27.6 C
Denpasar
Tuesday, January 31, 2023

Duh! Buleleng Darurat Rabies, Sebulan Empat Orang Meninggal

SINGARAJA– Kabupaten Buleleng kini dalam kondisi darurat rabies. Betapa tidak? Dalam setahun ini, sudah ada 12 orang yang meninggal karena terjangkit rabies. Mirisnya sebanyak empat orang diantaranya tewas hanya dalam bulan November ini.

Korban terakhir merupakan seorang pria berusia 35 tahun asal Desa Patas, Kecamatan Gerokgak. Korban dilarikan ke RSUD Buleleng pada Sabtu (26/11) sore lalu. Namun ia tak bisa diselamatkan. Korban dinyatakan meninggal dunia pada pukul 05.00, Senin (28/11) pagi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, korban sempat digigit anjing sekitar dua bulan lalu. Tatkala itu korban tengah gotong royong pada acara hajatan salah seorang warga. Nah beberapa ekor anjing liar pun berdatangan. Salah satu di antaranya menggigit ujung jari pada tangan kanan korban.

Kesal anjing itu menggigit, korban langsung membunuh anjing liar tersebut. Sayangnya korban tak melaporkan peristiwa tersebut pada pihak terkait. Baik pada petugas kesehatan maupun petugas peternakan.

Sepekan terakhir korban mengeluh tidak enak badan. Dia sempat dilarikan ke Puskesmas Gerokgak I, namun hanya diminta rawat jalan. korban juga sempat berobat ke RSU Parama Sidhi dengan keluhan demam yang tak kunjung reda.

Baca Juga:  STAHN Mpu Kuturan Singaraja Luluskan 183 Wisudawan, Diminta Implementasikan Karakter Mpu Kuturan

Terakhir pada Sabtu, korban dibawa ke RSUD Buleleng. Saat diperiksa, korban mengeluhkan sesak nafas. Korban juga gemetar saat terkena angin dari pendingin ruang, gelisah, serta sulit menelan air. Ciri-ciri yang identik dengan pasien yang terjangkit rabies. Korban dirawat selama dua hari di ruang isolasi, namun nyawanya tidak terolong.

“Korban ini tidak ada riwayat mendapatkan VAR (Vaksin Anti Rabies, Red). Padahal kalau anjing itu sudah dibunuh, mestinya kita sudah waspada dan menganggap bahwa anjing itu rabies. Dalam kondisi seperti itu sebaiknya segera melapor pada pihak terkait dan mengusulkan dapat VAR. Apalagi kalau digigit pada ujung jari, karena bagian ujung jari dan kepala yang paling rentan memicu penularan,” kata Direktur RSUD Buleleng dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD.

Seiring peningkatan kasus rabies, ia berharap upaya pencegahan bisa dioptimalkan. Masyarakat diminta mengandangkan atau minimal mengikat anjing peliharaan mereka. Sehingga potensi penyebaran rabies bisa ditekan.

Apabila anjing peliharaan menggigit orang lain, ia berharap pemilik anjing memantau kondisi kesehatan anjingnya. Sebab anjing rabies biasanya akan mati tujuh hari setelah menggigit. “Kalau misalnya digigit anjing peliharaan, dan anjing itu mati seminggu kemudian, segera minta VAR. Karena masih bisa selamat. Tapi kalau anjing liar, dan anjingnya itu dibunuh, lebih baik lapor saja dan konsultasi ke tim medis,” kata Arya Nugraha.

Baca Juga:  Ganti Rugi Kecil, Pemilik Lahan Pilih Ajukan Keberatan ke Pengadilan

Bila upaya itu belum efektif, ia berharap pemerintah dan DPRD bersedia membuat aturan yang lebih mengikat. Baik itu peraturan bupati maupun peraturan daerah. “Kalau pasien sudah datang dalam kondisi takut air, dan gejala-gejala yang identik rabies, mohon maaf peluang sembuhnya sangat kecil. Bahkan selama ini tingkat mortalitasnya (kematian) itu sampai 100 persen,” tandasnya.

