alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Badung Akan Uji Coba Alat Pemingsan Babi

MANGUPURA, radarbali.id- Dalam upaya meningkatkan penerapan prinsip-prinsip Kesejahteraan Hewan (Kesrawan), Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pertanian dan Pangan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unud akan melakukan uji coba penggunaan alat pemingsan babi (Captive Bolt Stunner).

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I Wayan Wijana ditemui seusai menerima 5 unit Captive Bolt Stunner dari FKH Unud di Kantor Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, Selasa (4/1) mengatakan alat pemingsan babi ini akan diuji coba pada beberapa pengusaha pemotongan babi yang sebelumnya sudah diseleksi, dibina, dan diberikan pelatihan.

 

“Kita akan uji coba alat ini kepada beberapa pengusaha pemotongan babi di wilayah Kabupaten Badung yang sudah mendapatkan pembinaan, pelatihan serta sudah diseleksi, “ucapnya.

Baca Juga:  Super Keren! Taksi Terbang EHANG 216 Kini Sudah Diujicoba di Bali

 

Salah satu keunggulan dari Captive Bolt Stunner ini adalah bisa membuat babi ataupun sapi yang akan dipotong pingsan sebelum dipotong dengan cara ditembak menggunakan peluru khusus dari alat ini, sehingga para jagal tidak perlu memukul ataupun menenggelamkan babi yang dianggap sebagai bentuk penyiksaan terhadap binatang.

Di samping itu, penggunaan alat pemingsan babi ini juga akan menghasilkan daging yang lebih sehat, segar, dan berkualitas serta memiliki cita rasa jauh lebih enak karena dihasilkan tanpa melalui proses penyiksaan.

- Advertisement -

 

Sementara itu, Kepala Laboratorium Kesmavet FKH Unud, Prof. I Wayan Suardana mengungkapkan alat pemingsan babi ini merupakan bantuan dari Animal Australia yang sudah dirintis sejak 2 tahun yang lalu.

Baca Juga:  Dampak Dahsyat Hujan Lebat di Badung: Air Sungai Meluap, Mobil Hanyut

“Mengingat sebagai alat yang tergolong baru dan satu-satunya di Bali, proses pengiriman membutuhkan waktu yang panjang dan harus mendapatkan rekomendasi dari pihak Kepolisian. Kami berharap agar alat ini bisa digunakan dengan baik dan ke depan bisa menjadi rujukan bagi daerah lainnya untuk menerapkan Kesrawan sekaligus menghasilkan daging yang berkualitas bagi masyarakat,”ujarnya. (adv)

- Advertisement -

MANGUPURA, radarbali.id- Dalam upaya meningkatkan penerapan prinsip-prinsip Kesejahteraan Hewan (Kesrawan), Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pertanian dan Pangan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unud akan melakukan uji coba penggunaan alat pemingsan babi (Captive Bolt Stunner).

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I Wayan Wijana ditemui seusai menerima 5 unit Captive Bolt Stunner dari FKH Unud di Kantor Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, Selasa (4/1) mengatakan alat pemingsan babi ini akan diuji coba pada beberapa pengusaha pemotongan babi yang sebelumnya sudah diseleksi, dibina, dan diberikan pelatihan.

 

“Kita akan uji coba alat ini kepada beberapa pengusaha pemotongan babi di wilayah Kabupaten Badung yang sudah mendapatkan pembinaan, pelatihan serta sudah diseleksi, “ucapnya.

Baca Juga:  Giri Prasta Targetkan Pembangunan Terowongan, JUT, JITUT Tuntas 2021

 

Salah satu keunggulan dari Captive Bolt Stunner ini adalah bisa membuat babi ataupun sapi yang akan dipotong pingsan sebelum dipotong dengan cara ditembak menggunakan peluru khusus dari alat ini, sehingga para jagal tidak perlu memukul ataupun menenggelamkan babi yang dianggap sebagai bentuk penyiksaan terhadap binatang.

Di samping itu, penggunaan alat pemingsan babi ini juga akan menghasilkan daging yang lebih sehat, segar, dan berkualitas serta memiliki cita rasa jauh lebih enak karena dihasilkan tanpa melalui proses penyiksaan.

 

Sementara itu, Kepala Laboratorium Kesmavet FKH Unud, Prof. I Wayan Suardana mengungkapkan alat pemingsan babi ini merupakan bantuan dari Animal Australia yang sudah dirintis sejak 2 tahun yang lalu.

Baca Juga:  Gerak Debu Gunung Agung Tak Terdeteksi

“Mengingat sebagai alat yang tergolong baru dan satu-satunya di Bali, proses pengiriman membutuhkan waktu yang panjang dan harus mendapatkan rekomendasi dari pihak Kepolisian. Kami berharap agar alat ini bisa digunakan dengan baik dan ke depan bisa menjadi rujukan bagi daerah lainnya untuk menerapkan Kesrawan sekaligus menghasilkan daging yang berkualitas bagi masyarakat,”ujarnya. (adv)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/