alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Bupati Giri Serahkan Sertifikat WBTB untuk Desa Adat Kapal & Jimbaran

BADUNG, radarbali.id – Dua tradisi di dua desa adat di Kabupaten Badung Provinsi Bali menerima sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sertifikat diserahkan Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta kepada Bendesa Adat Kapal dan Bendesa Adat Jimbaran di Wantilan Balai Banjar Teba, Desa Adat Jimbaran Kuta Selatan, Jumat (4/3). Tradisi Siat Yeh di Desa Adat Jimbaran dan Tradisi Kebo Dongol di Desa Adat Kapal ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia serta mendapat pengakuan secara nasional. Berdasarkan data Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, saat ini sudah ada 11 WBTB yang dimiliki desa adat di Badung dan memenuhi syarat mendapatkan pengakuan secara nasional.

 

Turut hadir mendampingi Bupati, Ketua DPRD Badung Putu Parwata, Kadisbud I Gde Eka Sudarwitha, Camat Kuta Selatan I Ketut Gede Arta, Camat Mengwi I Nyoman Suhartana, Bendesa Adat Kapal Ketut Sudarsana, Bendesa Adat Jimbaran I Gusti Made Rai Dirga, koordinator pemuda peserta Siat Yeh I Komang Agus Wiweka dan undangan lainnya. Penyerahan sertifikat WBTB ini dilaksanakan bertepatan dengan Ngembak Geni dirangkaikan dengan pelaksanaan tradisi Siat Yeh. Tradisi perang air ini tetap digelar oleh warga Banjar Teba Kelurahan Jimbaran Badung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

 

Tradisi ini mengandung filosofi penyucian diri menyambut Tahun Baru Saka. Pada kegiatan penyerahan sertifikat WBTB ini, Bupati Giri Prasta secara pribadi memberikan bantuan dana total sebesar Rp 15 juta. Masing-masing Rp 5 juta untuk kegiatan pelestarian tradisi Siat Yeh di Desa Adat Jimbaran, tradisi Kebo Dongol di Desa Adat Kapal, dan pembinaan Sekaa Gong Wanita.

 

Dalam sambutannya Bupati Giri Prasta mengatakan Pemkab Badung berkomitmen dalam visi dan misi melalui Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB), khususnya poin keempat, yaitu adat, agama, tradisi, seni, dan budaya. Ini diterapkan dan diaplikasikan semua serta berkoordinasi dengan pemerintah pusat dengan Kemenkumham dan Dirjen Kebudayaan Pusat tentang Hak Cipta, HAKI, dan WBTB.

 

“Kami di Kabupaten Badung sudah ada 11 WBTB dan kita sudah sertifikatkan. Begitu juga dengan warisan benda, yaitu pura. Sudah ada kurang lebih 30 pura yang disertifikatkan. Hari ini adalah rangkaian Hari Raya Suci Nyepi. Yang pertama kita melaksanakan Tawur Pangerupukan, lalu perayaan Nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian dan sekarang Ngembak Geni. Maka hari ini warga Jimbaran melaksanakan tradisi Siat Yeh dan di Desa Adat Kapal melaksanakan Kebo Dongol. Ini harus kita lakukan dan lestarikan. Saya pastikan desa adat di Badung yang memiliki tradisi, ke depannya akan kami berikan uang pembinaan. Kami di Pemerintah Kabupaten Badung akan memberikan bantuan dana minimal sebesar Rp 25 juta dan akan diberikan kepada masing-masing Bendesa maupun tokoh adat untuk keperluan pembinaan tradisi dan budaya tersebut dan ini wajib untuk dilaksanakan,” ujarnya.

 

Koordinator pemuda peserta Siat Yeh, I Komang Agus Wiweka mengatakan tradisi yang sempat terkubur karena pesatnya perkembangan zaman ini berusaha dibangkitkan kembali oleh masyarakat Jimbaran. Prosesi Siat Yeh diawali dengan mendak atau menjemput tirta air suci ke pantai timur di wilayah Suwung dan pantai barat di Jimbaran. Tradisi mendak tirta menggunakan lima kendi dari masing-masing tempat disesuaikan dengan pengurip-urip, yaitu warna kuning dari barat dan putih dari timur. Tradisi Siat Yeh yang dilaksanakan di hari Ngembak Geni atau Umanis Nyepi ini mengandung filosofi pembersihan diri untuk menyambut Tahun Baru Saka. Dalam situasi pandemi jumlah peserta Siat Yeh dibatasi hanya 25 orang untuk masing-masing kelompok. Selain Siat Yeh, Desa Adat Jimbaran juga membangkitkan kembali tradisi lain yang ada sebelumnya, yaitu Magegobog untuk mengusir energi negatif alam saat hari Pengerupukan Nyepi. (adv)



BADUNG, radarbali.id – Dua tradisi di dua desa adat di Kabupaten Badung Provinsi Bali menerima sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sertifikat diserahkan Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta kepada Bendesa Adat Kapal dan Bendesa Adat Jimbaran di Wantilan Balai Banjar Teba, Desa Adat Jimbaran Kuta Selatan, Jumat (4/3). Tradisi Siat Yeh di Desa Adat Jimbaran dan Tradisi Kebo Dongol di Desa Adat Kapal ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia serta mendapat pengakuan secara nasional. Berdasarkan data Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, saat ini sudah ada 11 WBTB yang dimiliki desa adat di Badung dan memenuhi syarat mendapatkan pengakuan secara nasional.

 

Turut hadir mendampingi Bupati, Ketua DPRD Badung Putu Parwata, Kadisbud I Gde Eka Sudarwitha, Camat Kuta Selatan I Ketut Gede Arta, Camat Mengwi I Nyoman Suhartana, Bendesa Adat Kapal Ketut Sudarsana, Bendesa Adat Jimbaran I Gusti Made Rai Dirga, koordinator pemuda peserta Siat Yeh I Komang Agus Wiweka dan undangan lainnya. Penyerahan sertifikat WBTB ini dilaksanakan bertepatan dengan Ngembak Geni dirangkaikan dengan pelaksanaan tradisi Siat Yeh. Tradisi perang air ini tetap digelar oleh warga Banjar Teba Kelurahan Jimbaran Badung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

 

Tradisi ini mengandung filosofi penyucian diri menyambut Tahun Baru Saka. Pada kegiatan penyerahan sertifikat WBTB ini, Bupati Giri Prasta secara pribadi memberikan bantuan dana total sebesar Rp 15 juta. Masing-masing Rp 5 juta untuk kegiatan pelestarian tradisi Siat Yeh di Desa Adat Jimbaran, tradisi Kebo Dongol di Desa Adat Kapal, dan pembinaan Sekaa Gong Wanita.

 

Dalam sambutannya Bupati Giri Prasta mengatakan Pemkab Badung berkomitmen dalam visi dan misi melalui Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB), khususnya poin keempat, yaitu adat, agama, tradisi, seni, dan budaya. Ini diterapkan dan diaplikasikan semua serta berkoordinasi dengan pemerintah pusat dengan Kemenkumham dan Dirjen Kebudayaan Pusat tentang Hak Cipta, HAKI, dan WBTB.

 

“Kami di Kabupaten Badung sudah ada 11 WBTB dan kita sudah sertifikatkan. Begitu juga dengan warisan benda, yaitu pura. Sudah ada kurang lebih 30 pura yang disertifikatkan. Hari ini adalah rangkaian Hari Raya Suci Nyepi. Yang pertama kita melaksanakan Tawur Pangerupukan, lalu perayaan Nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian dan sekarang Ngembak Geni. Maka hari ini warga Jimbaran melaksanakan tradisi Siat Yeh dan di Desa Adat Kapal melaksanakan Kebo Dongol. Ini harus kita lakukan dan lestarikan. Saya pastikan desa adat di Badung yang memiliki tradisi, ke depannya akan kami berikan uang pembinaan. Kami di Pemerintah Kabupaten Badung akan memberikan bantuan dana minimal sebesar Rp 25 juta dan akan diberikan kepada masing-masing Bendesa maupun tokoh adat untuk keperluan pembinaan tradisi dan budaya tersebut dan ini wajib untuk dilaksanakan,” ujarnya.

 

Koordinator pemuda peserta Siat Yeh, I Komang Agus Wiweka mengatakan tradisi yang sempat terkubur karena pesatnya perkembangan zaman ini berusaha dibangkitkan kembali oleh masyarakat Jimbaran. Prosesi Siat Yeh diawali dengan mendak atau menjemput tirta air suci ke pantai timur di wilayah Suwung dan pantai barat di Jimbaran. Tradisi mendak tirta menggunakan lima kendi dari masing-masing tempat disesuaikan dengan pengurip-urip, yaitu warna kuning dari barat dan putih dari timur. Tradisi Siat Yeh yang dilaksanakan di hari Ngembak Geni atau Umanis Nyepi ini mengandung filosofi pembersihan diri untuk menyambut Tahun Baru Saka. Dalam situasi pandemi jumlah peserta Siat Yeh dibatasi hanya 25 orang untuk masing-masing kelompok. Selain Siat Yeh, Desa Adat Jimbaran juga membangkitkan kembali tradisi lain yang ada sebelumnya, yaitu Magegobog untuk mengusir energi negatif alam saat hari Pengerupukan Nyepi. (adv)



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/