alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Arya Wirawan: Dari Karyawan Paling Bawah Jadi GM Corporate

Seseorang bisa merencanakan hidup sesempurna mungkin. Namun, penentu segala usaha dan jerih payah itu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Demikianlah roller coaster nasib mengangkat peruntungan I Komang Agus Arya Wirawan.

 

I KADEK SURYA KENCANA, Denpasar

 

SAAT kawan-kawan seusianya berburu kampus, ia sibuk nyari kerja. Kenangan pahit seperempat abad ini begitu lekat dalam pikiran penulis buku berjudul Laris vs Laku, Ramai Tapi Tidak Untung, saat ditemui di salah satu rumah makan di Kota Denpasar beberapa waktu lalu.

Meski kurang beruntung dibandingkan anak seusianya, pria asal Jembrana itu tetap ikut tes masuk perguruan tinggi. Arya lolos di salah satu Kampus Tinggi Pariwisata di Bali. Mirisnya, hasrat kuliah itu hanya dipendamnya dalam-dalam. 

 

“Kalau saya punya pilihan, saya lebih baik kuliah karena saya merasa mampu. Tapi, saya tidak punya pilihan. Orang tua saya meninggal saat saya masih SMP. Money mesin di keluarga kami adalah Bapak. Pupuslah mimpi-mimpi saya. Dulu, saya bermimpi jadi angkatan udara, pilot. Tapi, ya, karena beliau meninggal tepat saat saya Ebtanas SMP, jadi, ya, sudahlah.  Saya hanya ingin memenuhi mimpi beliau, setidaknya saya bisa tamat SMA melebihi beliau yang hanya lulusan SMP,” kenang Arya penuh haru.

 

Dengan kemampuan yang dimilikinya, status pengangguran hanya beberapa minggu disandangnya. Tamat SMA Juli 1997, ia nekat mengiyakan ajakan kawan-kawannya mengadu hidup di Kota Denpasar. Sebulan kemudian, mulai Agustus 1997, Arya memulai karirnya sebagai scooper di salah satu merek es krim ternama di kawasan Jalan Legian, Kuta, Badung.

Musibah menimpa Bali pada Sabtu, 12 Oktober 2002 terjadi tragedi bom bali yang membuat kondisi pariwisata bali mengalami guncangan. Tidak menyerah, Arya mencoba peruntungan magang di luar negeri. Ia berhasil lulus seleksi hingga akhirnya bisa ikut magang di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 2003 hingga 2004.

 

Kembali ke Bali tahun 2004 bekerja di Harris Resort Kuta yang kini bernama Yello Kuta. Berbekal pengalaman bekerja di luar negeri, karier Arya mulai bersinar. Ia dinilai memiliki kelebihan. Melamar sebagai staf, ia ditawarkan menduduki posisi front office supervisor. Posisi itu tak disia-siakannya.

“Pengalaman di luar negeri tersebut membuat saya memiliki kelebihan untuk memasuki dunia kerja,” papar sosok multitalenta yang lebih suka disebut passionate hotelier, speaker, dan coach itu.

Baca Juga:  Anti Sampradaya, Bendesa MDA Minta Tim Buku Muat Hari Suci Hindu Lokal

 

Dua tahun menjajal peran front office supervisor, Arya dipromosikan ke sales department sebagai Sales Executive di Harris Resort Kuta (2006-2007). Tak punya background sales , ia belajar otodidak.

Berkat kegigihannya, beberapa tahun kemudian Arya dipercaya memegang Leadership Role sebagai General Manager (GM) Sol House Bali Legian (2017-2020).

Setelahnya, Arya dipercaya memegang posisi Corporate General Manager (GM) Jakarta Experience Board Corporate (2020-2021). Tercatat, Arya juga pernah menjadi Market Manager-Cluster Leader Agoda International (2011-2015), Sales Manager Bali Dynasty Resort (2009-2011), Sales Manager Anorra Bali Villas (2008-2009), dan Sales Manager SeaTrek Sailing Adventures (2007-2008).

 

Buku Laris vs Laku, Ramai Tapi Tidak Untung yang dihadirkan Penerbit Pustaka Ekspresi, Juni 2021, lahir dari pengalaman pribadi. Arya menerangkan dirinya suka nulis artikel berbahasa Inggris sejak 2017 di LinkedIn. Beberapa chapter disadur dari sana hingga lahirnya buku perdana ini.

