alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Desa Adat Legian akan Gelar Ngereh usai Penyusung Petapakan Kesurupan

BADUNG – Setelah 4 tahun lamanya, sesuunan di Desa Adat Legian, Kabupaten Badung, Bali kembali akan dilakukan upacara ngerehan atau ngereh. Puncak acaranya akan digelar pada Kamis (3/2/2022). Ngereh sesuunan di Desa Adat Legian ini dilakukan usai ada penyusung petakapan yang kesurupan.

Sekadar diketahui, ngerehan/ngereh Ida Betara atau mesuci laksana ring tengahin setra (melakukan ritual suci di areal kuburan) ini dilakukan berdasarkan keputusan paruman Desa Adat Legian.

 

“Ini sudah menjadi tradisi yang sudah dilakukan turun-temurun dan sudah menjadi kekayaan intelektual di Desa Adat Legian,” ujar Anak Agung Made Mantra selaku Bendesa Adat Legian pada Senin (31/1/2022).

 

Ada sejumlah petapakan/pelawatan yang akan dilakukan proses ngerehan ini. Yakni, Barong, Rangda dan Rarung yang menjadi sesuhunan di Desa Adat Legian. Pelawatan sesuunan ini akan dilakukan prosesi upacara ngerehan untuk mendapatkan kekuatan.

Baca Juga:  Buang Limbah Sembarangan, Pol PP Tindak Pengusaha Tahu

 

“Agar pelawatan ini mendapatkan kekuatan dari Dewa Siwa dan selanjutnya dijadikan sesuunan di Desa Adat Legian,” sebutnya dalam konferensi pers yang digelar di Sekretariat Desa Adat Legian tersebut.

 

Upacara ngerehan ini pun akan melibatkan 694 KK dari lima ribuan warga yang ada di Desa Adat Legian. Artinya, penerapan protokol kesehatan pun dilakukan dalam upaya penanganan Covid-19 di Bali.

 

Anak Agung Made Mantra selaku Bendesa Adat Legian mengungkapkan upacara ngerehan yang dilakukan pada Kamis (3/2/2022) mendatang dilakukan berdasarkan pewisik/wahyu gaib.

 

Pewisik itu turun ketika upacara di Desa beberapa hari setelah Hari Raya Galungan lalu. Dikatakan, ada warga yang merupakan penyusung (orang yang diberikan amanat untuk menarikan petapakan Ida Betara) kesurupan.

Baca Juga:  MENGEJUTKAN! Muncul 97 Ribu ASN Bodong, Ini Temuan BKPSDM Badung

 

Penyusung tersebut meminta agar dilakukan upacara ngerehan atau mesuci laksana ring tengahin setra (melakukan ritual suci di areal kuburan). Padahal tidak ada kerusakan pada petapakan Ida Betara di Desa Adat Legian.

 

“Jadi Ngerehan biasanya dilakukan bila ada renovasi akibat adanya kerusakan pada pelawatan atau baru. Namun khusus kali ini, di Desa Adat Legian, pelawatannya tidak ada rusak, tetapi ada yang kesurupan dan beliau mewacanakan untuk melakukan ngerehan ulang,” ungkapnya.

 

Untuk itulah, pihak Desa Adat Legian melakukan upacara ngerehan yang tujuannya selain meminta kekuatan kepada Dewa Siwa melalui petapakan Ida Betara, juga untuk meminta anugerah agar diberi keselamatan.



BADUNG – Setelah 4 tahun lamanya, sesuunan di Desa Adat Legian, Kabupaten Badung, Bali kembali akan dilakukan upacara ngerehan atau ngereh. Puncak acaranya akan digelar pada Kamis (3/2/2022). Ngereh sesuunan di Desa Adat Legian ini dilakukan usai ada penyusung petakapan yang kesurupan.

Sekadar diketahui, ngerehan/ngereh Ida Betara atau mesuci laksana ring tengahin setra (melakukan ritual suci di areal kuburan) ini dilakukan berdasarkan keputusan paruman Desa Adat Legian.

 

“Ini sudah menjadi tradisi yang sudah dilakukan turun-temurun dan sudah menjadi kekayaan intelektual di Desa Adat Legian,” ujar Anak Agung Made Mantra selaku Bendesa Adat Legian pada Senin (31/1/2022).

 

Ada sejumlah petapakan/pelawatan yang akan dilakukan proses ngerehan ini. Yakni, Barong, Rangda dan Rarung yang menjadi sesuhunan di Desa Adat Legian. Pelawatan sesuunan ini akan dilakukan prosesi upacara ngerehan untuk mendapatkan kekuatan.

Baca Juga:  Terkait Perizinan Restoran Karma Kandara, Manajemen Temui Satpol PP

 

“Agar pelawatan ini mendapatkan kekuatan dari Dewa Siwa dan selanjutnya dijadikan sesuunan di Desa Adat Legian,” sebutnya dalam konferensi pers yang digelar di Sekretariat Desa Adat Legian tersebut.

 

Upacara ngerehan ini pun akan melibatkan 694 KK dari lima ribuan warga yang ada di Desa Adat Legian. Artinya, penerapan protokol kesehatan pun dilakukan dalam upaya penanganan Covid-19 di Bali.

 

Anak Agung Made Mantra selaku Bendesa Adat Legian mengungkapkan upacara ngerehan yang dilakukan pada Kamis (3/2/2022) mendatang dilakukan berdasarkan pewisik/wahyu gaib.

 

Pewisik itu turun ketika upacara di Desa beberapa hari setelah Hari Raya Galungan lalu. Dikatakan, ada warga yang merupakan penyusung (orang yang diberikan amanat untuk menarikan petapakan Ida Betara) kesurupan.

Baca Juga:  Saat Penataan Pantai Samigita, Abrasi Pantai Kuta Kian Parah

 

Penyusung tersebut meminta agar dilakukan upacara ngerehan atau mesuci laksana ring tengahin setra (melakukan ritual suci di areal kuburan). Padahal tidak ada kerusakan pada petapakan Ida Betara di Desa Adat Legian.

 

“Jadi Ngerehan biasanya dilakukan bila ada renovasi akibat adanya kerusakan pada pelawatan atau baru. Namun khusus kali ini, di Desa Adat Legian, pelawatannya tidak ada rusak, tetapi ada yang kesurupan dan beliau mewacanakan untuk melakukan ngerehan ulang,” ungkapnya.

 

Untuk itulah, pihak Desa Adat Legian melakukan upacara ngerehan yang tujuannya selain meminta kekuatan kepada Dewa Siwa melalui petapakan Ida Betara, juga untuk meminta anugerah agar diberi keselamatan.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/