alexametrics
27.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Dari Bali Bhuwana Rupa, Wall of Fame, hingga Kukuhkan 3 Guru Besar

INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) Denpasar memasuki akhir tahun 2021 dengan langkah baru yang semakin mantap dan terkonsolidasi. Even diseminasi Bali Padma Bhuwana melalui program Bali-Bhuwana Rupa diselenggarakan dalam format virtual 360 derajat, workshop terakota dan prada, pembangunan Wall of Fame, pengukuhan tiga Guru Besar (Profesor) baru, hingga pengusulan delapan Program Studi Baru.

 

Sivitas akademika ISI Denpasar dalam Sembilan bulan terakhir nampak sangat padu dan solid dalam membangun kampus seni kebanggaan Indonesia ini untuk mewujudkan moto baru, yakni: Pusat Hub Seni dan Kreativitas Kelas Dunia atau Global-Bali Arts and Creativity Centre Hub (G-BAACH).

 

Program Bali-Bhuwana Rupa merupakan pameran internasional yang melibatkan 24 maestro dan perupa bereputasi dalam galeri virtual, pada laman: https://pameran.virtual.isi-dps.ac.id.

 

Pameran yang menghadirkan Nyoman Nuarta, Nyoman Erawan, Arahmaiani Feisal, Siti Adiyati, Tiarma Sirait, Teguh Ostentrik, Wayan Karja, Ketut Muka, Nyoman Suardina, Wayan Setem, Made Sumadiyasa, Putu Wirantawan, Wayan Sudarna Putra, Wayan Suja, Lekung Sugantika, hingga perupa internasional Ashley Bickerton, dan fotografer Aimery Joessel, telah dibuka Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri, Dr. Teuku Faizasyah, pada Jumat (26/11) lalu. Selaku kurator pameran Bali-Bhuwana Rupa dipilih: Prof. Setiawan Sabana, Dr. Jean Couteau, Seno Joko Suyono, Warih Wisatsana, dan Prof. Wayan Kun Adnyana.

 

Selain program diseminasi Bali Padma Bhuwana, ISI Denpasar dalam upaya penguatan kualitas pembelajaran akademik juga menyelenggarakan workshop skala besar, yaitu: seni terakota dan cetak prada.

 

Workshop terakota dengan narasumber Made Suka Winaya, Putu Oka Mahendra, dan Komang Adi Putra ini mengangkat tema Wana-Segara-Ampo, dan telah menghasilkan ratusan modul terakota bersubjek kehidupan biota laut. 

 

Sementara workshop prada bertema Wana-Prabha-Prada mengajarkan teknik cetak warna prada pada kain, dengan koordinator Anak Agung Anom Mayun Tenanya dan instruktur Jero Mangku Alit Wisaka.

Baca Juga:  Indonesia Darurat Profesor Penciptaan Seni

 

Koordinator workshop terakota Dr. I Ketut Muka mengatakan bahwa luaran dari workshop, sebagaimana ratusan modul elemen estetik patung terakota tersebut akan dirangkai menjadi patung monumental outdoor.

 

“Kedua jenis workshop ini,  selain pengayaan pengetahuan dan keterampilan teknis seni mahasiswa, luaran workshop dapat dimanfaatkan sebagai karya seni untuk memperanggun lingkungan kampus ISI Denpasar,” urai perupa keramik itu.

 

Upaya pengembangan akademik, ISI Denpasar pada penghujung 2021 ini, mengajukan delapan usulan pendirian program studi baru, yaitu: Pendidikan Seni (S2) dengan Ketua Tim Dr. Luh Sustiawati, Desain Game (S1) oleh Putu Arya Janotama, M.Sn., Pendidikan Seni Rupa dan Desain (S1) oleh Dr. Sri Supriyatini, Desain Produk (S1) oleh Dr. Nyoman Suardina, Tata Kelola Digital Seni (S1) oleh Dr. Wayan Setem,  Teater (S1) oleh Dr. Gusti Putu Sudarta, Animasi (Sarjana Terapan) oleh Dr. Larry Julianto, dan Penyaji Seni Pertunjukan (Sarjana Terapan) oleh Dr. Wayan Sudirana. Seluruh tim telah menyelesaikan proposal, dan telah diasistensi penjaminan mutu dan tim review internal, yang dikoordinir Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Dr. Anak Agung Bagus Udayana dan Korpus Penjaminan Mutu Dr. Larry Julianto.

 

 

Tembok Dedikasi Wall of Fame

 

Masyarakat penyangga, baik Maestro, Seniman, Budayawan, Profesional, pejabat Pemerintahan, maupun Pengusaha Bereputasi telah banyak melakukan kontribusi luar biasa terhadap pemajuan seni dan budaya Bangsa Indonesia, namun belum ada dibangun monumen untuk mengabadikan nama baiknya tersebut pada perguruan tinggi seni di Indonesia.

 

 

Monumen seperti ini di luar negeri menjadi landmark/ikon kota/perguruan tinggi, seperti Hollywood Walk of Fame, Alabama Jazz of Fame, Australian Stockman Hall of Fame, dan lain-lain. Sebagai upaya penghormatan terhadap dedikasi masyarakat penyangga tersebut, ISI Denpasar secara khusus membangun monumen diberi nama Wall of Fame.

 

Pada monumen berupa tembok monumental berbahan granit hitam dan merah, berukuran 14 meter x 4,5 meter itu, akan ditatah tanda tangan dan nama bagi maestro, seniman, dan tokoh bereputasi, seperti: Nyoman Nuarta, Sardono W. Kusumo, Ni Luh Menek, I Wayan Wija, dan seniman berpengaruh lainnya.

Baca Juga:  Masih Saja Hujan, BMKG Prediksi Bulan April Bali Masuk Musim Kemarau

 

Rektor ISI Denpasar, Prof. Kun Adnyana menjelaskan, bahwa capaian kinerja melingkupi aspek peluasan pembelajaran; aktualisasi strategik internasional Bali-Bhuwana Rupa; pengembangan akademik melalui pengusulan pendirian prodi baru; dan penguatan SDM Dosen melalui pengusulan dan pengukuhan guru besar, dapat tercapai dalam sembilan bulan terakhir karena kerja solid seluruh civitas akademik ISI Denpasar. “Moto: Global-Bali Arts and Creativity Centre Hub (G-BAACH), sebagai perajut semangat, orientasi, dan dedikasi dalam mencapai cita-cita bersama yakni profil lulusan unggul, civitas berprestasi, dan ISI Denpasar terpercaya” terang mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

                  

Pengukuhan Guru Besar

 

ISI Denpasar juga menerima “kado” akhir tahun berupa lolosnya pengusulan dua guru besar baru Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), yaitu: Prof. Dr. I Komang Sudirga dengan SK penetapan Mendikbudristek RI Nomor: 76895/MPK.A/KP.05.01/2021, dan Prof. Dr. Ni Made Ruastiti melalui SK Mendikbudristek RI Nomor: 76894/MPK.A/KP.05.01/2021.

 

Selain itu dosen FSRD, Prof. Dr. I Wayan Mudra yang sebelumnya telah ditetapkan melalui SK Mendikbud Nomor: 117048/MPK/KP/2020, secara bersama-sama akan diinagurasi melalui acara Pengukuhan dan Kenal Publik Guru Besar Anyar ISI Denpasar.

 

Acara akan dilaksanakan secara luring-daring pada Jumat (17/12) mendatang. Prof. Sudirga, Guru Besar Bidang Kajian Seni Karawitan akan membawakan orasi ilmiah berjudul “Praktik dan Pergulatan Ideologis Pasantian di Era Global”, Prof. Ruastiti, Guru Besar Bidang Ilmu Seni Pertunjukan Pariwisata dengan judul orasi “Pengembangan Model Seni Pertunjukan bagi Anak-Anak Usia Dini Berbasis Kearifan Lokal”, dan Prof. Mudra, Guru Besar Bidang Ilmu Kriya Keramik dengan judul orasi “Kriya Keramik Bali dalam Pelestarian Budaya Tradisi”. (arb)


INSTITUT SENI INDONESIA (ISI) Denpasar memasuki akhir tahun 2021 dengan langkah baru yang semakin mantap dan terkonsolidasi. Even diseminasi Bali Padma Bhuwana melalui program Bali-Bhuwana Rupa diselenggarakan dalam format virtual 360 derajat, workshop terakota dan prada, pembangunan Wall of Fame, pengukuhan tiga Guru Besar (Profesor) baru, hingga pengusulan delapan Program Studi Baru.

 

Sivitas akademika ISI Denpasar dalam Sembilan bulan terakhir nampak sangat padu dan solid dalam membangun kampus seni kebanggaan Indonesia ini untuk mewujudkan moto baru, yakni: Pusat Hub Seni dan Kreativitas Kelas Dunia atau Global-Bali Arts and Creativity Centre Hub (G-BAACH).

 

Program Bali-Bhuwana Rupa merupakan pameran internasional yang melibatkan 24 maestro dan perupa bereputasi dalam galeri virtual, pada laman: https://pameran.virtual.isi-dps.ac.id.

 

Pameran yang menghadirkan Nyoman Nuarta, Nyoman Erawan, Arahmaiani Feisal, Siti Adiyati, Tiarma Sirait, Teguh Ostentrik, Wayan Karja, Ketut Muka, Nyoman Suardina, Wayan Setem, Made Sumadiyasa, Putu Wirantawan, Wayan Sudarna Putra, Wayan Suja, Lekung Sugantika, hingga perupa internasional Ashley Bickerton, dan fotografer Aimery Joessel, telah dibuka Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri, Dr. Teuku Faizasyah, pada Jumat (26/11) lalu. Selaku kurator pameran Bali-Bhuwana Rupa dipilih: Prof. Setiawan Sabana, Dr. Jean Couteau, Seno Joko Suyono, Warih Wisatsana, dan Prof. Wayan Kun Adnyana.

 

Selain program diseminasi Bali Padma Bhuwana, ISI Denpasar dalam upaya penguatan kualitas pembelajaran akademik juga menyelenggarakan workshop skala besar, yaitu: seni terakota dan cetak prada.

 

Workshop terakota dengan narasumber Made Suka Winaya, Putu Oka Mahendra, dan Komang Adi Putra ini mengangkat tema Wana-Segara-Ampo, dan telah menghasilkan ratusan modul terakota bersubjek kehidupan biota laut. 

 

Sementara workshop prada bertema Wana-Prabha-Prada mengajarkan teknik cetak warna prada pada kain, dengan koordinator Anak Agung Anom Mayun Tenanya dan instruktur Jero Mangku Alit Wisaka.

Baca Juga:  Indonesia Darurat Profesor Penciptaan Seni

 

Koordinator workshop terakota Dr. I Ketut Muka mengatakan bahwa luaran dari workshop, sebagaimana ratusan modul elemen estetik patung terakota tersebut akan dirangkai menjadi patung monumental outdoor.

 

“Kedua jenis workshop ini,  selain pengayaan pengetahuan dan keterampilan teknis seni mahasiswa, luaran workshop dapat dimanfaatkan sebagai karya seni untuk memperanggun lingkungan kampus ISI Denpasar,” urai perupa keramik itu.

 

Upaya pengembangan akademik, ISI Denpasar pada penghujung 2021 ini, mengajukan delapan usulan pendirian program studi baru, yaitu: Pendidikan Seni (S2) dengan Ketua Tim Dr. Luh Sustiawati, Desain Game (S1) oleh Putu Arya Janotama, M.Sn., Pendidikan Seni Rupa dan Desain (S1) oleh Dr. Sri Supriyatini, Desain Produk (S1) oleh Dr. Nyoman Suardina, Tata Kelola Digital Seni (S1) oleh Dr. Wayan Setem,  Teater (S1) oleh Dr. Gusti Putu Sudarta, Animasi (Sarjana Terapan) oleh Dr. Larry Julianto, dan Penyaji Seni Pertunjukan (Sarjana Terapan) oleh Dr. Wayan Sudirana. Seluruh tim telah menyelesaikan proposal, dan telah diasistensi penjaminan mutu dan tim review internal, yang dikoordinir Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Dr. Anak Agung Bagus Udayana dan Korpus Penjaminan Mutu Dr. Larry Julianto.

 

 

Tembok Dedikasi Wall of Fame

 

Masyarakat penyangga, baik Maestro, Seniman, Budayawan, Profesional, pejabat Pemerintahan, maupun Pengusaha Bereputasi telah banyak melakukan kontribusi luar biasa terhadap pemajuan seni dan budaya Bangsa Indonesia, namun belum ada dibangun monumen untuk mengabadikan nama baiknya tersebut pada perguruan tinggi seni di Indonesia.

 

 

Monumen seperti ini di luar negeri menjadi landmark/ikon kota/perguruan tinggi, seperti Hollywood Walk of Fame, Alabama Jazz of Fame, Australian Stockman Hall of Fame, dan lain-lain. Sebagai upaya penghormatan terhadap dedikasi masyarakat penyangga tersebut, ISI Denpasar secara khusus membangun monumen diberi nama Wall of Fame.

 

Pada monumen berupa tembok monumental berbahan granit hitam dan merah, berukuran 14 meter x 4,5 meter itu, akan ditatah tanda tangan dan nama bagi maestro, seniman, dan tokoh bereputasi, seperti: Nyoman Nuarta, Sardono W. Kusumo, Ni Luh Menek, I Wayan Wija, dan seniman berpengaruh lainnya.

Baca Juga:  Imbau Tak Lelah Lawan Corona,Cok Ace: Kita Tak Tahu Darimana Virus Ini

 

Rektor ISI Denpasar, Prof. Kun Adnyana menjelaskan, bahwa capaian kinerja melingkupi aspek peluasan pembelajaran; aktualisasi strategik internasional Bali-Bhuwana Rupa; pengembangan akademik melalui pengusulan pendirian prodi baru; dan penguatan SDM Dosen melalui pengusulan dan pengukuhan guru besar, dapat tercapai dalam sembilan bulan terakhir karena kerja solid seluruh civitas akademik ISI Denpasar. “Moto: Global-Bali Arts and Creativity Centre Hub (G-BAACH), sebagai perajut semangat, orientasi, dan dedikasi dalam mencapai cita-cita bersama yakni profil lulusan unggul, civitas berprestasi, dan ISI Denpasar terpercaya” terang mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

                  

Pengukuhan Guru Besar

 

ISI Denpasar juga menerima “kado” akhir tahun berupa lolosnya pengusulan dua guru besar baru Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), yaitu: Prof. Dr. I Komang Sudirga dengan SK penetapan Mendikbudristek RI Nomor: 76895/MPK.A/KP.05.01/2021, dan Prof. Dr. Ni Made Ruastiti melalui SK Mendikbudristek RI Nomor: 76894/MPK.A/KP.05.01/2021.

 

Selain itu dosen FSRD, Prof. Dr. I Wayan Mudra yang sebelumnya telah ditetapkan melalui SK Mendikbud Nomor: 117048/MPK/KP/2020, secara bersama-sama akan diinagurasi melalui acara Pengukuhan dan Kenal Publik Guru Besar Anyar ISI Denpasar.

 

Acara akan dilaksanakan secara luring-daring pada Jumat (17/12) mendatang. Prof. Sudirga, Guru Besar Bidang Kajian Seni Karawitan akan membawakan orasi ilmiah berjudul “Praktik dan Pergulatan Ideologis Pasantian di Era Global”, Prof. Ruastiti, Guru Besar Bidang Ilmu Seni Pertunjukan Pariwisata dengan judul orasi “Pengembangan Model Seni Pertunjukan bagi Anak-Anak Usia Dini Berbasis Kearifan Lokal”, dan Prof. Mudra, Guru Besar Bidang Ilmu Kriya Keramik dengan judul orasi “Kriya Keramik Bali dalam Pelestarian Budaya Tradisi”. (arb)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/