“Ceritanya tidak seperti buku bersambung, melainkan lebih pada chapter-chapter yang sejatinya merupakan trik dan tips yang mungkin bisa bermanfaat bagi pembaca,“ cetus alumni SMAN 1 Negara (Smansa) tersebut.

 

Buku ini ditujukan untuk teman-teman yang baru memulai karir mereka. Bagi yang senior alias kenyang pengalaman, buku ini menyajikan hal-hal yang sudah dikuasai dalam praktik di dunia kerja. 

“Mungkin menurut sebagian orang isi buku ini biasa saja, tapi bagi yang belum tahu, tentu makna kehadiran buku ini saya harapkan bisa membantu,” tandasnya tersenyum.

 

Untuk buku edisi pertama ini Arya menekankan dirinya tidak bermaksud berjualan buku. Buku tersebut dibagikan secara gratis kepada teman-temannya yang mau belajar. Kalaupun ada dijual online itu lebih kepada usaha membalikkan biaya produksi saja.

Ia berharap setidaknya buku tersebut menjadi sesuatu  yang berguna bagi orang-orang yang membutuhkan.

 

“Saya beruntung bertemu dengan management internasional yang kebetulan tidak begitu peduli background pendidikan. Yang dipentingkan adalah pengalaman kerja berapa tahun dan kita memiliki keahlian apa. Satu lagi kemampuan bahasa Inggris. Sekarang pendidikan bisa didapatkan dari mana  saja dengan adanya teknologi sehingga tidak ada kata untuk tidak bisa belajar walaupun tanpa pendidikan formal. Saya gemar belajar dan banyak mengantongi sertifikat akademik online,” lanjutnya.

Baca Juga:  WOW! Gaji PNS Badung Rp 19 Juta per Orang, Sedot 29 Persen APBD 2020

 

Dia menjelaskan, isi buku ini bervariasi. Itu karena background pengalamannya beragam. Seperti menjadi waiters, bekerja di money changer dan pernah menjadi operator warnet, juga jualan produk dan layanan hotel kapal pinisi yang berlayar dari Bali ke Labuan Bajo.

“Semua saya lakoni dengan disiplin penuh ketekunan dan bangga bisa berkontribusi baik kepada perusahaan tempat saya bekerja. Saat ini  saya dan dua teman lainnya sedang merintis usaha bersama yang masih berkaitan dengan passion kami,” demikian diakui Arya.

 

Ketika ditanya Kenapa tidak memilih zona nyaman saat sudah berada di posisi puncak, Arya mengaku suka tantangan. Menurutnya banyak hal yang harus dipelajari karena dunia kerja saat ini sangat dinamis dengan pengaruh teknologi dan trend pasar yang selalu berubah. 

“Menurut saya ada rasa yang berbeda saat mampu berkontribusi di perusahaan yang sedang mengalami kesulitan dan berhasil menjadi baik dibandingkan memasuki perusahaan  dalam kondisi baik-baik saja,” tandasnya.

Soal rencana ke depan, Arya mengaku merasa memiliki passion dalam dunia pendidikan. ierbagi Ilmu dan pengalaman diakuinya menghadirkan perasaan berguna (fulfilment).

“Mimpi besar saya adalah membuat masyarakat Bali menjadi tuan rumah di pulau sendiri,” terangnya.

Arya mengakui, belum banyak orang Bali yang memegang posisi strategis terutama di perusahaan internasional. Banyak faktor yang memengaruhi, salah satunya mungkin karena enggan mengambil risiko dan terlalu aman di zona nyaman.

“Karena bagaimanapun juga memulai sesuatu yang baru pasti akan membuat tidak nyaman dan berisiko. Saya memilih mengambil risiko mungkin karena tidak punya satu subject khusus yang melekat sehingga Saya mengambil segala peluang yang ada,” sambungnya tegas.

 

Ayah adalah sosok idola bagi seorang Arya. Ia mengaku kehilangan figur sang ayah yang meninggal dunia saat usianya belia. Namun, pesan sang ayah terpatri di benak Arya.

“Kalau ingin maju, harus keluar dari zona nyaman; dari lingkungan rumah. Bukan berarti lingkungan tempat tinggal saya buruk, tapi merantau memberikan banyak pelajaran dan perspektif baru dan tentunya  penghargaan untuk meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik,” tutupnya.



Seseorang bisa merencanakan hidup sesempurna mungkin. Namun, penentu segala usaha dan jerih payah itu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Demikianlah roller coaster nasib mengangkat peruntungan I Komang Agus Arya Wirawan.

 

I KADEK SURYA KENCANA, Denpasar

 

SAAT kawan-kawan seusianya berburu kampus, ia sibuk nyari kerja. Kenangan pahit seperempat abad ini begitu lekat dalam pikiran penulis buku berjudul Laris vs Laku, Ramai Tapi Tidak Untung, saat ditemui di salah satu rumah makan di Kota Denpasar beberapa waktu lalu.

Meski kurang beruntung dibandingkan anak seusianya, pria asal Jembrana itu tetap ikut tes masuk perguruan tinggi. Arya lolos di salah satu Kampus Tinggi Pariwisata di Bali. Mirisnya, hasrat kuliah itu hanya dipendamnya dalam-dalam. 

 

“Kalau saya punya pilihan, saya lebih baik kuliah karena saya merasa mampu. Tapi, saya tidak punya pilihan. Orang tua saya meninggal saat saya masih SMP. Money mesin di keluarga kami adalah Bapak. Pupuslah mimpi-mimpi saya. Dulu, saya bermimpi jadi angkatan udara, pilot. Tapi, ya, karena beliau meninggal tepat saat saya Ebtanas SMP, jadi, ya, sudahlah.  Saya hanya ingin memenuhi mimpi beliau, setidaknya saya bisa tamat SMA melebihi beliau yang hanya lulusan SMP,” kenang Arya penuh haru.

 

Dengan kemampuan yang dimilikinya, status pengangguran hanya beberapa minggu disandangnya. Tamat SMA Juli 1997, ia nekat mengiyakan ajakan kawan-kawannya mengadu hidup di Kota Denpasar. Sebulan kemudian, mulai Agustus 1997, Arya memulai karirnya sebagai scooper di salah satu merek es krim ternama di kawasan Jalan Legian, Kuta, Badung.

Musibah menimpa Bali pada Sabtu, 12 Oktober 2002 terjadi tragedi bom bali yang membuat kondisi pariwisata bali mengalami guncangan. Tidak menyerah, Arya mencoba peruntungan magang di luar negeri. Ia berhasil lulus seleksi hingga akhirnya bisa ikut magang di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 2003 hingga 2004.

 

Kembali ke Bali tahun 2004 bekerja di Harris Resort Kuta yang kini bernama Yello Kuta. Berbekal pengalaman bekerja di luar negeri, karier Arya mulai bersinar. Ia dinilai memiliki kelebihan. Melamar sebagai staf, ia ditawarkan menduduki posisi front office supervisor. Posisi itu tak disia-siakannya.

“Pengalaman di luar negeri tersebut membuat saya memiliki kelebihan untuk memasuki dunia kerja,” papar sosok multitalenta yang lebih suka disebut passionate hotelier, speaker, dan coach itu.

Baca Juga:  Anti Sampradaya, Bendesa MDA Minta Tim Buku Muat Hari Suci Hindu Lokal

 

Dua tahun menjajal peran front office supervisor, Arya dipromosikan ke sales department sebagai Sales Executive di Harris Resort Kuta (2006-2007). Tak punya background sales , ia belajar otodidak.

Berkat kegigihannya, beberapa tahun kemudian Arya dipercaya memegang Leadership Role sebagai General Manager (GM) Sol House Bali Legian (2017-2020).

Setelahnya, Arya dipercaya memegang posisi Corporate General Manager (GM) Jakarta Experience Board Corporate (2020-2021). Tercatat, Arya juga pernah menjadi Market Manager-Cluster Leader Agoda International (2011-2015), Sales Manager Bali Dynasty Resort (2009-2011), Sales Manager Anorra Bali Villas (2008-2009), dan Sales Manager SeaTrek Sailing Adventures (2007-2008).

 

Buku Laris vs Laku, Ramai Tapi Tidak Untung yang dihadirkan Penerbit Pustaka Ekspresi, Juni 2021, lahir dari pengalaman pribadi. Arya menerangkan dirinya suka nulis artikel berbahasa Inggris sejak 2017 di LinkedIn. Beberapa chapter disadur dari sana hingga lahirnya buku perdana ini.

