alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Musim Kemarau Sapa Bali, Puncak Kemarau Terjadi Juni

MANGUPURA – Transisi dari musim hujan ke musim kemarau alias masa pancaroba membuat suhu di Bali terasa panas belakangan ini.

Suhu setiap hari rata-rata berkisar 31 – 34 derajat celsius. Suhu panas itu sekaligus menunjukkan musim kemarau mulai menyapa Bali.

Sejumlah wilayah di Bali Selatan seperti Nusa Penida bahkan sudah memasuki musim kemarau.

“Diperkirakan awal Mei sejumlah wilayah Bali Selatan dan sebagian Bali Utara mulai kemarau. Sekarang musim kemarau masih sporadis,

zona musim berbeda setiap daerah,” papar Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, M. Taufik Gunawan kepada Jawa Pos Radar Bali.

Dijelaskan, untuk wilayah Bali Tengah (Tabanan dan sekitarnya) memasuki musim kemarau belakangan dibandingkan wilayah Bali lainnya.

Artinya, masih akan ada hujan di Bali Tengah meski wilayah Bali lain sudah kemarau. “Seluruh wilayah Bali mengalami puncak kemarau pada Juni mendatang,” imbuhnya.

Baca Juga:  Traktir Makan Saudaramu, Dompet Dhuafa Bali Sasar TPA Suwung

Terkait suhu udara panas yang terjadi belakangan, Taufik menyebut hal itu wajar terjadi saat memasuki masa pancaroba dari Maret – April.

Dalam bulan-bulan tersebut, posisi matahari berada di sekitar ekuator, sehingga akumulasi panas masih tinggi di wilayah sekitarnya termasuk Bali.

Penyebab lain kondisi suhu panas dan gerah di Bali juga karena tingginya suhu muka laut di perairan Bali.

Karena sifat air laut adalah lambat melepaskan panas, sedangkan daratan lebih cepat melepaskan panas.

Karena itu, lautan akan melepaskan panasnya pada malam hari, sehingga udara masih terasa panas dan menyebabkan gerah di malam hari.

Taufik mengungkapkan, Indonesia sebagai negara yang memiliki dua musim, yakni kemarau dan hujan akan merasakan suhu tinggi saat memasuki musim kemarau.

Namun, lanjut Taufik, satu hal yang perlu diperhatikan yaitu peningkatan suhu juga dipengaruhi faktor pemanasan global.

Baca Juga:  Sempat Mebanten, Wanita Lansia Ditemukan Membusuk di Sungai

Polusi yang berasal dari maraknya industri, asap kendaraan, hingga gas rumah kaca menjadi penyebab udara semakin terasa panas.

Polutan gas rumah kaca seperti Co2 membuat suhu meningkat.“Semakin lama suhu bumi semakin panas karena salah satu efeknya gas rumah kaca.

“Di mana-mana ada rumah kaca. Rumah kaca ini sifatnya menjebak panas, sebagian panas dipantulkan sebagian lagi terjebak di atas bumi. Makanya udara makin panas,” ungkap Taufik.

Berdasar data BMKG Wilayah III Denpasar per 30 April, suhu udara di Bali 22 – 34 derajat celsius dengan kelembaban udara berkisar 50 – 95 persen, angin bertiup dari arah timur – tenggara dengan kecepatan berkisar 8 – 38 km/jam.

Nelayan diminta mewaspadai gelombang yang bisa mencapai 2 meter di perairan Selata Bali terutama Selat Bali bagian Selatan, Selat Badung, dan Selat Lombok.



MANGUPURA – Transisi dari musim hujan ke musim kemarau alias masa pancaroba membuat suhu di Bali terasa panas belakangan ini.

Suhu setiap hari rata-rata berkisar 31 – 34 derajat celsius. Suhu panas itu sekaligus menunjukkan musim kemarau mulai menyapa Bali.

Sejumlah wilayah di Bali Selatan seperti Nusa Penida bahkan sudah memasuki musim kemarau.

“Diperkirakan awal Mei sejumlah wilayah Bali Selatan dan sebagian Bali Utara mulai kemarau. Sekarang musim kemarau masih sporadis,

zona musim berbeda setiap daerah,” papar Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, M. Taufik Gunawan kepada Jawa Pos Radar Bali.

Dijelaskan, untuk wilayah Bali Tengah (Tabanan dan sekitarnya) memasuki musim kemarau belakangan dibandingkan wilayah Bali lainnya.

Artinya, masih akan ada hujan di Bali Tengah meski wilayah Bali lain sudah kemarau. “Seluruh wilayah Bali mengalami puncak kemarau pada Juni mendatang,” imbuhnya.

Baca Juga:  Waspada! Longsor Hajar Senderan Rumah Kelian Dinas

Terkait suhu udara panas yang terjadi belakangan, Taufik menyebut hal itu wajar terjadi saat memasuki masa pancaroba dari Maret – April.

Dalam bulan-bulan tersebut, posisi matahari berada di sekitar ekuator, sehingga akumulasi panas masih tinggi di wilayah sekitarnya termasuk Bali.

Penyebab lain kondisi suhu panas dan gerah di Bali juga karena tingginya suhu muka laut di perairan Bali.

Karena sifat air laut adalah lambat melepaskan panas, sedangkan daratan lebih cepat melepaskan panas.

Karena itu, lautan akan melepaskan panasnya pada malam hari, sehingga udara masih terasa panas dan menyebabkan gerah di malam hari.

Taufik mengungkapkan, Indonesia sebagai negara yang memiliki dua musim, yakni kemarau dan hujan akan merasakan suhu tinggi saat memasuki musim kemarau.

Namun, lanjut Taufik, satu hal yang perlu diperhatikan yaitu peningkatan suhu juga dipengaruhi faktor pemanasan global.

Baca Juga:  Mendadak Turun Hujan saat Kemarau di Bali, Begini Penjelasan BMKG...

Polusi yang berasal dari maraknya industri, asap kendaraan, hingga gas rumah kaca menjadi penyebab udara semakin terasa panas.

Polutan gas rumah kaca seperti Co2 membuat suhu meningkat.“Semakin lama suhu bumi semakin panas karena salah satu efeknya gas rumah kaca.

“Di mana-mana ada rumah kaca. Rumah kaca ini sifatnya menjebak panas, sebagian panas dipantulkan sebagian lagi terjebak di atas bumi. Makanya udara makin panas,” ungkap Taufik.

Berdasar data BMKG Wilayah III Denpasar per 30 April, suhu udara di Bali 22 – 34 derajat celsius dengan kelembaban udara berkisar 50 – 95 persen, angin bertiup dari arah timur – tenggara dengan kecepatan berkisar 8 – 38 km/jam.

Nelayan diminta mewaspadai gelombang yang bisa mencapai 2 meter di perairan Selata Bali terutama Selat Bali bagian Selatan, Selat Badung, dan Selat Lombok.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/