alexametrics
25.9 C
Denpasar
Wednesday, May 25, 2022

Fungsional Mangrove Menurun, Kodam IX Udayana Inisiasi Pembibitan

DENPASAR – Keberadaan dan kelestarian hutan mangrove di Bali harus terjaga meski Bali sedang diguncang pandemi Covid 19. Sebab, selama ini mangrove juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan negara.

Wisata mangrove atau hutan bakau di Bali yang biasanya dikunjungi oleh wisatawan berada di wilayah Desa Pemogan, Denpasar selatan. Nah, tempat ini kemudian sasaran untuk dirawat, salah satuya adalah dengan melakukan pembibitan.

Gerakan ini dilakukan TNI AD Kodam IX Udayana dengan diinisiasi oleh Dandim Badung Kol. Inf.  I Made Alit Yudana. Mereka melakukan revitalisasi, penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup utamanya hutan mangrove dan masuk dalam program ketahanan pangan TNI AD.

Menurut Dandim Badung, kegiatan tersebut tidak terlepas dari dukungan masyarakat serta dukungan dari kumpulan generasi milenial yang diwadahi oleh Yayasan Adhi Guna Maha Karya yang selama ini banyak membantu kegiatan- kegiatan sosial, kemanusiaan dan lingkungan hidup yang direncanakan oleh Kodim 1611/Badung.

Kegiatan ini pun diapresiasi oleh I Nyoman Mardika selaku salah satu aktivis penggiat lingkungan hidup di Bali. Ia pun mengaku siap mendukung penuh program TNI AD bersama Yayasan Adhi Guna Maha Karya tersebut.

Baca Juga:  Soal Pemadaman Lampu Jalan di Bali, Kapolres: Kriminalitas Meningkat

Bahkan, ia juga berkomitmen bersama-sama, salah satunya untuk menyelenggarakan tempat pembibitan bakau di desanya serta penanaman pohon bakau pada hutan mangrove yang masih belum terjamah.

“Tentunya hal tidak terlepas dari peran serta masyarakat Pemogan itu sendiri sebagai masyarakat penunjang utama hutan bakau, disertai kelompok-kelompok nelayan Simbar Segara dan Batu Lumbang kelompok nelayan yang ada didalam hutan mangrove itu,” katanya pada Jumat (2/7/2021) usai pembibitan.

- Advertisement -

Dalam pandangan Mardika, Ia melihat ada penurunan fungsionalitas yang terjadi pada hutan mangrove Bali seperti kerusakan hutan akibat perambahan hutan, alih fungsi lahan, penumpukan sampah serta penumpukan sendimentasi dari dua sungai besar yaitu Sungai Tukad Badung dan Sungai Tukad Mati.

Serta banyaknya tanaman mangrove yang mati akibat kurang pengelolaan dan pemeliharaan pohon mangrove. Padahal, dikatakannya keberadaan mangrove dipercaya menjamin ketersediaan ikan, apalagi hamper 60 persen anggota kelompok    nelayan memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan.

Hal ini dibuktikan dengan semakin berkurangnya luasan hutan mangrove yang menyebabkan menurunnya pendapatan masyarakat secara drastis karena tidak dapat memperoleh hasil ikan. Ini pun tak lepas karena penurunan populasi ikan akibat berkurangnya tempat hidup ikan dikawasan hutan mangrove.

Baca Juga:  Percepat Vaksinasi Covid, Driver Gojek Suntik Vaksin Bareng TNI/Polri

“Ya ini bisa terjadi karena berkurangnya luasan hutan mangrove akibat dari perubahan alih fungsi lahan dan rusaknya kawasan hutan mangrove,” sebutnya.

Untuk itu, mangrove sebagai salah satu solusi peningkatan ekonomi, potensi mangrove lain sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar hutan mangrove. Baginya, revitalisasi hutan mangrove ini sangat diharapkan dan akan mendapat dukungan penuh dari kelompok nelayan Batu Lumbang dan Kelompok Nelayan Simbar Segara.

Mardika juga menyebut keseimbangan alam dan kelestarian lingkungan hidup sangat baerpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Bali, dimana dasar prinsip kehidupan masyarakat Bali sedari dulu adalah selalu bersinergi dengan alam.

Dengan kegiatan revitalisasi hutan mangrove Bali maka diharapakan peningkatan ketahanan pangan masyarakat Bali, khususnya pada desa-desa di wilayah hutan mangrove Bali yaitu enam desa di Kota Denpasar, (Sanur Kauh, Sidakarya, Sesetan, Serangan, Pedungan, dan Pemogan) dan wilayah Kabupaten Badung meliputi Kuta, Tuban, Kedonganan, Jimbaran, dan Tanjung Benoa.

- Advertisement -

DENPASAR – Keberadaan dan kelestarian hutan mangrove di Bali harus terjaga meski Bali sedang diguncang pandemi Covid 19. Sebab, selama ini mangrove juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan negara.

Wisata mangrove atau hutan bakau di Bali yang biasanya dikunjungi oleh wisatawan berada di wilayah Desa Pemogan, Denpasar selatan. Nah, tempat ini kemudian sasaran untuk dirawat, salah satuya adalah dengan melakukan pembibitan.

Gerakan ini dilakukan TNI AD Kodam IX Udayana dengan diinisiasi oleh Dandim Badung Kol. Inf.  I Made Alit Yudana. Mereka melakukan revitalisasi, penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup utamanya hutan mangrove dan masuk dalam program ketahanan pangan TNI AD.

Menurut Dandim Badung, kegiatan tersebut tidak terlepas dari dukungan masyarakat serta dukungan dari kumpulan generasi milenial yang diwadahi oleh Yayasan Adhi Guna Maha Karya yang selama ini banyak membantu kegiatan- kegiatan sosial, kemanusiaan dan lingkungan hidup yang direncanakan oleh Kodim 1611/Badung.

Kegiatan ini pun diapresiasi oleh I Nyoman Mardika selaku salah satu aktivis penggiat lingkungan hidup di Bali. Ia pun mengaku siap mendukung penuh program TNI AD bersama Yayasan Adhi Guna Maha Karya tersebut.

Baca Juga:  Percepat Vaksinasi Covid, Driver Gojek Suntik Vaksin Bareng TNI/Polri

Bahkan, ia juga berkomitmen bersama-sama, salah satunya untuk menyelenggarakan tempat pembibitan bakau di desanya serta penanaman pohon bakau pada hutan mangrove yang masih belum terjamah.

“Tentunya hal tidak terlepas dari peran serta masyarakat Pemogan itu sendiri sebagai masyarakat penunjang utama hutan bakau, disertai kelompok-kelompok nelayan Simbar Segara dan Batu Lumbang kelompok nelayan yang ada didalam hutan mangrove itu,” katanya pada Jumat (2/7/2021) usai pembibitan.

Dalam pandangan Mardika, Ia melihat ada penurunan fungsionalitas yang terjadi pada hutan mangrove Bali seperti kerusakan hutan akibat perambahan hutan, alih fungsi lahan, penumpukan sampah serta penumpukan sendimentasi dari dua sungai besar yaitu Sungai Tukad Badung dan Sungai Tukad Mati.

Serta banyaknya tanaman mangrove yang mati akibat kurang pengelolaan dan pemeliharaan pohon mangrove. Padahal, dikatakannya keberadaan mangrove dipercaya menjamin ketersediaan ikan, apalagi hamper 60 persen anggota kelompok    nelayan memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan.

Hal ini dibuktikan dengan semakin berkurangnya luasan hutan mangrove yang menyebabkan menurunnya pendapatan masyarakat secara drastis karena tidak dapat memperoleh hasil ikan. Ini pun tak lepas karena penurunan populasi ikan akibat berkurangnya tempat hidup ikan dikawasan hutan mangrove.

Baca Juga:  Belasan Calon Pekerja Kapal Pesiar di Bali Ditipu Agen Ratusan Juta

“Ya ini bisa terjadi karena berkurangnya luasan hutan mangrove akibat dari perubahan alih fungsi lahan dan rusaknya kawasan hutan mangrove,” sebutnya.

Untuk itu, mangrove sebagai salah satu solusi peningkatan ekonomi, potensi mangrove lain sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar hutan mangrove. Baginya, revitalisasi hutan mangrove ini sangat diharapkan dan akan mendapat dukungan penuh dari kelompok nelayan Batu Lumbang dan Kelompok Nelayan Simbar Segara.

Mardika juga menyebut keseimbangan alam dan kelestarian lingkungan hidup sangat baerpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Bali, dimana dasar prinsip kehidupan masyarakat Bali sedari dulu adalah selalu bersinergi dengan alam.

Dengan kegiatan revitalisasi hutan mangrove Bali maka diharapakan peningkatan ketahanan pangan masyarakat Bali, khususnya pada desa-desa di wilayah hutan mangrove Bali yaitu enam desa di Kota Denpasar, (Sanur Kauh, Sidakarya, Sesetan, Serangan, Pedungan, dan Pemogan) dan wilayah Kabupaten Badung meliputi Kuta, Tuban, Kedonganan, Jimbaran, dan Tanjung Benoa.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/