27.6 C
Denpasar
Tuesday, January 31, 2023

Duh! Di Singaraja Solar Langka, Truk Sampah Tak Dapat Jatah, Sampah Sampai Tumpah

SINGARAJA – Pemerintah terpaksa mengandangkan truk sampah. Penyebabnya solar sedang langka di Singaraja. Solar yang langka menyebabkan truk tak bisa mengangkut sampah di beberapa Tempat Penampungan Sementara (TPS). Alhasil sampah pun meluber kemana-mana.

Di TPS Desa Panji misalnya. Biasanya sampah dengan mudah tertampung di kontainer sampah yang disediakan. Tapi sudah dua hari sampah tak diangkut. Sehingga sampah meluber di sekitar lokasi TPS.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng Gede Melandrat mengakui pihaknya sengaja mengandangkan truk sampah untuk sementara waktu. Sebab distribusi belum normal. DLH pun telah meminta permakluman pada seluruh perbekel/lurah bahwa distribusi sampah akan tersendat sementara waktu. Permakluman itu dituangkan dalam surat nomor 660/2520/Bid.PSLB3/DLH/2022 yang terbit pada Selasa (6/12) lalu.

“Karena situasi dan kondisi belum memungkinkan, jadi kami belum bisa mengoptimalkan pengangkutan. Hari ini beberapa armada kami sudah jalan, karena beberapa SPBU sudah ada solar. Tapi kedepannya seperti apa, kami masih belum bisa prediksi,” kata Melandrat.

Baca Juga:  Menjadi Peserta JKN, Gadis Cantik Ini Ngaku Dapat Banyak Manfaat

Melandrat mengklaim truk pengangkut sampah juga berhak menggunakan BBM subsidi, dalam hal ini solar. Hal itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM. Dalam beleid itu jelas disebutkan bahwa kendaraan untuk pelayanan umum seperti ambulans, mobil jenazah, mobil pemadam kebakaran, dan mobil pengangkut sampah berhak menggunakan BBM subsidi.

Untuk sementara waktu, pihaknya berencana mengalihkan penggunaan BBM dari solar menjadi dexlite. Namun DLH Buleleng masih menghitung kembali kebutuhan biaya. Sebab sisa anggaran pembelian BBM sangat terbatas. Apalagi harga dexlite mencapai Rp 18.300 per liter, nyaris tiga kali lipat dari harga solar subsidi yang hanya Rp 6.800 per liter.

Baca Juga:  Siaga G20, Pelototi Jalur Tikus dan Pelabuhan Rakyat

Dari hitung-hitungan sementara, apabila armada sampah menggunakan dexlite, maka anggaran pembelian BBM hanya cukup untuk 10 hari saja. Ia pun berencana mengoptimalkan daya angkut, dari semula 6 kubik per truk, menjadi 8-10 kubik per truk.

“Kami juga harap desa yang punya armada sampah, bisa ikut berpartisipasi membantu kami sementara waktu. Kalau sampahnya meluber, paling tidak sampahnya diangkut pakai mobil pikap sampah ke TPA Bengkala. Kalau memang tidak bisa, minimal pemilahan sampah dari rumah tangga digencarkan. Jadi sampah yang masuk TPS juga berkurang,” tandasnya. (eps/rid)



SINGARAJA – Pemerintah terpaksa mengandangkan truk sampah. Penyebabnya solar sedang langka di Singaraja. Solar yang langka menyebabkan truk tak bisa mengangkut sampah di beberapa Tempat Penampungan Sementara (TPS). Alhasil sampah pun meluber kemana-mana.

Di TPS Desa Panji misalnya. Biasanya sampah dengan mudah tertampung di kontainer sampah yang disediakan. Tapi sudah dua hari sampah tak diangkut. Sehingga sampah meluber di sekitar lokasi TPS.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng Gede Melandrat mengakui pihaknya sengaja mengandangkan truk sampah untuk sementara waktu. Sebab distribusi belum normal. DLH pun telah meminta permakluman pada seluruh perbekel/lurah bahwa distribusi sampah akan tersendat sementara waktu. Permakluman itu dituangkan dalam surat nomor 660/2520/Bid.PSLB3/DLH/2022 yang terbit pada Selasa (6/12) lalu.

“Karena situasi dan kondisi belum memungkinkan, jadi kami belum bisa mengoptimalkan pengangkutan. Hari ini beberapa armada kami sudah jalan, karena beberapa SPBU sudah ada solar. Tapi kedepannya seperti apa, kami masih belum bisa prediksi,” kata Melandrat.

Baca Juga:  Aplikasi Mobile JKN Mudahkan Nonik Akses Berbagai Layanan

Melandrat mengklaim truk pengangkut sampah juga berhak menggunakan BBM subsidi, dalam hal ini solar. Hal itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM. Dalam beleid itu jelas disebutkan bahwa kendaraan untuk pelayanan umum seperti ambulans, mobil jenazah, mobil pemadam kebakaran, dan mobil pengangkut sampah berhak menggunakan BBM subsidi.

Untuk sementara waktu, pihaknya berencana mengalihkan penggunaan BBM dari solar menjadi dexlite. Namun DLH Buleleng masih menghitung kembali kebutuhan biaya. Sebab sisa anggaran pembelian BBM sangat terbatas. Apalagi harga dexlite mencapai Rp 18.300 per liter, nyaris tiga kali lipat dari harga solar subsidi yang hanya Rp 6.800 per liter.

Baca Juga:  KONI Buleleng Menyerah, Tak Siap Jadi Tuan Rumah Cabor Panjat Tebing

Dari hitung-hitungan sementara, apabila armada sampah menggunakan dexlite, maka anggaran pembelian BBM hanya cukup untuk 10 hari saja. Ia pun berencana mengoptimalkan daya angkut, dari semula 6 kubik per truk, menjadi 8-10 kubik per truk.

“Kami juga harap desa yang punya armada sampah, bisa ikut berpartisipasi membantu kami sementara waktu. Kalau sampahnya meluber, paling tidak sampahnya diangkut pakai mobil pikap sampah ke TPA Bengkala. Kalau memang tidak bisa, minimal pemilahan sampah dari rumah tangga digencarkan. Jadi sampah yang masuk TPS juga berkurang,” tandasnya. (eps/rid)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru