alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Versi Greenpeace Bali Sulit Kembangkan PLTS, Ternyata Ini Penyebabnya…

DENPASAR – Wilayah SARBAGITA (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) dijadikan fokus kajian pengembangan energy terbarukan antara Greenpeace dan UNUD Core.

Alasannya karena berbagai indikator strategis yang dimiliki keempat pemerintah kabupaten/kota yang berada di wilayah Bali bagian selatan ini.

Dalam kajian yang dipublikasikan berjudul Peta Jalan Pengembangan PLTS Atap: Menuju Bali Mandiri Energi, terdapat lima kelompok pemangku kepentingan PLTS di Bali. Yakni:

1)      Pemerintah yang terdiri dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan yang dikenal dengan istilah SARBAGITA.

2)      institusi pendidikan yang diwakili oleh Perguruan Tinggi.

3)      Penyedia tenaga listrik yaitu PT PLN (Persero) UID Bali.

4)      Industri pariwisata yaitu Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Bali yang mengelola kawasan wisata Nusa Dua.

Baca Juga:  Siap-Siap Vaksinasi Rohaniawan, Bendesa, Budayawan, Seniman dan Lansia

5)      Masyarakat Desa Adat Bali di wilayah SARBAGITA.

Menurut Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Tata Mustasya, terhambatnya perkembangan PLTS Atap di Bali disebabkan berbagai faktor.

Di antaranya pengetahuan masyarakat tentang PLTS yang masih terbatas, investasi awal yang besar, kendala terkait pengoperasian dan pemeliharaan, layanan purna jual, dan regulasi.

Perlu adanya kampanye yang lebih inovatif dan membumi, bahwa penggunaan energi surya atap ini mudah, aman, dan baik bagi masyarakat dan lingkungan.  

Untuk mencapai target tersebut, jelas diperlukan dukungan dan sinergi antara berbagai pemangku kepentingan dan masyarakat luas.

PLN Bali sebagai penyedia listrik serta industri pariwisata perlu didorong untuk berpartisipasi lebih luas dan progresif dalam membangun PLTS Atap. 

Baca Juga:  Catat, Koster Minta PLTU Celukan Bawang Beralih dari Batubara ke Gas

Menurut Ketua Tim CORE Universitas Udayana Prof Ida Ayu Dwi Giriantari PhD, Bali sebagai pulau dengan kunjungan wisatawan

yang terus meningkat serta predikat sebagai destinasi wisata favorit dunia harus serius dalam penyediaan energi khususnya energi terbarukan.

“Pemanfaatan energi terbarukan di Bali bisa untuk membangun brand image positif bagi industri pariwisata. Keberhasilan praktek-praktek baik pemanfaatan energi

terbarukan di Bali  akan menjadi perhatian dunia atas keseriusan pemerintah RI dalam menyelamatkan lingkungan,” pungkasnya.



DENPASAR – Wilayah SARBAGITA (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) dijadikan fokus kajian pengembangan energy terbarukan antara Greenpeace dan UNUD Core.

Alasannya karena berbagai indikator strategis yang dimiliki keempat pemerintah kabupaten/kota yang berada di wilayah Bali bagian selatan ini.

Dalam kajian yang dipublikasikan berjudul Peta Jalan Pengembangan PLTS Atap: Menuju Bali Mandiri Energi, terdapat lima kelompok pemangku kepentingan PLTS di Bali. Yakni:

1)      Pemerintah yang terdiri dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan yang dikenal dengan istilah SARBAGITA.

2)      institusi pendidikan yang diwakili oleh Perguruan Tinggi.

3)      Penyedia tenaga listrik yaitu PT PLN (Persero) UID Bali.

4)      Industri pariwisata yaitu Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Bali yang mengelola kawasan wisata Nusa Dua.

Baca Juga:  Kapal Terakhir, Ini pengakuan Wisatawan Saat Evakuasi..

5)      Masyarakat Desa Adat Bali di wilayah SARBAGITA.

Menurut Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Tata Mustasya, terhambatnya perkembangan PLTS Atap di Bali disebabkan berbagai faktor.

Di antaranya pengetahuan masyarakat tentang PLTS yang masih terbatas, investasi awal yang besar, kendala terkait pengoperasian dan pemeliharaan, layanan purna jual, dan regulasi.

Perlu adanya kampanye yang lebih inovatif dan membumi, bahwa penggunaan energi surya atap ini mudah, aman, dan baik bagi masyarakat dan lingkungan.  

Untuk mencapai target tersebut, jelas diperlukan dukungan dan sinergi antara berbagai pemangku kepentingan dan masyarakat luas.

PLN Bali sebagai penyedia listrik serta industri pariwisata perlu didorong untuk berpartisipasi lebih luas dan progresif dalam membangun PLTS Atap. 

Baca Juga:  Polemik HK Berlanjut, Aksi Damai Taksu Bali Pindah ke Bajra Sandhi

Menurut Ketua Tim CORE Universitas Udayana Prof Ida Ayu Dwi Giriantari PhD, Bali sebagai pulau dengan kunjungan wisatawan

yang terus meningkat serta predikat sebagai destinasi wisata favorit dunia harus serius dalam penyediaan energi khususnya energi terbarukan.

“Pemanfaatan energi terbarukan di Bali bisa untuk membangun brand image positif bagi industri pariwisata. Keberhasilan praktek-praktek baik pemanfaatan energi

terbarukan di Bali  akan menjadi perhatian dunia atas keseriusan pemerintah RI dalam menyelamatkan lingkungan,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/