alexametrics
24.8 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Stres Picu Imun Turun, Ini Dampak Corona Versi Ahli Psikologi Politik

DENPASAR – Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh merebaknya virus SARS-CoV-2 atau corona jenis baru sudah menjadi gejala multi-dimensi.

Tak hanya persolan kesehatan (medis), akan tetapi juga masalah sosial, ekonomi, budaya dan tentu saja juga aspek psikologis.

Ahli Psikologi Politik Prof Hamdi Muluk mengatakan, dalam kondisi tersebut, penataan aspek psikologi menjadi sangat penting untuk menurunkan angka penambahan kasus Covid-19.

“Kondisi psikologis ini tentu juga akan mempengaruhi penanganan Covid-19. Kalau seseorang tidak sejahtera secara psikologis, ini nanti usaha pelandaian ini terkendala karena perilaku tidak mendukung,” kata Prof Hamdi, Minggu (10/5).

Secara umum, Prof Hamdi mengatakan kondisi persoalan multi-dimensi itu sifatnya bahkan sudah menjadi disruptif. Artinya membuat kondisi yang selama ini baku (normal) menjadi kearah “normalitas baru” (new normal).

“Kondisi pandemi ini sekonyong-konyong membuat perubahan baru, orang bilang ini distruptif, tiba-tiba, sesuatu yang normal ini menjadi luluh lantak menjadi situasi tidak normal bahkan diramal menjadi normalitas baru,” imbuhnya.

Baca Juga:  BENGKUNG! Buka Hingga Larut Malam, Toko di Kuta Utara Ditegur Keras

Prof Hamdi juga menjelaskan bagaimana aspek psikologi penting dalam kaitannya melawan Covid-19. Menurut Hamdi, kondisi psikologi berada pada dasar bagi seseorang dalam menghadapi goncangan yang ditimbulkan oleh Covid-19.

Selama ini mungkin orang tidak memahami bahwa kesejahteraan itu tidak hanya secara ekonomi, fisik tapi juga kesejahteraan psikologi atau phsycological well being.

Secara umum memang tiga jenis kesejahteraan ini saling berkaitan. Dalam hal ini kondisi fisik yang prima dengan asupan gizi seimbang dapat berdampak kepada kondisi psikologis yang kuat juga. 

“Kalau ekonomi kita tidak sejahtera maka bagaimana kita bisa makan. Fisik jika tidak sejahtera, maka berimbas juga pada psikologi,” jelas Hamdi.

Hal tersebut berlaku juga sebaliknya, apabila seseorang mampu dalam segi ekonomi akan tetapi kondisi psikologis seseorang yang rapuh maka dapat memperlemah imunitas tubuh sehingga fisik menjadi rentan.

Baca Juga:  Ada 2.547 Kasus, Dinkes Badung Ingatkan DB di Musim Penghujan

“Walaupun Anda berkecukupan secara ekonomi, kalau batin resah terus, gelisah kalau Anda ketakutan, Anda menjadi stres, depresi,

kondisi psikologi memburuk dan kondisi fisik memburuk dan nanti ujung-ujungnya dirawat dan ekonomi terpengaruh juga,” jelasnya.

Oleh sebab itu penting bagi seseorang memiliki kesejahteraan psikologi yang bagus. Sebab sudah jelas dalam beberapa riset bahwa psychological well being mempengaruhi tingkat imunitas seseorang. 

“Imunitas ini kata kunci melawan pandemi. Jadi pandemi dampaknya tidak terlalu dahsyat kalau setiap orang (memiliki) imun,

baik secara fisik dan psikologi. Oleh karena itu perlu ditata bagaimana setiap orang memiliki psychological well being,” pungkas Hamdi. 



DENPASAR – Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh merebaknya virus SARS-CoV-2 atau corona jenis baru sudah menjadi gejala multi-dimensi.

Tak hanya persolan kesehatan (medis), akan tetapi juga masalah sosial, ekonomi, budaya dan tentu saja juga aspek psikologis.

Ahli Psikologi Politik Prof Hamdi Muluk mengatakan, dalam kondisi tersebut, penataan aspek psikologi menjadi sangat penting untuk menurunkan angka penambahan kasus Covid-19.

“Kondisi psikologis ini tentu juga akan mempengaruhi penanganan Covid-19. Kalau seseorang tidak sejahtera secara psikologis, ini nanti usaha pelandaian ini terkendala karena perilaku tidak mendukung,” kata Prof Hamdi, Minggu (10/5).

Secara umum, Prof Hamdi mengatakan kondisi persoalan multi-dimensi itu sifatnya bahkan sudah menjadi disruptif. Artinya membuat kondisi yang selama ini baku (normal) menjadi kearah “normalitas baru” (new normal).

“Kondisi pandemi ini sekonyong-konyong membuat perubahan baru, orang bilang ini distruptif, tiba-tiba, sesuatu yang normal ini menjadi luluh lantak menjadi situasi tidak normal bahkan diramal menjadi normalitas baru,” imbuhnya.

Baca Juga:  Datangi Pasar Petang, Celuluk Muka Merah Edukasi Gaya Hidup Baru

Prof Hamdi juga menjelaskan bagaimana aspek psikologi penting dalam kaitannya melawan Covid-19. Menurut Hamdi, kondisi psikologi berada pada dasar bagi seseorang dalam menghadapi goncangan yang ditimbulkan oleh Covid-19.

Selama ini mungkin orang tidak memahami bahwa kesejahteraan itu tidak hanya secara ekonomi, fisik tapi juga kesejahteraan psikologi atau phsycological well being.

Secara umum memang tiga jenis kesejahteraan ini saling berkaitan. Dalam hal ini kondisi fisik yang prima dengan asupan gizi seimbang dapat berdampak kepada kondisi psikologis yang kuat juga. 

“Kalau ekonomi kita tidak sejahtera maka bagaimana kita bisa makan. Fisik jika tidak sejahtera, maka berimbas juga pada psikologi,” jelas Hamdi.

Hal tersebut berlaku juga sebaliknya, apabila seseorang mampu dalam segi ekonomi akan tetapi kondisi psikologis seseorang yang rapuh maka dapat memperlemah imunitas tubuh sehingga fisik menjadi rentan.

Baca Juga:  Kejaksaan Ingatkan Perbekel Main-main Dana Covid-19 Bisa Dipidana

“Walaupun Anda berkecukupan secara ekonomi, kalau batin resah terus, gelisah kalau Anda ketakutan, Anda menjadi stres, depresi,

kondisi psikologi memburuk dan kondisi fisik memburuk dan nanti ujung-ujungnya dirawat dan ekonomi terpengaruh juga,” jelasnya.

Oleh sebab itu penting bagi seseorang memiliki kesejahteraan psikologi yang bagus. Sebab sudah jelas dalam beberapa riset bahwa psychological well being mempengaruhi tingkat imunitas seseorang. 

“Imunitas ini kata kunci melawan pandemi. Jadi pandemi dampaknya tidak terlalu dahsyat kalau setiap orang (memiliki) imun,

baik secara fisik dan psikologi. Oleh karena itu perlu ditata bagaimana setiap orang memiliki psychological well being,” pungkas Hamdi. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/