alexametrics
29.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Kedua Anaknya Dirumahkan, Kusir Dokar Sejak Era Sukarno Tetap Bekerja

Hampir semua perekonomian di Denpasar terdampak pandemi Covid-19. Tak terkecuali kusir dokar yang biasa mangkal di Denpasar. Seperti dialami Nengah Purna. 

MARCELL PAMPUR, Denpasar

 

NENGAH Purna tampak duduk termenung di dokarnya yang terpakir di pinggir jalan Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung Badung, Denpasar. Hari itu, Minggu (10/10/2021) seperti biasanya dia kembali melakukan pekerjaan rutinnya sebagai kusir dokar.

 

Sudah beberapa jam dia menunggu penumpang. Belum ada satu pun masyarakat yang menggunakan jasanya berkeliling Denpasar menggunakan dokar. 

 

- Advertisement -

Kondisi sepi penumpang seperti ini sudah seperti makanan sehari-hari bagi dirinya dan kusir dokar lainnya yang bisa beroperasi di kawasan Puputan Denpasar. Sejak covid-19 melanda Bali dan Indonesia dua tahun terakhir, kondisi sepi penumpang seperti ini memang kerap terjadi hampir setiap harinya.

 

“Sekarang ini sangat sepi. Bahkan dari tadi belum ada yang naik untuk berwisata keliling,” ujar pria berusia 75 tahun ini saat media ini mengajaknya mengobrol.

Baca Juga:  Masak Mie, ABK Kapal Penangkap Ikan Terkena Ledakan Kompor Gas

 

Menurut dia, sejak penerapan PPKM di Bali dia kerap menghabiskan waktunya di rumah. Karena kalau pun harus bekerja, kemungkinan untuk mendapatkan penumpang juga kecil.

 

Padahal dia harus tetap memberikan makan dan merawat kuda yang dia beli dua tahun lalu setiap saat. Sementara pemasukan uang masih tak menentu. 

 

Nengah Purna sendiri sudah menjadi kusir dokar sejak era kepemimpinan Presiden Sukarno. Kira-kira sudah 50 tahun hingga sekarang.

 

Namun dua tahun belakangan ia dibikin bingung akibat pandemic Covid-19. Katanya, ini adalah menjadi tahun-tahun tersulitnya selama menjalani profesi ini.

 

Padahal di rumah dia masih punya keluarga yang harus dia nafkahi. Keadaan ekonomi keluarganya pun kian memprihatinkan lantaran dua orang anaknya yang sebelumnya bekerja terpaksa harus dirumahkan akibat terpuruknya ekonomi di Bali di masa pandemi covid-19. 

Baca Juga:  Bantu Petani saat Covid-19, Galang Donasi Beli Hasil Tanaman Petani

 

“Saya sebenarnya tidak diizinkan untuk narik dokar lagi oleh anak-anak saya. Tapi masalahnya anak-anak saya juga sudah dirumahkan. Kalau saya tidak kerja nanti makannya dari mana,” ujarnya.

 

Dia sendiri mulai beroperasi dari siang hingga sore. Wilayah mangkalnya pun biasanya di seputaran jalan Gajah Mada Denpasar dan juga di seputaran Lapangan Puputan Denpasar.

 

Jika mendapatkan penumpang, harga yang dia patok pun Rp50 ribu. Di usianya yang senja dia juga tetap menerapkan protokol kesehatan saat menarik dokar. 

 

Dia selalu menerapkan 3M, mencuci tangan, memakai masker dan selalu menjaga jarak. Tak lupa pula dia selalu mengingatkan penumpangnya untuk ikut menjaga Prokes.

 

“Harapannya semoga pandemi ini segera berakhir. Biar saya bisa bekerja seperti biasa lagi, ” tandasnya.

- Advertisement -

Hampir semua perekonomian di Denpasar terdampak pandemi Covid-19. Tak terkecuali kusir dokar yang biasa mangkal di Denpasar. Seperti dialami Nengah Purna. 

MARCELL PAMPUR, Denpasar

 

NENGAH Purna tampak duduk termenung di dokarnya yang terpakir di pinggir jalan Lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung Badung, Denpasar. Hari itu, Minggu (10/10/2021) seperti biasanya dia kembali melakukan pekerjaan rutinnya sebagai kusir dokar.

 

Sudah beberapa jam dia menunggu penumpang. Belum ada satu pun masyarakat yang menggunakan jasanya berkeliling Denpasar menggunakan dokar. 

 

Kondisi sepi penumpang seperti ini sudah seperti makanan sehari-hari bagi dirinya dan kusir dokar lainnya yang bisa beroperasi di kawasan Puputan Denpasar. Sejak covid-19 melanda Bali dan Indonesia dua tahun terakhir, kondisi sepi penumpang seperti ini memang kerap terjadi hampir setiap harinya.

 

“Sekarang ini sangat sepi. Bahkan dari tadi belum ada yang naik untuk berwisata keliling,” ujar pria berusia 75 tahun ini saat media ini mengajaknya mengobrol.

Baca Juga:  Bantu Petani saat Covid-19, Galang Donasi Beli Hasil Tanaman Petani

 

Menurut dia, sejak penerapan PPKM di Bali dia kerap menghabiskan waktunya di rumah. Karena kalau pun harus bekerja, kemungkinan untuk mendapatkan penumpang juga kecil.

 

Padahal dia harus tetap memberikan makan dan merawat kuda yang dia beli dua tahun lalu setiap saat. Sementara pemasukan uang masih tak menentu. 

 

Nengah Purna sendiri sudah menjadi kusir dokar sejak era kepemimpinan Presiden Sukarno. Kira-kira sudah 50 tahun hingga sekarang.

 

Namun dua tahun belakangan ia dibikin bingung akibat pandemic Covid-19. Katanya, ini adalah menjadi tahun-tahun tersulitnya selama menjalani profesi ini.

 

Padahal di rumah dia masih punya keluarga yang harus dia nafkahi. Keadaan ekonomi keluarganya pun kian memprihatinkan lantaran dua orang anaknya yang sebelumnya bekerja terpaksa harus dirumahkan akibat terpuruknya ekonomi di Bali di masa pandemi covid-19. 

Baca Juga:  Baru Satu Hotel Non Bintang di Buleleng Siap Jadi Lokasi Karantina

 

“Saya sebenarnya tidak diizinkan untuk narik dokar lagi oleh anak-anak saya. Tapi masalahnya anak-anak saya juga sudah dirumahkan. Kalau saya tidak kerja nanti makannya dari mana,” ujarnya.

 

Dia sendiri mulai beroperasi dari siang hingga sore. Wilayah mangkalnya pun biasanya di seputaran jalan Gajah Mada Denpasar dan juga di seputaran Lapangan Puputan Denpasar.

 

Jika mendapatkan penumpang, harga yang dia patok pun Rp50 ribu. Di usianya yang senja dia juga tetap menerapkan protokol kesehatan saat menarik dokar. 

 

Dia selalu menerapkan 3M, mencuci tangan, memakai masker dan selalu menjaga jarak. Tak lupa pula dia selalu mengingatkan penumpangnya untuk ikut menjaga Prokes.

 

“Harapannya semoga pandemi ini segera berakhir. Biar saya bisa bekerja seperti biasa lagi, ” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/