alexametrics
26.5 C
Denpasar
Wednesday, May 18, 2022

Epidemiolog Ungkap Penyebab PPKM Gagal Turunkan Kasus Covid-19 di Bali

DENPASAR – Tepat sebulan sudah PPKM berlaku di Bali. Mulai dari nama PPKM Darurat hingga PPKM level 3 dan level 4. Namun, sebulan PPKM berjalan, kasus di Bali tak kunjung turun.

 

Dr Pande Putu Januraga, seorang doktor di bidang Kesehatan maasyarakat (MD-PhD Public Health) lulusan Flinders University Australia dengan latar belakang dokter medis saat diwawancara terkait hal ini melihat ada multifaktor sebagai penyebab kasus penularan di Bali masih tinggi.

 

Pertama, jelas pria yang menjadi dosen di FK Unud, cakupan vaksin 2 kali di Bali masih belum memadai. Yakni masih di angka 25 persen dari penduduk Bali. Hanya vaksin pertama yang sudah cukup tinggi. Padahal, ukuran vaksinasi adalah vaksinasi lengkap sebanyak dua kali.

 

Kedua, PPKM level 4 belum optimal mengurangi mobilitas warga. Dia menyebutkan, mobilitas warga masih berjalan terutama dari keluarga ke keluarga.

 

“Terbukti kluster keluarga mendominasi,” ujar Pande Putu Januraga yang juga ketua unit Center for Public Health Innovation dan koordinator program S2 IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat)  kepada radarbali.id pada Selasa (3/8).

 

Lanjutnya, Ketiga itu terkait PPKM level 4 juga belum optimal mengurangi kegiatan berkumpul, meskipun berkumpul jumlah masif berkurang, berkumpul skala kecil terjadi di mana-mana, ketika orang justru tidak punya pekerjaan.

Baca Juga:  Prosesi Sukmawati Masuk Hindu Berlangsung Dua Hari dengan Dua Pandita

 

“Nasib jelek justru ini pas musim orang melakukan upacara adat, PPKM tidak membuat upacara dan kegiatan berkumpul berkurang jauh, tetap jalan,” kata Dr Pande Januraga.

 

Faktor selanjutnya atau Keempat adalah penggunaan masker. “Masker jenuh, pakai masker di jalan yes, tapi saat berkumpul, ngobrol keluarga, kawan dan sahabat tidak (memakai masker, Red),” tuturnya.

 

Dr Pande Januraga juga mengakui bahwa memang varian delta jauh lebih ganas dalam hal penularan. “Karena kasus baru ribuan, layanan kewalahan dengan kasus indeks, belum bisa optimal kejar kontak erat dan tes serta isolasi segera. Umumnya tes setelah bergejala sedang atau berat,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, PPKM darurat di Bali dimulai sejak 3 Juli yang dilanjutkan dengan PPKM level 4 hingga 2 Agustus 2021. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil optimal. Kasus penularan masih tinggi, dan jumlah kematian juga meroket.

Berdasarkan data dari Satgas Covid-19 Provinsi Bali, pada 2 Juli 2021, sehari sebelum PPKM darurat berlaku, jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 mencapai 50.871 orang. Sebanyak 1.577 orang yang terkonfirmasi Covid-19 meninggal dunia.

Baca Juga:  25 Januari, Angka Kesembuhan dan Kematian Covid-19 di Bali Meroket

Kemudian, PPKM darurat berlaku mulai 3 Juli 2021. Namun, sepanjang PPKM darurat hingga diperpanjang dua kali melalui PPKM level 3 dan level 4, kasus terkonfirmasi Covid-19 tak kunjung menurun secara signifikan.

Buktinya, sampai 2 Agustus 2021, jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 melonjak menjadi 78.508. Berarti terjadi penambahan kasus sebanyak 27.637 orang terkonfirmasi positif Covid-19 hanya dalam sebulan saja. Pada hari-hari sebelum PPKM level 4 berakhir, kasus masih tetap di atas 1.000 per hari.

Tidak itu saja, jumlah kematian pasien dengan diagnosis Covid-19 juga meroket menjadi 2.231. Dengan demikian, terjadi penambahan sebanyak 654 orang meninggal dunia hanya saat PPKM darurat dan dua kali perpanjangan PPKM level 4 yang berlangsung sebulan ini. Itu sama artinya dengan seperempat lebih (29 persen) dari jumlah kematian positif Covid-19 di Bali sejak kematian pertama pada Maret 2020.

Meski sejauh ini PPKM gagal menurunkan angka penularan Covid-19 di Bali, upaya ini tetap dilanjutkan. Saat ini, PPKM level 4 dilanjutkan pada 3 Agustus sampai 9 Agustus 2021 mendatang. 

- Advertisement -
- Advertisement -

DENPASAR – Tepat sebulan sudah PPKM berlaku di Bali. Mulai dari nama PPKM Darurat hingga PPKM level 3 dan level 4. Namun, sebulan PPKM berjalan, kasus di Bali tak kunjung turun.

 

Dr Pande Putu Januraga, seorang doktor di bidang Kesehatan maasyarakat (MD-PhD Public Health) lulusan Flinders University Australia dengan latar belakang dokter medis saat diwawancara terkait hal ini melihat ada multifaktor sebagai penyebab kasus penularan di Bali masih tinggi.


 

Pertama, jelas pria yang menjadi dosen di FK Unud, cakupan vaksin 2 kali di Bali masih belum memadai. Yakni masih di angka 25 persen dari penduduk Bali. Hanya vaksin pertama yang sudah cukup tinggi. Padahal, ukuran vaksinasi adalah vaksinasi lengkap sebanyak dua kali.

 

Kedua, PPKM level 4 belum optimal mengurangi mobilitas warga. Dia menyebutkan, mobilitas warga masih berjalan terutama dari keluarga ke keluarga.

 

“Terbukti kluster keluarga mendominasi,” ujar Pande Putu Januraga yang juga ketua unit Center for Public Health Innovation dan koordinator program S2 IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat)  kepada radarbali.id pada Selasa (3/8).

 

Lanjutnya, Ketiga itu terkait PPKM level 4 juga belum optimal mengurangi kegiatan berkumpul, meskipun berkumpul jumlah masif berkurang, berkumpul skala kecil terjadi di mana-mana, ketika orang justru tidak punya pekerjaan.

Baca Juga:  Buang Limbah Sembarangan, Dua Warga di Denpasar Didenda Rp750 Ribu

 

“Nasib jelek justru ini pas musim orang melakukan upacara adat, PPKM tidak membuat upacara dan kegiatan berkumpul berkurang jauh, tetap jalan,” kata Dr Pande Januraga.

 

Faktor selanjutnya atau Keempat adalah penggunaan masker. “Masker jenuh, pakai masker di jalan yes, tapi saat berkumpul, ngobrol keluarga, kawan dan sahabat tidak (memakai masker, Red),” tuturnya.

 

Dr Pande Januraga juga mengakui bahwa memang varian delta jauh lebih ganas dalam hal penularan. “Karena kasus baru ribuan, layanan kewalahan dengan kasus indeks, belum bisa optimal kejar kontak erat dan tes serta isolasi segera. Umumnya tes setelah bergejala sedang atau berat,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, PPKM darurat di Bali dimulai sejak 3 Juli yang dilanjutkan dengan PPKM level 4 hingga 2 Agustus 2021. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil optimal. Kasus penularan masih tinggi, dan jumlah kematian juga meroket.

Berdasarkan data dari Satgas Covid-19 Provinsi Bali, pada 2 Juli 2021, sehari sebelum PPKM darurat berlaku, jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 mencapai 50.871 orang. Sebanyak 1.577 orang yang terkonfirmasi Covid-19 meninggal dunia.

Baca Juga:  Stop Konsumsi RW, Pecinta Anjing Usulkan Bali Punya Shelter Anjing

Kemudian, PPKM darurat berlaku mulai 3 Juli 2021. Namun, sepanjang PPKM darurat hingga diperpanjang dua kali melalui PPKM level 3 dan level 4, kasus terkonfirmasi Covid-19 tak kunjung menurun secara signifikan.

Buktinya, sampai 2 Agustus 2021, jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 melonjak menjadi 78.508. Berarti terjadi penambahan kasus sebanyak 27.637 orang terkonfirmasi positif Covid-19 hanya dalam sebulan saja. Pada hari-hari sebelum PPKM level 4 berakhir, kasus masih tetap di atas 1.000 per hari.

Tidak itu saja, jumlah kematian pasien dengan diagnosis Covid-19 juga meroket menjadi 2.231. Dengan demikian, terjadi penambahan sebanyak 654 orang meninggal dunia hanya saat PPKM darurat dan dua kali perpanjangan PPKM level 4 yang berlangsung sebulan ini. Itu sama artinya dengan seperempat lebih (29 persen) dari jumlah kematian positif Covid-19 di Bali sejak kematian pertama pada Maret 2020.

Meski sejauh ini PPKM gagal menurunkan angka penularan Covid-19 di Bali, upaya ini tetap dilanjutkan. Saat ini, PPKM level 4 dilanjutkan pada 3 Agustus sampai 9 Agustus 2021 mendatang. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/