“Ceritanya tidak seperti buku bersambung, melainkan lebih pada chapter-chapter yang sejatinya merupakan trik dan tips yang mungkin bisa bermanfaat bagi pembaca,“ cetus alumni SMAN 1 Negara (Smansa) tersebut.

 

Buku ini ditujukan untuk teman-teman yang baru memulai karir mereka. Bagi yang senior alias kenyang pengalaman, buku ini menyajikan hal-hal yang sudah dikuasai dalam praktik di dunia kerja. 

“Mungkin menurut sebagian orang isi buku ini biasa saja, tapi bagi yang belum tahu, tentu makna kehadiran buku ini saya harapkan bisa membantu,” tandasnya tersenyum.

 

Untuk buku edisi pertama ini Arya menekankan dirinya tidak bermaksud berjualan buku. Buku tersebut dibagikan secara gratis kepada teman-temannya yang mau belajar. Kalaupun ada dijual online itu lebih kepada usaha membalikkan biaya produksi saja.

Ia berharap setidaknya buku tersebut menjadi sesuatu  yang berguna bagi orang-orang yang membutuhkan.

 

“Saya beruntung bertemu dengan management internasional yang kebetulan tidak begitu peduli background pendidikan. Yang dipentingkan adalah pengalaman kerja berapa tahun dan kita memiliki keahlian apa. Satu lagi kemampuan bahasa Inggris. Sekarang pendidikan bisa didapatkan dari mana  saja dengan adanya teknologi sehingga tidak ada kata untuk tidak bisa belajar walaupun tanpa pendidikan formal. Saya gemar belajar dan banyak mengantongi sertifikat akademik online,” lanjutnya.

Baca Juga:  Soal Kabel Provider Semrawut, Pemkot Denpasar Saling Lempar

 

Dia menjelaskan, isi buku ini bervariasi. Itu karena background pengalamannya beragam. Seperti menjadi waiters, bekerja di money changer dan pernah menjadi operator warnet, juga jualan produk dan layanan hotel kapal pinisi yang berlayar dari Bali ke Labuan Bajo.

“Semua saya lakoni dengan disiplin penuh ketekunan dan bangga bisa berkontribusi baik kepada perusahaan tempat saya bekerja. Saat ini  saya dan dua teman lainnya sedang merintis usaha bersama yang masih berkaitan dengan passion kami,” demikian diakui Arya.

 

Ketika ditanya Kenapa tidak memilih zona nyaman saat sudah berada di posisi puncak, Arya mengaku suka tantangan. Menurutnya banyak hal yang harus dipelajari karena dunia kerja saat ini sangat dinamis dengan pengaruh teknologi dan trend pasar yang selalu berubah. 

“Menurut saya ada rasa yang berbeda saat mampu berkontribusi di perusahaan yang sedang mengalami kesulitan dan berhasil menjadi baik dibandingkan memasuki perusahaan  dalam kondisi baik-baik saja,” tandasnya.

Soal rencana ke depan, Arya mengaku merasa memiliki passion dalam dunia pendidikan. ierbagi Ilmu dan pengalaman diakuinya menghadirkan perasaan berguna (fulfilment).

“Mimpi besar saya adalah membuat masyarakat Bali menjadi tuan rumah di pulau sendiri,” terangnya.

Arya mengakui, belum banyak orang Bali yang memegang posisi strategis terutama di perusahaan internasional. Banyak faktor yang memengaruhi, salah satunya mungkin karena enggan mengambil risiko dan terlalu aman di zona nyaman.

“Karena bagaimanapun juga memulai sesuatu yang baru pasti akan membuat tidak nyaman dan berisiko. Saya memilih mengambil risiko mungkin karena tidak punya satu subject khusus yang melekat sehingga Saya mengambil segala peluang yang ada,” sambungnya tegas.

 

Ayah adalah sosok idola bagi seorang Arya. Ia mengaku kehilangan figur sang ayah yang meninggal dunia saat usianya belia. Namun, pesan sang ayah terpatri di benak Arya.

“Kalau ingin maju, harus keluar dari zona nyaman; dari lingkungan rumah. Bukan berarti lingkungan tempat tinggal saya buruk, tapi merantau memberikan banyak pelajaran dan perspektif baru dan tentunya  penghargaan untuk meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik,” tutupnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/