alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Belanja Alkes Miliaran dari LN, Diskes: RS Bali Mandara Harus Terbaik

RadarBali.com – Launching RS Bali Mandara memang mundur tanpa kepastian. Tapi, rumah sakit pelat merah milik Pemprov Bali itu bukan berarti vakum.

Saat ini manajemen RS Bali Mandara gencar melakukan belanja alat kesehatan (alkes). Tidak tanggung-tanggung, belanja alkes untuk tahun anggaran 2017 ini tembus Rp 114 miliar.

Menariknya, sebagian besar alkes dibeli dari mancanegara.  “Alkes didominasi dari luar negeri. Saya tidak hafal negara-negaranya. Tapi, ada Australia dan Jerman. Pokoknya banyak negara,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Bali, I Ketut Suarjaya, kepada Jawa Pos Radar Bali.

Kenapa harus dari luar negeri? Dijelaskan Suarjaya, mendatangkan alkes dari luar negeri bukan karena pihaknya alergi dengan produk dalam negeri.

Pihaknya ingin mendapat alkes yang kualitas dan spesifikasinya sesuai kebutuhan. Dia mencontohkan alkes yang dibeli dari luar negeri di antaranya, mesin anastesi, alat-alat bedah, ortopedi dan radiologi.

Baca Juga:  Wajib Prokes, PTM di Sekolah Diawasi Polisi

Selain itu, perlengkapan laboratorium serta alat bedah plastik dan syaraf juga dibelanjakan dari luar negeri.

“Kami ingin yang terbaik. Tapi, ada juga kok yang alat dari dalam negeri,” tukas pejabat asal Buleleng itu.

Ditambahkan Suarjaya, anggaran belanja alkes Rp 114 miliar tersebut bersumber dari APBD induk 2017.

Pihaknya tidak mendapat suntikan bantuan dari APBN. Saat disinggung potensi terjadinya praktik korupsi alkes, Suarjaya menyebut hal itu tidak mungkin terjadi.

Katanya, pengadaan alkes baik dari luar maupun dala negeri semua melalui sistem e-katalog. Semua harga sudah ditentukan oleh Lembaga Kebijaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah atau LKPP.

Artinya, lanjut Suarjaya, pengadaan barang sudah menggunakan acuan harga pasti tanpa melalui tender atau lelang.

Baca Juga:  RS Unud Jimbaran Buka Pos Vaksinasi Covid-19

Pihaknya juga tidak ketemu dengan rekanan penyedia jasa. “Kami cukup chatting, ada barang kemudian tahu harga, deal, lalu kontrak dan barang dikirim. Harganya pas, kami tidak ada ketemu pemilik barang,” ungkapnya.

Suarjaya mengklaim kemungkinan terjadi korupsi harga alkes sangat kecil. Pihaknya sudah meminimalkan celah dengan cara bekerjasama dengan BPKP, kejaksaan dan inspektorat.

“Sekecil apapun kami tidak ingin merugikan keuangan negara,” sambungnya.  Kembali ditanya kapan RS Bali Mandara bisa beroperasi, Suarjaya lagi-lagi tidak berani memastikan.

Pejabat paro baya itu memperkirakan opening bisa dilakukan sekitar pertengahan atau akhir November 2017.

Dia berdalih semua persiapan harus matang dan komplet. “Begitu dibuka semua yang dibutukan sudah ada dan lengkap,” pungkasnya



RadarBali.com – Launching RS Bali Mandara memang mundur tanpa kepastian. Tapi, rumah sakit pelat merah milik Pemprov Bali itu bukan berarti vakum.

Saat ini manajemen RS Bali Mandara gencar melakukan belanja alat kesehatan (alkes). Tidak tanggung-tanggung, belanja alkes untuk tahun anggaran 2017 ini tembus Rp 114 miliar.

Menariknya, sebagian besar alkes dibeli dari mancanegara.  “Alkes didominasi dari luar negeri. Saya tidak hafal negara-negaranya. Tapi, ada Australia dan Jerman. Pokoknya banyak negara,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Bali, I Ketut Suarjaya, kepada Jawa Pos Radar Bali.

Kenapa harus dari luar negeri? Dijelaskan Suarjaya, mendatangkan alkes dari luar negeri bukan karena pihaknya alergi dengan produk dalam negeri.

Pihaknya ingin mendapat alkes yang kualitas dan spesifikasinya sesuai kebutuhan. Dia mencontohkan alkes yang dibeli dari luar negeri di antaranya, mesin anastesi, alat-alat bedah, ortopedi dan radiologi.

Baca Juga:  Pasien Meninggal Ternyata Pengusaha Tempe, Tak Ada Penyakit Penyerta

Selain itu, perlengkapan laboratorium serta alat bedah plastik dan syaraf juga dibelanjakan dari luar negeri.

“Kami ingin yang terbaik. Tapi, ada juga kok yang alat dari dalam negeri,” tukas pejabat asal Buleleng itu.

Ditambahkan Suarjaya, anggaran belanja alkes Rp 114 miliar tersebut bersumber dari APBD induk 2017.

Pihaknya tidak mendapat suntikan bantuan dari APBN. Saat disinggung potensi terjadinya praktik korupsi alkes, Suarjaya menyebut hal itu tidak mungkin terjadi.

Katanya, pengadaan alkes baik dari luar maupun dala negeri semua melalui sistem e-katalog. Semua harga sudah ditentukan oleh Lembaga Kebijaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah atau LKPP.

Artinya, lanjut Suarjaya, pengadaan barang sudah menggunakan acuan harga pasti tanpa melalui tender atau lelang.

Baca Juga:  Kena Imbas Covid-19, Proyek Pengadilan Negeri Badung Mangkrak

Pihaknya juga tidak ketemu dengan rekanan penyedia jasa. “Kami cukup chatting, ada barang kemudian tahu harga, deal, lalu kontrak dan barang dikirim. Harganya pas, kami tidak ada ketemu pemilik barang,” ungkapnya.

Suarjaya mengklaim kemungkinan terjadi korupsi harga alkes sangat kecil. Pihaknya sudah meminimalkan celah dengan cara bekerjasama dengan BPKP, kejaksaan dan inspektorat.

“Sekecil apapun kami tidak ingin merugikan keuangan negara,” sambungnya.  Kembali ditanya kapan RS Bali Mandara bisa beroperasi, Suarjaya lagi-lagi tidak berani memastikan.

Pejabat paro baya itu memperkirakan opening bisa dilakukan sekitar pertengahan atau akhir November 2017.

Dia berdalih semua persiapan harus matang dan komplet. “Begitu dibuka semua yang dibutukan sudah ada dan lengkap,” pungkasnya


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/