Sekadar diketahui sepanjang tahun ini sudah ada 12 orang warga Buleleng yang meninggal akibat rabies. Dari 12 kasus tersebut, sebanyak 4 kasus terjadi di pada bulan November. Pada bulan November kasus meninggal akibat rabies masing-masing terjadi pada 7 November, 11 November, 19 November, dan terakhir pada Senin (28/11). (eps)

 

 



SINGARAJA– Kabupaten Buleleng kini dalam kondisi darurat rabies. Betapa tidak? Dalam setahun ini, sudah ada 12 orang yang meninggal karena terjangkit rabies. Mirisnya sebanyak empat orang diantaranya tewas hanya dalam bulan November ini.

Korban terakhir merupakan seorang pria berusia 35 tahun asal Desa Patas, Kecamatan Gerokgak. Korban dilarikan ke RSUD Buleleng pada Sabtu (26/11) sore lalu. Namun ia tak bisa diselamatkan. Korban dinyatakan meninggal dunia pada pukul 05.00, Senin (28/11) pagi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, korban sempat digigit anjing sekitar dua bulan lalu. Tatkala itu korban tengah gotong royong pada acara hajatan salah seorang warga. Nah beberapa ekor anjing liar pun berdatangan. Salah satu di antaranya menggigit ujung jari pada tangan kanan korban.

Kesal anjing itu menggigit, korban langsung membunuh anjing liar tersebut. Sayangnya korban tak melaporkan peristiwa tersebut pada pihak terkait. Baik pada petugas kesehatan maupun petugas peternakan.

Sepekan terakhir korban mengeluh tidak enak badan. Dia sempat dilarikan ke Puskesmas Gerokgak I, namun hanya diminta rawat jalan. korban juga sempat berobat ke RSU Parama Sidhi dengan keluhan demam yang tak kunjung reda.

Baca Juga:  Dianggap Terbuka atas Informasi Publik, Buleleng Raih Penghargaan Lagi

Terakhir pada Sabtu, korban dibawa ke RSUD Buleleng. Saat diperiksa, korban mengeluhkan sesak nafas. Korban juga gemetar saat terkena angin dari pendingin ruang, gelisah, serta sulit menelan air. Ciri-ciri yang identik dengan pasien yang terjangkit rabies. Korban dirawat selama dua hari di ruang isolasi, namun nyawanya tidak terolong.

“Korban ini tidak ada riwayat mendapatkan VAR (Vaksin Anti Rabies, Red). Padahal kalau anjing itu sudah dibunuh, mestinya kita sudah waspada dan menganggap bahwa anjing itu rabies. Dalam kondisi seperti itu sebaiknya segera melapor pada pihak terkait dan mengusulkan dapat VAR. Apalagi kalau digigit pada ujung jari, karena bagian ujung jari dan kepala yang paling rentan memicu penularan,” kata Direktur RSUD Buleleng dr. Putu Arya Nugraha, Sp.PD.

Seiring peningkatan kasus rabies, ia berharap upaya pencegahan bisa dioptimalkan. Masyarakat diminta mengandangkan atau minimal mengikat anjing peliharaan mereka. Sehingga potensi penyebaran rabies bisa ditekan.

Apabila anjing peliharaan menggigit orang lain, ia berharap pemilik anjing memantau kondisi kesehatan anjingnya. Sebab anjing rabies biasanya akan mati tujuh hari setelah menggigit. “Kalau misalnya digigit anjing peliharaan, dan anjing itu mati seminggu kemudian, segera minta VAR. Karena masih bisa selamat. Tapi kalau anjing liar, dan anjingnya itu dibunuh, lebih baik lapor saja dan konsultasi ke tim medis,” kata Arya Nugraha.

Baca Juga:  Legislatif-Eksekutif Tetap Bahas Perda Turunan UU Cipta Kerja

Bila upaya itu belum efektif, ia berharap pemerintah dan DPRD bersedia membuat aturan yang lebih mengikat. Baik itu peraturan bupati maupun peraturan daerah. “Kalau pasien sudah datang dalam kondisi takut air, dan gejala-gejala yang identik rabies, mohon maaf peluang sembuhnya sangat kecil. Bahkan selama ini tingkat mortalitasnya (kematian) itu sampai 100 persen,” tandasnya.

Sekadar diketahui sepanjang tahun ini sudah ada 12 orang warga Buleleng yang meninggal akibat rabies. Dari 12 kasus tersebut, sebanyak 4 kasus terjadi di pada bulan November. Pada bulan November kasus meninggal akibat rabies masing-masing terjadi pada 7 November, 11 November, 19 November, dan terakhir pada Senin (28/11). (eps)

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru