26.5 C
Denpasar
Sunday, March 26, 2023

Ternyata Layanan Kontrasepsi Keliling Ramai Peminat

SINGARAJA– Layanan kontrasepsi keliling yang disiapkan pemerintah rupanya ramai peminat. Maklum saja, layanan kontrasepsi itu tak dipungut biaya alias gratis. Ditambah lagi, layanan itu sempat terhenti selama beberapa tahun gegara pandemi covid-19.

Biasanya kontrasepsi yang disiapkan pada layanan keliling itu merupakan metode kontrasepsi jangka panjang berupa KB implan serta penggunaan IUD. Layanan itu disiapkan dengan harapan masyarakat bisa merencanakan program kelahiran di keluarga, yang disesuaikan dengan kondisi kemampuan ekonomi keluarga masing-masing.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Buleleng, Nyoman Riang Pustaka mengatakan, layanan tersebut sudah dibuka sejak Februari lalu. Idealnya layanan keliling itu dilakukan sebulan sekali. Namun dalam sebulan, layanan itu bisa dilakukan lebih dari sekali.

“Permintaan di masyarakat cukup tinggi. Kalau dari perencanaan, sebenarnya sebulan sekali. Tapi karena ada permintaan bisa seminggu sekali atau seminggu dua kali. Bulan ini saja sudah tiga kali kami laksanakan,” kata Riang saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (16/3).

Baca Juga:  Jumlah ODP Covid-19 di Jembrana Bertambah, Kini Total Ada 21 Orang

Riang menjelaskan biasanya calon penerima kontrasepsi sudah mengetahui kebutuhannya. Apakah itu menggunakan kontrasepsi implan ataupun IUD. Meski begitu tak jarang saat memberikan layanan, petugas harus mengubah metode kontrasepsi yang akan digunakan.

Calon pengguna implan misalnya, dapat ditunda bila tensinya tinggi. Petugas akan menganjurkan mereka menggunakan metode IUD. Demikian pula dengan metode IUD, bila kondisi rahimnya dinilai tidak memungkinkan, maka disarankan menerima kontrasepsi implan.

Biasanya dalam sekali memberikan pelayanan, Dinas KB akan melayani hingga 50 orang perempuan usia subur. Mereka tak bisa melayani lebih banyak peserta. Lantaran jumlah tenaga yang terbatas. Selain itu ketersediaan alat kontrasepsi juga memiliki jangka waktu tertentu. “Sebelum dipasang, alat kontrasepsi itu kan harus disterilkan dulu. Itu ada jangka waktu tertentunya. Tidak bisa terlalu lama, karena kalau dipaksakan akan berbahaya bagi kesehatan perempuan penerima kontrasepsi. Selain itu kami juga hanya ada empat orang tenaga untuk memasang alat kontrasepsi ini,” jelasnya.

Baca Juga:  Pagerwesi, Tempat Sembahyang di Pura Ulun Danu Batur Diatur Jarak

Lebih lanjut diungkapkan, para penerima layanan kontrasepsi gratis, biasanya dianjurkan memeriksakan kontrasepsi mereka kepada bidan desa setempat secara rutin. Idealnya pemeriksaan dilakukan setiap enam bulan sekali. Hal itu perlu dilakukan guna menghindari potensi efek samping, seperti infeksi akibat pemasangan alat kontrasepsi.

Untuk diketahui, selama dua bulan terakhir, Dinas P2KBP3A Buleleng telah melayani 340 orang penerima kontrasepsi IUD, serta 205 orang penerima KB implan. Selain itu pada Februari lalu juga ada 112 orang perempuan yang menerima layanan KB steril. (eps)



SINGARAJA– Layanan kontrasepsi keliling yang disiapkan pemerintah rupanya ramai peminat. Maklum saja, layanan kontrasepsi itu tak dipungut biaya alias gratis. Ditambah lagi, layanan itu sempat terhenti selama beberapa tahun gegara pandemi covid-19.

Biasanya kontrasepsi yang disiapkan pada layanan keliling itu merupakan metode kontrasepsi jangka panjang berupa KB implan serta penggunaan IUD. Layanan itu disiapkan dengan harapan masyarakat bisa merencanakan program kelahiran di keluarga, yang disesuaikan dengan kondisi kemampuan ekonomi keluarga masing-masing.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Buleleng, Nyoman Riang Pustaka mengatakan, layanan tersebut sudah dibuka sejak Februari lalu. Idealnya layanan keliling itu dilakukan sebulan sekali. Namun dalam sebulan, layanan itu bisa dilakukan lebih dari sekali.

“Permintaan di masyarakat cukup tinggi. Kalau dari perencanaan, sebenarnya sebulan sekali. Tapi karena ada permintaan bisa seminggu sekali atau seminggu dua kali. Bulan ini saja sudah tiga kali kami laksanakan,” kata Riang saat ditemui di ruang kerjanya kemarin (16/3).

Baca Juga:  Duh, Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Hantui Buleleng

Riang menjelaskan biasanya calon penerima kontrasepsi sudah mengetahui kebutuhannya. Apakah itu menggunakan kontrasepsi implan ataupun IUD. Meski begitu tak jarang saat memberikan layanan, petugas harus mengubah metode kontrasepsi yang akan digunakan.

Calon pengguna implan misalnya, dapat ditunda bila tensinya tinggi. Petugas akan menganjurkan mereka menggunakan metode IUD. Demikian pula dengan metode IUD, bila kondisi rahimnya dinilai tidak memungkinkan, maka disarankan menerima kontrasepsi implan.

Biasanya dalam sekali memberikan pelayanan, Dinas KB akan melayani hingga 50 orang perempuan usia subur. Mereka tak bisa melayani lebih banyak peserta. Lantaran jumlah tenaga yang terbatas. Selain itu ketersediaan alat kontrasepsi juga memiliki jangka waktu tertentu. “Sebelum dipasang, alat kontrasepsi itu kan harus disterilkan dulu. Itu ada jangka waktu tertentunya. Tidak bisa terlalu lama, karena kalau dipaksakan akan berbahaya bagi kesehatan perempuan penerima kontrasepsi. Selain itu kami juga hanya ada empat orang tenaga untuk memasang alat kontrasepsi ini,” jelasnya.

Baca Juga:  Terdampak Corona, Eksport Udang Asal Buleleng Bali Mulai Tepuruk

Lebih lanjut diungkapkan, para penerima layanan kontrasepsi gratis, biasanya dianjurkan memeriksakan kontrasepsi mereka kepada bidan desa setempat secara rutin. Idealnya pemeriksaan dilakukan setiap enam bulan sekali. Hal itu perlu dilakukan guna menghindari potensi efek samping, seperti infeksi akibat pemasangan alat kontrasepsi.

Untuk diketahui, selama dua bulan terakhir, Dinas P2KBP3A Buleleng telah melayani 340 orang penerima kontrasepsi IUD, serta 205 orang penerima KB implan. Selain itu pada Februari lalu juga ada 112 orang perempuan yang menerima layanan KB steril. (eps)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru