alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

OMG! Koster Revisi PPKM Darurat, Kuliner Dibatasi Pukul 8 Malam

DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster kembali menjadi bulan-bulanan para pedagang makanan. Bagaimana tidak, pria yang juga pimpinan PDIP di Bali ini merevisi aturannya sendiri yang baru saja dia keluarkan dua hari lalu.

 

Aturan yang direvisi terkait sektor kuliner yang dituangkan Koster sebelumnya dalam Surat Edaran Gubernur Bali nomor 9 tahun 2021 tentang PPKM Darurat di Bali.

 

Sebelumnya, dalam angka 1 huruf d, menyebutkan “pelaksanaan kegiatan makan/minum di tempat umum, (warung makan, rumah makan, kafe, pedagang kaki lama, lapak jajanan) yang berada di lokasi tersendiri maupun di pusat perbelanjaan/mal hanya boleh menyediakan layanan antar dan take away, serta dilarang menerima makan di tempat (dine-in).

 

Tanpa ada pengaturan pembatasan jam operasional. Terpenting adalah orang yang belanja tidak makan di tempat. Sejatinya, hal ini sudah sesuai dengan aturan pusat, sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi persnya.

Baca Juga:  Wujud Bakti Rsi Yadnya, Bupati Giri Haturkan Punia Kepada Sulinggih

 

Yang dibatasi hingga pukul 20.00 itu, kata Menteri Luhut adalah supermarket, pasar tradisional, toko kelontong dan pasar swalayan yang menjual kebutuhan sehari-hari. Artinya, untuk sektor kuliner, tidak ada pembatasan jam operasional.

 

Ini tentu menjadi angin segar untuk para pedagang wong cilik. Sebab, masih bisa mengais rejeki meski tidak memperbolehkan tamunya untuk makan di tempat. Namun, angin segar ini menjadi angin puting beliung di Bali.

 

Sebab, Koster sendiri merevisi aturannya. Ia tiba-tiba mengeluarkan aturan terbaru yang berbeda dengan pusat. Di mana, untuk sektor yang disebutkan dalam angka 1 huruf d direvisi dan ditambahkan adanya pembatasan jam hingga 20.00.

 

“Berkenaan dengan kentuan angka 1 diatas, ditegaskan bahwa jam operasional dibatasi sampai dengan pukul 20.00 WITA dan mulai berlaku pada Hari Kamis (Wraspati Kliwon, Menail), 8 Juli 2021,” tulisnya dalam edaran terbaru yang ditandangani Koster.

Baca Juga:  Gedung Baru RS Kapal Rampung tapi Belum Berguna, PU Minta Rp105 M Lagi

 

Edaran revisi tersebut diterima Radar Bali melalui Kepala Satpol PP Kabupaten Badung, I Gusti Agung Suryanegara. “Mangkin sampun (sekarang sudah) semua jam 20.00 WITA,” katanya melalui pesan pada Rabu malam kemarin (7/7/2021).

 

Menanggapi hal ini, Netizen pun geram bukan main. Ada yang menilai Koster justru tidak memiliki pendirian sebagai pemimpin. “Plin plan care ABG labil,” komen akun @oopssfeelings. 

 

Beda halnya dengan akun @devry_sinobii yang mengatakan revisi yang dibuat Koster ini tak memikirikan rakyat kecil.

 

“Buka dagangan jam 5, jam 8 tutup. Iya kalau langsung ramai. Kalau sepi duit dari mana buat bayar kos, bayat sewa tempat buat makan, uang dari mana?,” tanyanya dan masih banyak lagi komentar negatif soal revisi SE ini.


DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster kembali menjadi bulan-bulanan para pedagang makanan. Bagaimana tidak, pria yang juga pimpinan PDIP di Bali ini merevisi aturannya sendiri yang baru saja dia keluarkan dua hari lalu.

 

Aturan yang direvisi terkait sektor kuliner yang dituangkan Koster sebelumnya dalam Surat Edaran Gubernur Bali nomor 9 tahun 2021 tentang PPKM Darurat di Bali.

 

Sebelumnya, dalam angka 1 huruf d, menyebutkan “pelaksanaan kegiatan makan/minum di tempat umum, (warung makan, rumah makan, kafe, pedagang kaki lama, lapak jajanan) yang berada di lokasi tersendiri maupun di pusat perbelanjaan/mal hanya boleh menyediakan layanan antar dan take away, serta dilarang menerima makan di tempat (dine-in).

 

Tanpa ada pengaturan pembatasan jam operasional. Terpenting adalah orang yang belanja tidak makan di tempat. Sejatinya, hal ini sudah sesuai dengan aturan pusat, sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam konferensi persnya.

Baca Juga:  Sambut Bisnis Logistik, Poltrada Buka Pendaftaran Taruna Jalur Mandiri

 

Yang dibatasi hingga pukul 20.00 itu, kata Menteri Luhut adalah supermarket, pasar tradisional, toko kelontong dan pasar swalayan yang menjual kebutuhan sehari-hari. Artinya, untuk sektor kuliner, tidak ada pembatasan jam operasional.

 

Ini tentu menjadi angin segar untuk para pedagang wong cilik. Sebab, masih bisa mengais rejeki meski tidak memperbolehkan tamunya untuk makan di tempat. Namun, angin segar ini menjadi angin puting beliung di Bali.

 

Sebab, Koster sendiri merevisi aturannya. Ia tiba-tiba mengeluarkan aturan terbaru yang berbeda dengan pusat. Di mana, untuk sektor yang disebutkan dalam angka 1 huruf d direvisi dan ditambahkan adanya pembatasan jam hingga 20.00.

 

“Berkenaan dengan kentuan angka 1 diatas, ditegaskan bahwa jam operasional dibatasi sampai dengan pukul 20.00 WITA dan mulai berlaku pada Hari Kamis (Wraspati Kliwon, Menail), 8 Juli 2021,” tulisnya dalam edaran terbaru yang ditandangani Koster.

Baca Juga:  Anak Durhaka! Titip Sabu ke Orang Tua, Giliran Ayah Tertangkap, malah

 

Edaran revisi tersebut diterima Radar Bali melalui Kepala Satpol PP Kabupaten Badung, I Gusti Agung Suryanegara. “Mangkin sampun (sekarang sudah) semua jam 20.00 WITA,” katanya melalui pesan pada Rabu malam kemarin (7/7/2021).

 

Menanggapi hal ini, Netizen pun geram bukan main. Ada yang menilai Koster justru tidak memiliki pendirian sebagai pemimpin. “Plin plan care ABG labil,” komen akun @oopssfeelings. 

 

Beda halnya dengan akun @devry_sinobii yang mengatakan revisi yang dibuat Koster ini tak memikirikan rakyat kecil.

 

“Buka dagangan jam 5, jam 8 tutup. Iya kalau langsung ramai. Kalau sepi duit dari mana buat bayar kos, bayat sewa tempat buat makan, uang dari mana?,” tanyanya dan masih banyak lagi komentar negatif soal revisi SE ini.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/