Romo Aloysius Nyoman Purnawan. Dalam khotbahnya, Romo Aloysius Nyoman Purnawan mengajak umat Kristen Katolik untuk membebaskan diri dari belenggu dosa melalui jalan baru.
“Untuk menemukan jalan baru dan kreatif dalam mewartakan kasih-Nya kepada semua umat meski hidup dalam kebhinnekaan. Sehingga mampu menghadapi tantangan hidup bersama-sama. Karena kebhinnekaan itu adalah sebuah anugerah,” sebutnya.
Usai peribadatan misa Natal, jemaat Gereja Katolik Stasi Santo Mikael Piling terlihat bersuka cita dan saling memberikan ucapan selamat. Pihak gereja juga menyelenggarakan acara tambahan bagi anak-anak dengan memberikan kado Natal.
Disinggung soal masih kentalnya Budaya Bali yang dilakukan secara turun temurun oleh umat kristiani di Banjar Dinas Piling, Andreas mengaku ke gereja mengenakan pakaian adat Bali merupakan tradisi leluhur.
“Leluhur kami dari dulu tinggal di Bali, jadinya harus melestarikan budaya di mana tempat kami tinggal. Menjaga tradisi diajarkan leluhur kami jadi simbol toleransi beragama,” akunya.
Selain itu diakui Andreas umat Kristiani disini masih melakukan tradisi ngejot membawa makanan ke rumah warga yang beragama Hindu saat momen pelaksanaan Natal. Begitu pula sebaliknya saat Hari Raya Galungan.
“Umat Kristen juga beramai-ramai potong babi dan buat lawar. Setelah makanan selesai, mereka menggelar tradisi ngejot (bawa makanan ke rumah penduduk). Saat Galungan, mereka juga menerima ejotan dari umat Hindu,” pungkasnya. [juliadi/radar bali]
Editor : Hari Puspita